
"Selamat datang," ucapku dengan sopan pada pengunjung kafe. "Mau pesan apa kak? Ini menu yang tersedia disini," ujarku sambil meletakkan buku besar berisi menu aneka makanan dan minuman.
Pengunjung itu mengatakan sesuatu pada temannya, dan kemudian menoleh ke arahku. "Bolehkah kami melihat-lihat dulu?" tanya pengunjung itu.
"Ya tentu saja, silahkan kak lihat-lihat dulu aja, nanti bisa panggil kami kalo udah memilih pesanannya," ujarku dengan sopan dan pergi ke kasir meninggalkan mereka berdua yang sibuk membolak-balik buku menu kafe.
Aku sedang duduk di meja kasirku. Aku memperhatikan kerumunan orang yang lewat di depan kafeku. Suara mesin motor dan mobil terdengar sangat berisik, karena tembok Kafe ku tidak kedap suara.
Kedua mataku terpaku ketika ada mobil mewah berhenti di depan Kafeku. Aku melihat sosok lelaki membuka pintu mobilnya dengan hati-hati dan turun dari mobilnya. Dia mengenakan kaus berwarna merah dan celana pendek yang membuatnya tak terlihat seperti orang kaya.
__ADS_1
Lelaki itu adalah mantannya Sally, Ia tersenyum dengan manis memperlihatkan lesung pipinya. Senyuman itu Ia berikan pada Sally yang ikut muncul dari mobil mewahnya itu. Sally tersenyum bahagia sambil ngobrol dengan pria itu. Tawa yang begitu lepas keluar dari mulut Sally.
Aku menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan pikiran negatif ku yang mulai melantur kemana-mana. Aku kembali melihat mereka dari kursi kasirku ini. Sally terlihat sangat asyik sekali berbicara dengan pria itu. Dan aku melihat tatapan kedua mata mereka memiliki banyak arti. Apa mereka masih sama-sama suka? Atau hubungan mereka hanya sebatas teman saja? Ah sudahlah jangan berfikir yang aneh-aneh.
"Mas!! Mas!! Mas!!" pengunjung kafeku memanggilku berkali-kali dengan nada kesal.
"Oh iya sorry, ada apa mas?" tanyaku yang masih membayangkan Sally dan mantan pacarnya yang sedang asyik bercerita.
"Baik, segera saya buatkan, mohon tunggu sebentar yah," ucapku sambil tersenyum pada pengunjung tersebut.
__ADS_1
Setelah aku selesai memberikan pesanan pada pengunjung tersebut aku kembali melihat Sally yang masih asyik bercerita pada pria itu. Aku menarik nafas panjang saat melihatnya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadaku. Tapi di sisi lain, aku berfikir kalo aku merasa iri pada pria itu, karena kayaknya Dia memiliki rasa sayang yang hanya tertuju pada Sally.
Aku terkejut saat menyadari Sally yang mulai berjalan masuk ke sini. Aku tak mau tertangkap basah sedang memandanginya. Namun, tatapan tajam yang muncul dari kedua matanya membuat tubuhku terasa kaku. Segera aku mengambil kain lap yang berada di dekatku. Dan saat pintu terbuka aku segera berbalik badan dan berlagak sedang membersihkan meja.
Sally menatapku heran. Aku berusaha untuk tidak memperdulikannya. "Bukannya meja itu udah bersih yah? Terus ngapain di bersihin lagi?" tanya Sally dengan dahi mengkerut.
Aku menggerutu dalam hati, Dev!! Ngapain kamu bertindak begitu bodoh kayak gini? Aku tak berani mengangkat wajahku yang masih terlihat merah.
"Engga, tadi ada sedikit kotoran," jawabku dengan dingin sambil melanjutkan membersihkan meja itu dan tak berani menatapnya.
__ADS_1
"Bukannya mejanya udah bersih yah? Terus ngapain dibersihin lagi?" tanya Sally dengan dahi mengkerut. Gerakan tanganku untuk membersihkan meja itu terhenti seketika.