
Elisabeth islan, gadis manis dengan rambut sebahu dan wajah yang manis dan ceria kini sedang terbaring tidak berdaya diranjang rumah sakit. Kepalanya dibalut perban dan kakinya di gibs.
Sebulan telah berlalu sejak Elisabeth menjalani perawatan dalam kondisi koma. Dia tidak memiliki keluarga dan tinggal dipanti asuhan. Karena itu, selama perawatannya banyak anak-anak yang mengunjunginya dirumah sakit.
Hari itu, tampak pada malam hari. Mata Elisabeth yang telah tertutup rapat sejak lama bergerak dan perlahan terbuka.
Eli mengerjapkan matanya sesaat dan menatap palpon putih diatas kepalanya, lalu menatap dirinya sendiri yang memakai baju pasien. Pandangan Eli jatuh pada kakinya yang di gibs dan tergantung diudara dibantu oleh alat penyangga.
Untuk sesaat Eli tidak mengingat apa yang terjadi padanya. Ingatannya tentang malam itu perlahan-lahan kembali.
Saat melihat pemuda tampan dan lembut yang selama ini menjadi idolanya, dibantai dan ditusuk dengan sadis oleh seorang pria tua.
Mengingat hal itu, air mata perlahan-lahan mengalir deras dari mata kecil Eli. Sean bukan hanya sekedar idola baginya. namun karena keramahan Sean, Eli menjadi dekat dengannya dan menganggap Sean sebagai kakanya sendiri.
Hari itu seperti hari biasa. Tepat sebelum akhir pekan tiba Eli akan mengunjungi Sean dilaboratoriumnya di Universitas. Karena sekolah Eli dan Universitas Sean berjarak cukup dekat, dan masih dalam satu halaman yang sama, Eli bisa bebas keluar masuk Universitas.
Eli mengunjungi laboratorium Sean, namun tidak menemukannya disana. Eli berniat menunggu dilaboratorium Sean dan melihat-lihat hasil penelitian Sean. Disana terdapat banyak awetan hewan dan cairan-cairan dengan berbagai warna.
Eli mendekati cairan dengan warna hijau tua, dan tahu bahwa itu adalah racun. Pekan lalu, Sean menjelaskan tentang cairan itu pada Eli karena melihatnya sangat bersemangat untuk mengetahuinya.
Itu adalah racun yang bisa membuat seseorang tidak bisa bergerak, karena efeknya akan membekukan darah selama beberapa saat, racun itu merupakan cairan yang diekstak dari salah satu hewan beracun yang diteliti oleh Sean. Sean mengatakan pada Eli untuk tidak bermain-main dengan cairan itu, karena akan sangat berbahaya bagi dirinya.
Eli meninggalkan cairan itu dan mengamati cairan-cairan lain. Semakin banyak yang dilihat Eli semakin dia tidak sabar untuk belajar dengan Sean hari ini. Di sana juga terdapat beberapa penelitian Sean yang masih belum selesai, dan kertas-kertas yang berserakan diatas meja.
__ADS_1
Eli menggeleng pelan, Sean memang orang yang serakah akan ilmu pengetahuan...
***
Beberapa jam telah berlalu namun Sean tak kunjung datang ke laboratoriumnya.
“Di mana kak Sean? Seharusya dia sudah selesai sekarang” Eli menatap jam ditangannya yang menunjukkan pukul 15.30 namun Sean tidak datang juga.
Eli menatap laboratorium Sean dan melihat Sofa disudut dinding. Eli melangkah kesana dan membaringkan dirinya, dia memutuskan untuk tidur dan menunggu Sean disana.
Eli tahu bahwa Sean tidak akan kembali kerumahnya jika penelitiannya belum selesai. Karena itu tidak jauh dari laboratorium itu ada sebuah ruangan yang biasanya digunakan oleh Sean untuk istirahat. Pihak panti asuhan juga sudah tahu bahwa setiap akhir pekan Eli akan bersama Sean untuk ikut belajar dengannya, jadi mereka tidak perlu mengkhawatirkannya.
Tanpa sadar Eli tertidur hingga malam hari, dan terbangun saat sebuah suara pintu terbuka dengan keras terdengar. Eli tidak menghidupkan lampu disana sebelumnya karena saat dia tertidur hari masih siang dan sinar matahari cukup untuk menyinari ruangan itu, karena itu dalam kegelapan Eli tidak bisa melihat apa-apa.
Namun bukan itu yang menyita perhatian Eli melaingkan sebuah sayatan besar didada Sean, darah segar mengalir tiada henti dari luka itu.
Eli membelalakkan matanya ingin berteriak namun keterkejutannya membuat dia tidak bisa berkata-kata, dan hanya menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihanya.
Sean menuangkan alkohol dan membalut luka didadanya dengan perban. Eli melangkah kesana untuk membantu Sean, namun sebuah suara benda diseret tiba-tiba terdengar dari arah koridor lantai tempat Sean berada, saat berikutnya tiba-tiba Sean bersembunyi dibalik pintu dengan cepat.
Melihat ini Eli juga bersembunyi. Dia tahu jika Sean sampai harus bersembunyi seperti itu maka situasi yang sedang dihadapinya sangat berbahaya. ditambah luka ditubuh Sean, Eli tahu dia hanya akan merepotkan Sean jika pihak lain mengetahui keberadaannya. Karena itu dia bersembunyi dibalik sofa dan melihat kejadian itu dari jauh.
Cahaya diruangan itu sangat minim dan hanya menyinari sekitar area tempat Sean berada sebelumnya.
__ADS_1
Tiba-tiba orang lain memasuki ruangan diikuti dengan suara linggis yang bergesekan dengan lantai. Menghasilkan denting yang menggema dengan cara mengerikan ditengah malam.
Eli melihat seorang pria berjas hitam, ditangan kanannya terdapat linggis yang ujungnya dihiasi dengan warna merah yang masih basah.
Elisabeth membelalakkan matanya saat menyadari itu adalah darah yang tidak lain adalah darah Sean. Eli menatap pria itu dengan penuh amarah, karena telah melukai orang yang sudah Eli anggap sebagai keluarganya sendiri, tepatnya dia anggap sebagai kakaknya.
Pria itu terlihat mencari-cari sesuatu saat tiba-tiba Sean muncul dibelakangnya dan melayangkan besi pada kepala pria itu. Pria itu terhuyung namun masih tetap mempertahankan keseimbangannya agar tidak jatuh. Dia mengusap kepalanya dan melihat tangannya yang sekarang sudah berwarna merah, kepalanya berdarah!.
Eli merasa puas melihat itu, dan mengatakan dalam hatinya kenapa Sean tidak memukul pria itu lebih keras lagi, hingga kepalanya hancur!
Namun kepuasan Eli tidak bertahan lama dan berganti dengan kekhawatiran dan ketakutan saat melihat besi ditangan Sean sudah bengkok karena menghantam linggis yang notabenenya terbuat dari baja dengan bobot yang lebih berat dari besi yang dipegang Sean.
Sean melihat bahwa situasinya tidak menguntungkan dirinya dan membuang besi itu sebelum berbalik dan hendak berlari keluar dari sana, saat tiba-tiba benda hitam melayang dan menghantam punggungnya dengan keras.
Eli membelalakkan matanya dan seluruh tubuhnya bergetar hebat melihat linggis menembus tubuh Sean. darah mengalir keluar dari mulut Sean sebelum dirinya tumbang tidak berdaya dilantai.
Eli duduk bersandar pada dinding dibalik sofa. Tubuhnya bergetar hebat dan air matanya terus mengalir dari sana.
"Ka...kak Se..an.....ti...Ahh..." Eli ingin berteriak namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya kecuali gumaman kecil yang tidak jelas seakan dia tiba-tiba menjadi bisu. Dia dipenuhi dengan ketakutan dan amarah, saat mendengar pria yang membunuh Sean tertawa dengan keras, sebelum meninggalkan tempat itu.
___________
Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.
__ADS_1
Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇