Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 23 Elisabeth Islan 1


__ADS_3

Hemsworth membelalakkan matanya pada saat terakhirnya. Sampai akhir nyawanya dia masih tidak percaya akan mati ditangan gadis kecil yang tidak ada apa-apanya.


Setelah memastikan bahwa Hemsworth benar-benar mati, Elisabeth meninggalkan linggis yang masih tertancap ditubuh Hemsworth dan pergi dari sana.


Dia melalui koridor-koridor lantai lima dengan kaki terseret-seret meninggalkan jejak darah disepanjang jalan yang dilaluinya.


Ditengah malam digedung lantai lima, terdengar suara tangisan dari gadis kecil. Eli tidak bisa lagi menahan suaranya dan segera meledak dalam tangis yang memilukan. Dia ingin segera menemui Sean dan memeluk pemuda yang sudah memberinya kasih sayang seorang kakak.


Namun saat ini tenaganya tidak banyak lagi. ketika tubuhnya tumbang dan terbaring dilantai lima. Dia menyeret tubuhnya tidak ingin menyerah.


“Kak Sean…aku…aku minta maaf” air mata Eli mengalir dengan deras saat masih menyeret tubuhnya melalui koridor-koridor lantai lima. Dia menggunakan seluruh sisa tenaganya yang tersisa untuk melalui koridor, namun usahanya seperti mengumpulkan air diember yang bocor...tidak berguna.....


“Aku….tidak bisa menyelamatkanmu…bahkan saat aku melihat pria itu hendak membunuhmu….aku mita maaf…” suara Eli semakin lemah saat tubuhnya tidak sanggup bergerak lagi. Eli menatap keluar jendela lantai empat dan melihat cahaya bulan yang merembes masuk menyinari tubuhnya.


Dia menatap cahaya bulan malam itu, dan air matanya mengalir semakin deras.


Sebelumnya Eli sangat Senang akan bertemu Sean lagi, karena selama seminggu ini dia harus bersekolah dan baru memiliki waktu saat ini.


Tiba-tiba Sean terlintas dalam pikirannya. Sean yang tersenyum lembut membawa kehangatan bagi semua orang, Sean yang serius saat sedang melakukan eksperimen, Sean yang wajahnya hitam karena ledakan reaksi kimia yang dilakukannya, Sean yang memarahinya jika dia menyentuh barang yang berbahaya, Sean yang selalu mengajarinya, Sean yang membantunya menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Sean yang mengingatkannya untuk belajar dengan giat... Semua ingatannya tentang Sean yang memberinya kasih sayang seorang kakak laki-laki yang selalu diharapkannya.....


Eli tersenyum lemah sebelum dia kehilangan kesadarannya dan terbaring lemah didepan jendela lantai empat. Cahaya bulan membuat penampakan yang mengerikan pada gadis kecil yang manis yang ceria itu semakin jelas...


Malam itu, malam yang menjadi awal dari semua tragedy yang terjadi diuniversitas kesehatan X.


***

__ADS_1


Elisabeth Islan menenggelamkan wajahnya pada selimut rumah sakit saat merasakan sakit dihatinya. Dia merasa telah menjadi orang paling tidak berguna. Seharusnya saat itu dia membantu Sean daripada bersembunnyi.


Setidaknya Sean akan selamat dan baik-baik saja, walaupun pada akhirnya Sean akan marah padanya. Namun sekarang bahkan Eli merindukan Sean yang marah padanya.


Eli begitu menyesali perbuatannya sendiri. apa yang telah dia lakukan? kenapa bukan dia saja yang mati saat itu?..


Eli menutup wajahnya saat air matanya kembali mengalir. Sakit dihatinya tidak akan pernah dia lupakan, bagaimana sosok yang begitu dia sayangi meninggalkan dihadapannya dan dia hanya bisa diam dan menontonnya...


'Betapa bodohnya aku....'


“Kau sudah sadar?” seorang wanita dengan jas kedokteran memasuki ruangan Eli. Dia segera menghapus air mata diwajahnya dan menenangkan dirinya. Eli mengangguk dan tersenyum lembut pada dokter wanita itu.


“Apa kau merasa lebih baik? Tekanan jantungmu bagus dan semuanya normal” ucap dokter itu setelah memeriksa kondisi Eli.


“Kau tidak perlu khawatir, itu tidak permanen. Kau hanya harus selalu menjalani kemoterapi dan kakimu akan seperti sebelumnya lagi” ucap dokter itu menenangkan Eli. Eli mengangguk dan tersenyum padanya. Saat pintu tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita dengan seragam polisi memasuki kamarnya.


“Hai Elisabeth, kau sudah merasa lebih baik?” tanya polwan itu sambil melambaikan tangannya pada Eli.


Eli tersenyum dan mengangguk ringan. Eli sudah mengetahui bahwa polisi yang menemukannya dan membawanya kerumah sakit, sehingga dia bisa selamat sekarang.


Walaupun menyesal karena dia tidak bisa lagi bertemu dengan Sean, bagaimanapun juga Eli harus merasa bersyukur dengan kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padanya.


“Terima kasih bu polisi. Aku bisa selamat karena bantuan kalian” ucap Eli pada polwan itu, yang hanya mengangguk ringan dan mengatakan bahwa itu adalah tugas mereka sebagai polisi.


Polisi wanita itu menjelaskan pada Eli bahwa karena dia adalah satu-satunya saksi yang tersisa dari pembunuhan Sean dan Hemsworth, mereka harus mengintrogasinya. Walaupun secara hukum Eli masih dibawah umur, namun tidak ada orang lain lagi yang mengetahui kejadian itu selain Eli, setidaknya mereka mengetahui apa yang terjadi dibalik peristiwa ini.

__ADS_1


Eli megangguk dan wanita itu mengabari rekan-rekannya bahwa Eli siap untuk menjalani introgasi dari mereka.


Beberapa saat kemudian beberapa polisi tiba dirumah sakit, membuat rumah sakit sempat heboh. Mereka dengan cepat menuju keruangan dimana Eli dirawat.


Seorang polisi dengan banyak lencana tertempel dipakainnya mendekati Eli dan mengusap rambut gadis kecil itu. Dia menjelaskan bahwa Eli tidak boleh berbohong dengan apa yang akan dia ceritakan dan mengatakan yang sebenarnya. Eli mengangguk dan mengatakan bahwa dia akan mengatakan yang sejujurnya pada mereka.


Polisi itu kemudian mempersilahkan Eli untuk berbicara.


Eli menatap mereka sebelum menghela nafas berat dan menguatkan dirinya sendiri, dia mulai menjelaskan apa yang terjadi, mulai dari dimana dia tertidur hingga malam, Sean yang ditusuk dengan linggis, lalu dibuang dari atap gedung hingga dia yang berakhir dengan membunuh pria tua itu. yang sekarang dia ketahui merupakan salah satu investor Universitas kesehatan X. Eli sedikit terkejut mendengarnya, dia tidak mengetahui bahwa orang yang telah dia bunuh adalah ikan sebesar itu.


Mendengar penjelasan Eli para polisi yang mendengarnya merasa tidak percaya, gadis dihadapan mereka terlihat murni dan polos namun sekarang tangannya telah ternoda oleh darah. Mereka tidak bisa membayangkan gadis kecil dan mungil menusukkan besi pada pria yang jauh lebih besar darinya.


“Eli kau tidak mengarang cerita ini bukan?” tanya polwan tadi pada Eli, merasa tidak percaya dengan apa yang dia sampaikan.


“Aku tidak berbohong bu, jika kau tidak mempercayaiku aku punya buktinya. Kak Sean memiliki banyak Eksperimen dan aku tahu sebagian besar diantara mereka, kau bisa melihat bahwa racun yang sebelumnya ku gunakan masih tersisa disana. Dan kau bisa mencocokkannya dengan sampel racun yang memasuki tubuh pria tua itu. Aku tidak berbohong aku merasa sangat marah dan merasa harus membunuhnya dengan tanganku sendiri. sebelumnya aku merasa takut saat melakukan ini, tapi sekarang aku merasa lega mengetahui bahwa pria itu benar-benar telah tebunuh. Setidaknya kak Sean tidak sendiri disana.” Jelas Eli dengan mata berkaca-kaca, dengan wajah puas.


Polisi tidak percaya mendengar hal seperti itu dari mulut anak kecil. Dia merasa lega setelah melakukan pembunuhan? Apa gadis kecil didepan mereka ini psikopat?


Polisi berterima kasih atas pengakuan Eli dan pergi dari rumah sakit itu, meninggalkan Eli yang mulai menagis lagi.


_______________


**Bagi yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan like dan vote pada cerita ini. diharapkan untuk melike setiap chapter ceritanya.


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**

__ADS_1


__ADS_2