Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 47 Akhir Dari Tragedi [END]


__ADS_3

"Grahhh!!!" Bayangan hitam itu berteriak dan tampak panik saat mendengar perkataan Adolf, Membuat Adolf semakin yakin bahwa tebakannya benar.


Louis tidak berkata lebih lanjut dan hanya memuntahkan lebih banyak darah pada buku hitam bahkan sampai mencabut linggis dari tubuhnya dan mengalirkan darah dari lukanya kepada buku hitam tersebut.


"Ukhuk!! Ukhuk!!" Wajah Louis menjadi sangat pucat dan pandangannya mulai kabur karena kehilangan banyak darah dan lukanya juga tidak menutup.


Louis meraih korek api dan menyalakannya sebelum melemparnya kearah buku hitam.


Seketika api yang besar melahap buku hitam tersebut.


"Argh!!!!!" Teriakan bayangkan hitam menggema saat tubuhnya perlahan dilahap oleh api.


Laura yang sudah terlepas dari genggaman Bayangkan Hitam tersebut dengan cepat melangkah menjauh sosok itu, Dan membantu Louis yang sudah kehilangan kesadarannya sejak membakar buku hitam tadi.


Mereka membopong Louis dan melangkah meninggalkan Universitas Kesehatan X dengan teriakan kesakitan dari Bayangan Hitam memenuhi sudut Universitas Kesehatan X.


***


Pagi berikutnya. Rumah sakit.....


Louis terbaring kritis di ruang ICU. Tubuhnya dibalut perban, dan selang terdapat di seluruh tubuhnya.


Untungnya Adolf dan Laura tidak terlambat membawa Louis ke rumah sakit, Atau dia tidak akan selamat.


Diruang lain, Di tempat rawat inap. Adolf dan Laura juga terbaring dengan perban masing-masing di kepala, lengan dan tubuh mereka.


"....." Suasana hening menyelimuti ruangan dimana mereka berdua berada. Masing-masing dari mereka tidak bisa tidur karena apa yang mereka alami, Namun tidak ada yang mengatakan apapun.


Tiba-tiba terdengar isakan dari ranjang dimana Laura terbaring.


"....Aku tidak menyangka.... Kita akan kehilangan banyak teman...." Ucap Adolf memecah kesunyian. Mendengar itu suara tangisan Laura semakin terdengar.


"Aku bersyukur... Aku masih bisa selamat dari tragedi itu. Aku sempat berfikir aku tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi. Aku... Aku sangat bersyukur aku masih bisa hidup...uwuwuwuw" Ucap Laura ditengah isakannya.


Adolf hanya diam mendengarkan perkataan Laura. Dia juga bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup. Namun bagaimanapun juga melihat teman-temannya mati membuat Adolf diliputi rasa bersalah dan kesedihan, Dia ingin menangis namun air matanya menolak untuk keluar.


"Angela... Billy... Sean... Kuharap kalian akan tenang di sana" Gumam Adolf sambil menatap langit-langit rumah sakit, dan tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


***


Sejak kejadian tersebut. Universitas Kesehatan X dinyatakan telah ditutup, Semua jasad-jasad yang ditemukan di kubur di pemakaman umum.


Kejadian tersebut membuat semua orang merasa tidak percaya. Universitas yang selama ini selalu melahirkan bakat-bakat luar biasa telah dibasmi dalam satu malam saja.


Suara tangisan histeris dari para orang tua dan pihak keluarga dari mahasiswa maupun dosen terdengar dimana-mana. Sebagian dari pihak keluarga bahkan mengaku tidak menemukan anak mereka, Karena kondisi dari semua jazad yang ditemui tidak utuh. Sebagian kehilangan kepala, Tangan, Kaki dan semuanya memiliki kesamaan yaitu lubang besar ditubuh mereka.


"Hei! Ada seseorang yang tengah kritis disini!" Teriak seorang polisi saat melihat tubuh pemuda terbaring telungkup di tanah.

__ADS_1


Karena seluruh tubuhnya yang berwarna merah membuat polisi yang menemukannya mengira bahwa dia telah mati. Namun, saat melihat bahwa hanya dirinya sendiri yang masih dalam keadaan utuh, Polisi memeriksanya dan menemukan masih ada tanda-tanda kehidupan pada pemuda tersebut.


Segera mobil ambulance siaga dan melarikan pemuda itu kerumah sakit dan segera dirawat diruang ICU.


***


Seminggu kemudian. Louis sudah melewati masa kritisnya dan mulai sadar.


"Aku dan Laura akan mengunjungi makam teman-teman kita. Kalau kau masih belum merasa baik maka jangan memaksakan diri" Ucap Adolf yang melihat Louis bersikeras ingin mengikuti mereka.


"Tidak apa. Aku akan memesan kursi roda jadi aku tidak akan merasa lelah. Hanya saja aku harus merepotkanmu..." Ucap Louis dengan wajah memelas. Membuat Adolf dan lainnya tersenyum kecil.


"Baiklah, Baiklah. Biar aku yang mendorongmu, Jadi bersiaplah kita akan segera berangkat" Ucap Laura sambil meletakkan pakaian kasual Louis di tempat tidurnya.


***


Louis dan Lainnya menatap hamparan tanah pemakaman yang masih baru. Hampir atau mungkin ratusan kuburan baru terlihat di sepanjang mata memandang.


Tragedi ini jelas menelan banyak korban.


"Kami berdoa semoga kalian selalu tenang di alam sana" Ucap Laura sambil berdoa.


Louis tidak berkata apa-apa. Tatapannya kosong saat melihat pemandangan dihadapannya. Tanpa dia sadari air matanya mulai menetes.


Hal yang sama juga terjadi pada Adolf dan Laura. Mereka sama-sama tidak bisa menahan tangisnya.


"Ayo. Kita harus kembali" Ucap Laura memecahkan lamunan ketiganya. Langit sore yang indah berwarna merah bercampur orange menerangi seluruh sisi pemakaman tersebut.


***


Louis, Adolf dan Laura melanjutkan kuliah. Dan saat ini sedang magang disalah satu rumah sakit.


"Peserta Magang Louis Pasteur, Laura Kiehl, dan Adolf Melker. Pelatihan kalian akan segera dimulai" Ucap salah satu dokter yang berada dirumah sakit. Lalu menuntun Louis dan yang lainnya menuju sebuah ruangan.


Didalam ruangan itu sudah ada beberapa mahasiswa dari kampus lain yang juga tengah magang dirumah sakit tersebut.


"Baiklah. Sebelumnya silahkan perkenalkan nama kalian pada anggota-anggota magang lainnya" Kata dokter tersebut pada semua orang didalam ruangan.


Mereka segera bangkit satu persatu dan mengenalkan diri mereka sendiri.


Louis memperhatikan mereka dengan cermat karena berfikir kedepannya mereka semua adalah rekan. Namun pandangan Louis terhenti saat pandangannya tertuju pada pemuda yang bangkit dari duduknya dan maju untuk memperkenalkan diri.


Mata Louis terbelalak dan tidak percaya melihat sosok yang kini berada didepannya.


Pemuda itu memiliki wajah tampan dan senyum hangat tercetak di bibirnya.


"Perkenalkan Nama Saya. Sean Kingston dari Universitas Kesehatan S. Saya berharap kerjasama dari kalian semua" Ucap pemuda tersebut saat mengenalkan namanya.

__ADS_1


Laura, Louis dan Adolf sama-sama terkejut saat mendengar nama itu. Mereka menatap pemuda yang berada dihadapan mereka.


"Apa dia berkata... Sean Kingston?" Tanya Adolf, yangng dibalas anggukan dari Laura.


Sementara Louis masih terpaku. Bukan karena nama mereka yang sama, Namun karena mereka memang orang yang sama.


Perbedaannya. Sean ini sudah tidak memiliki mata yang merah. Namun yang membuat Louis yakin itu adalah Sean yang dia kenal, Karena wajahnya yang sebelumnya sangat mirip dengan wajah Willy. Anak yang selama ini menampung jiwa Sean.


"Jadi Kau selamat yah?... Syukurlah...." Gumam Louis sambil tersenyum.


***


Sean berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil sesekali menyapa para perawat dan pasien sambil tersenyum manis.


"Dokter muda itu sangat tampan"


"Yah. Dia terlihat sangat baik"


Bisik para pasien dan perawat saat membalas sapaan Sean.


Sean memasuki Kamar mandi dan membasuh mukanya dengan air. Saat tanpa sengaja sesuatu terjatuh dari matanya.


"Ah... Lensanya jatuh yah?..." Gumamnya saat melihat lensa hitam jatuh kedalam wastafel.


Sean menatap dirinya dicermin. Memperlihatkan wajah tampan dan manis dengan mata sebelah kiri berwarna merah darah.


"Sean Kingston yah....." Ucap Sean sambil menatap bayangannya sendiri dicermin sebelum tersenyum lembut sebelumnya meninggalkan kamar mandi.


***


Louis dan Lainnya sedang dalam perjalanan ke makam teman-temannya saat langkahnya terhenti dan menatap seorang pemuda yang berdiri tegak didepan mereka. Karena pemuda itu menghadap kearah pemakaman sehingga mereka berempat hanya bisa melihat punggung tegak pemuda tersebut.


Seakan menyadari kedatangan Louis dan lainnya, Pemuda itu berbalik menampakkan wajah tampan dengan senyum hangat.


"Hai teman-teman... Lama tidak bertemu..."


 


\-**END\-


 


____________


Ye!!! Akhirnya novel ini selesai. Semoga kalian semua suka dengan ceritanya.


Terima kasih kepada kalian yang selalu mengikuti cerita ini hingga sekarang. Author sangat berterimakasih atas partisipasi dari kalian.

__ADS_1


Terima kasih🙏🙏🙏


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian karena dukungan dari kalian begitu berarti 🙏**


__ADS_2