Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 41 Malam Berdarah 1


__ADS_3

Sean berjalan menyusuri Gedung utama lantai satu dengan ponselnya sebagai penerang.


"Sebenarnya dimana pusat kendali ini? Dalam denah kampus mengatakan itu ada di lantai satu. Tapi aku sudah mencari seluruh gedung dan tidak menemukannya. Apa denah itu salah?" Tanya Sean sambil terus memasuki setiap ruangan. Langkahnya tiba-tiba terhenti disebuah pintu ruangan yang sudah sedikit berkarat.


"Apa mungkin disini? Tapi pintunya terlihat tidak terurus.." Sean memasuki ruangan yang ternyata tidak terkunci. Benar saja pusat kendali berada diruangan itu.


"Pantas saja ini rusak. Aparat disini sama sekali tidak merawatnya.." Umpat Sean karena melihat ruangan itu penuh debu dan banyak sarang laba-laba menghiasi dindingnya.


Sean berjalan mendekati kilometer dan mencari apa masalahnya.


"Hm... Apa ini disengaja? Aku tidak menemukan kesalahan apapun disini" Sean bertanya-tanya. Semuanya baik-baik saja namun saklar pengendali yang mengendalikan listrik terlihat pada tombol 'OFF'. Sangat mungkin jika ini sengaja dimatikan.


"Apa mungkin ini jebakan?..." Sean berfikir Hemsworth mungkin sengaja mematikan listrik untuk menarik perhatian Sean namun melihat situasi sekarang sepertinya itu bukan hal yang Sean inginkan.


Perasaan Sean tiba-tiba menjadi tidak enak. Jika memang Hemsworth mencoba menarik perhatian Sean mengapa dia belum muncul juga hingga sekarang?


Saat masih tengah merenungi apa yang terjadi saat tiba-tiba cahaya ponsel Sean mati.


"Ahh...Apa yang terjadi?" Sean mengetuk-ngetuk ponselnya danmencoab menghidupkannya namun tetap saja tidak ada yang terjadi "Sial! Aku lupa mengisi dayanya semalam... Ah~ Bagaimana sekarang?" Ruangan dimana Sean berada segera jatuh dalam kegelapan. Sean meraba-raba sekitarnya.


Sean merasa sepertinya dia melihat korek api diruangan ini sebelumnya. Sean terus meraba hingga tangannya menyentuh korek api yang dia cari. Dengan cepat Sean menghidupkan korek api dan mengatur volume apinya hingga ke titik tertinggi.


Sean kembali berjalan dan menghidupkan setiap saklar. Seketika itu juga satu-persatu gedung menjadi terang kembali.


"Hah... Akhirnya hidup juga" Keluh Sean. "Aku harus kembali sekarang..."


***


"Cepat turun! Jangan melihat kebelakang!" Louis mengarahkan semua temannya untuk meninggalkan lantai tiga secepatnya saat suara linggis yang diseret memasuki pendengarannya. Louis menunggu hingga semua temannya telah turun dan juga mengikuti mereka dari belakang, berjaga-jaga jika Hemsworth tiba-tiba muncul.


Para mahasiswa bergerak cepat dan meninggalkan lantai tiga. Namun saat mereka tiba dilantai dua, Sesuatu terjadi....


"AAaahhhh!!!!" Seorang pria yang memimpin rombongan para mahasiswa tiba-tiba terangkat diudara sambil memegangi lehernya.

__ADS_1


"Andy!!" Seorang wanita yang melihat Andy seperti itu ingin segera menolongnya.


"Berhenti!!" Laura, Adolf, Billy yang berada didepan langsung memerintahkan untuk berhenti.


Louis yang berada dibarisan paling belakang membelalakkan matanya karena terkejut dengan pemandangan itu.


"Menjauh dari sana!!" Teriak Louis membuat suasana rombongan itu menjadi berantakan. Semua orang tiba-tiba berlari keberbagai arah.


"Andy!! Tidak Andy.." Gadis itu tidak bergerak dari tempatnya dan hanya berteriak histeris pada pemuda yang namanya Andy. Mungkin mereka memiliki hubungan tertentu.


Adofl yang melihatnya serasa ingin mengumpat namun menahan dirinya dan menarik gadis itu dengan paksa.


"Tidak. Andy!!"


"Apa kau ingin mati bodoh!!" Teriak Adolf pada gadis itu yang malah semakin membuat gadis itu menangis.


"Dia kakakku!! Aku tidak bisa__"


"Kalau kenapa? Kau pikir kakakmu ingin kau ikut mati!!" Adofl menarik gadis itu dnegan susah payah dan mengikuti teman-teman yang lain kesisi lain koridor.


Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Laura Adolf dan Billy bersama dengan kelompok yang berada dilantai dua sementara Louis berada dikelompok lantai tiga.


"Dimana Louis??" Tanya Billy yang tidak melihat Louis di rombongan mereka.


Adolf dan Laura juga melihat sekeliling dan tidak melihat sosok Louis juga.


"Dia pasti bersama dengan teman-teman yang lain" Jelas Adolf menenangkan Billy. "Yang terpenting sekarang kita harus bersembunyi dari sosok hitam itu" Adolf mengarahkan mereka untuk segera mencari tempat bersembunyi.


"Argh!!!" Langkah Adolf dan yang lainnya terhenti saat mendengar suara itu. Mereka saling menatap dan beberapa bahkan menangis karena tidak tahan lagi.


***


Louis dan teman-teman yang berada dilantai tiga bersembunyi di ruangan terdekat.

__ADS_1


"Argh!!!"


Louis dan lainnya saling bertatapan saat mendengar suara itu. Tanpa ditanya pun mereka sudah tahu apa yang terjadi pada Andy. Semua orang menangis ditempat mereka. Bahkan mata Louis juga berkaca-kaca. Jika dibilang tidak sedih maka Louis akan membohongi perasaannya sendiri. Walaupun dia tidak begitu dekat dengan teman-teman sekelasnya namun tetap saja mereka masih temannya, melihat salah satu dari mereka mati didepan matanya membuat Louis semakin marah bercampur sedih.


Srekkk.... Srekkk.....Srekkkk


Semua mahasiswa diruangan itu segera menghentikan tanagisan mereka menyisakan suara isakan tertahan.


Louis mengintip dari celah pintu dan bisa melihat Hemsworth yang menaiki tangga perlahan-lahan sambil menyeret linggisnya yang sekarang bernoda darah. Linggisnya meninggalkan jejak merah dilantai menandakan bahwa darah itu masih baru.


Louis mengepalkan tangannya melihat ini.


"Jordan dengarkan aku" Ucap Louis pada pria muda yang dikenal sebagai Jordan. "Aku akan mencoba menarik siapapun yang ada diluar sana. Saat itu tiba aku ingin kau membawa semua teman-teman kita kelantai dua, bergabunglah dnegan yang lainnya dan segera menuju ke gedung utama kampus untuk bertemu Sean. Aku tidak tahu apakah kita akan selamat , Tapi..... Jika aku tidak kembali maka aku ingin kau mengatakan pada Sean. Aku minta maaf.."


"Jangan mengatakan hal bodoh. Kita semua akan keluar bersama dari sini" Jordan menepuk pundak Louis. "Aku akan memberi tahu mereka yang ada dilantai dua tentang rencana kita. Aku akan mengalihkan perhatian bersamamu dan sisanya akan turun. Lagi pula masih ada banyak empat laki-laki disini mereka pasti bisa mengurusnya. Dan juga..... Tidak baik menanggung semua masalah sendiri" Louis menatap Jordan sesaat. Entah kenapa Louis tiba-tiba teringat Sean.


Louis hanya tersenyum dan menatap Jordan yang mengangguk pada keempat pemuda yang tersisa dikelompok mereka dan segera dibalas anggukan oleh pihak lain, tanda mereka setuju dengan rencana ini.


Untung saja jumlah mereka yang melarikan diri kelantai tiga tidak begitu banyak dan didominasi oleh laki-laki dan empat orang sisanya adalah perempuan.


Mereka akhirnya setuju dengan rencana Louis. Mereka yang berada dilantai dua juga sudah menyetujuinya dan mengatakan mereka akan menunggu dan bersama akan ke gedung utama.


Louis dan Jordan meraih bangku lipat dan mematahkan dudukannya dan hanya mengambil sandarannya sebagai pemukul.


"Kalian bersiaplah" Ucap Louis saat suara seretan Linggis semakin dekat.


Saat suara itu berhenti tepat di depan ruangan mereka, membuat suasana jatuh dalam keheningan. Louis memberi tanda dengan jarinya.


Satu.....


Dua....


Tiga.....

__ADS_1


__________


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian karena dukungan dari kalian begitu berarti 🙏


__ADS_2