Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 44 Menyelamatkan Diri 1


__ADS_3

"Apa kau berpikir ini dilakukan oleh manusia?" Louis segera menatap pria itu dengan mata tajam. "Aku pernah berhadapan dengan dengannya sebelumnya dan seluruh tubuhnya sudah hancur bahkan kepalanya sudah beberapa kali terpisah karena pukulan ku, dan terakhir kali dia malah menghilang begitu saja. Apa kau masih berfikir itu manusia?"


Penjelasan Louis membuat semua orang memandangnya tidak percaya.


Siapa yang mau menghadapi sosok yang 'seluruh tubuhnya hancur bahkan kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya dan dia bisa datang dan pergi begitu saja?'


***


"Tapi diluar sangat berbahaya... Kau tahu sendiri kan?..." Ucap mereka dengan wajah ketakutan.


"Itulah konsekuensi yang aku katakan. Bagaimanapun kita harus menghadapinya, Ini satu-satunya cara agar kita bisa selamat.... Jika kalian masih ingin hidup maka ini adalah waktunya untuk pergi dan menghadapi semuanya..." Ucap Sean yang langsung meraih pemukul bisbol diruangan tersebut.


Semua orang menatap Sean kemudian saling melirik orang disampingnya dan mengangguk setuju. Satu persatu mereka mengambil pemukul atau apapun yang bisa dijadikan untuk melindungi diri mereka.


"Bahkan jika kemungkinan cara ini berhasil hanya satu persen, Kita tetap harus mencobanya" Ucap Jordan saat meraih tongkat bisbol lainnya.


"Hm. Kita tidak bisa mati begitu saja tanpa melawan sedikit pun"


Mereka yang mendengarkannya hanya mengangguk setuju.


Kita akan berjuang hingga akhir.... Selama masih ada harapan maka akan selalu ada jalan untuk mengatasi masalah apapun itu...


***


Beberapa saat berlalu sebelum semua orang kembali berkumpul dengan berbagai macam alat ditangan mereka.


"Jangan coba menghadapi semuanya sendiri, Pastikan untuk melindungi teman-teman kalian dan aku harap saat kita diluar gerbang nanti semua orang masih hidup. Jadi.... Kumohon bertahanlah sampai akhir..." Ucap Louis pada mereka semua namun pandangannya menatap kearah Sean.


"Aku mengerti..." Sean hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Louis.


Tentu saja yang disinggung untuk 'tidak menghadapi semuanya sendiri' adalah Sean. Louis sudah melihat semua masa lalu Sean dan tahu betul sifatnya yang ceroboh dan lebih suka menanggung semuanya sendiri jadi dia memang harus diperingatkan.


Mereka semua saling menatap satu sama lain.


"Bersiaplah.." Ucap Sean yang memimpin dibarisan depan. Sean berjalan kearah pintu dan mengintip dari celah.


Koridor yang gelap dan sunyi segera menyambut pandangan Sean. Dia menatap beberapa saat memastikan tidak ada apapun disana.


"Bagaimana? Apa kau melihat sesuatu?" Bisik Louis di samping Sean dan segera dibalas anggukan darinya.


"Tidak ada apa-apa, Kita keluar sekarang...." Ucap Sean sebelum membuka pintu dengan perlahan.


Mereka segera keluar dari ruangan tersebut sambil terus berjaga-jaga. Menatap sekeliling dan memastikan semua aman terkendali.

__ADS_1


"Perhatikan sekitar kalian dan tetap waspada" Ucap Sean. Walaupun dibilang susana terlihat aman namun entah mengapa perasaan Sean tidak enak. Rasanya sesuatu yang buruk sedang menanti mereka dan menunggu untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah Sean bayangkan.....


***


"Khe, Khe, Khe... Serangga-serangga kecilku sudah muncul. Akhirnya lelah bersembunyi?....." Tawa Hemsworth menatap Sean dan lainnya dari atas atap gedung tua.


"Baiklah, Mari kita bersenang-senang dulu... Baru semuanya akan menjadi semakin menarik... Khe Khe Khe"


***


"Sial hujan ini mirip seperti darah!!"


"Eukhh~ Menjijikkan"


Keluh para mahasiswa yang mencium bau amis perlahan-lahan keluar dari tubuh mereka diakibatkan terlalu lama berada dibawah hujan darah.


"Jangan mengeluh. Kita sudah hampir sampai di pintu gerbang. Kalian berusahalah!" Teriak Sean ditengah guyuran hujan darah.


Air hujan ini sangat aneh, Selain baunya yang seperti darah, Air hujan ini juga membuat mereka menjadi lelah lebih cepat dadi seharusnya.


"Ayo!"


"Akhirnya kita akan selamat"


"Kita akan segera keluar dari tempat terkutuk ini!"


"Akhirnya kita bisa sela____ Akh!!"


"Akh!"


"Akh!"


"Akh!"


"Apa yang...."


Satu persatu mahasiswa Universitas Kesehatan X berteriak dan mengeluarkan darah dari mulut mereka sebelum tumbang ke tanah.


"Ini...." Sean menatap tangan-tangan hitam yang muncul dari dalam tanah dan menusuk tepat pada jantung orang yang terdekat dengannya.


"Jangan diam saja!! Ini saatnya untuk melawan!!" Sean mengangkat pemukul bisbol dan bergerak cepat ke tangan-tangan yang muncul dari dalam tanah.


"Sial! Mereka sangat banyak!!" Louis masih mengurus satu tangan yang terus mencoba menangkapnya.

__ADS_1


"Tangan-tangan ini membuatku jengkel!" Teriak Laura yang terus memukuli tangan-tangan yang mengincarnya


"Tidak! Akh!!"


"Billy!!" Teriak Adolf dan Louis bersamaan saat tangan hitam menembus tubuh Billy.


"Tidak! Billy..... Jangan seperti ini... Billy!!" Adolf menangis saat melihat Billy terus memuntahkan darah dari mulutnya.


"Billy bertahanlah!!" Louis juga ingin segera membantu Billy namun satu-persatu tangan hitam muncul dari dalam tanah dan menyibukkannya.


"Sialan jangan menghalangiku!!" Louis sangat marah sehingga menyerang dengan ganas, Namun semakin Louis memukul maka semakin banyak pula tangan yang muncul membuat Louis terbakar kemarahan.


"Maafkan aku teman-teman. Aku ukh! Aku selalu saja menyusahkan kalian.. Ukh! Aku benar-benar tidak berguna....."


"Tidak Billy. Itulah gunanya teman. Jika kau mati maka.... Maka siapa yang akan mengambil gelar penakut itu? Kau tahu aku tidak mau kan? Bily kumohon bangunlah. Billy~" Adolf menangis sejadi-jadinya saat melihat tidak ada respon apapun dari Billy.


"Billy!! Sebenarnya siapa yang____" Teriakan kemarahan Adolf terhenti saat percikan darah mengenai wajahnya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat pemandangan dimana teman-temannya dibantai.


"Akh!!"


"Akh!!"


Satu-persatu tubuh mahasiswa tertembus kuku hitam karena tidak sanggup bertahan lagi. Hujan yang deras dan aneh ditambah dengan tangan hitam yang muncul tiada habisnya membuat mereka sekali lagi jatuh dalam keputusasaan.


"Sialan! Padahal aku sudah berfikir akan selamat.... Ukhuk!!" Jordan menatap semua teman-temannya yang meninggal dengan lubang di dada mereka.


"Jordan!! Bertahanlah!!" Louis mendekati Jordan dan memukuli tangan hitam yang masih berada di dalam dadanya hingga putus.


"Hahaha.... Mungkin aku memang harus mati disini... Ukhuk!" Jordan terus menerus memuntahkan darah dari mulutnya.


"Maafkan aku teman-teman kalian harus berjuang sendiri.... Tapi pengalaman ini cukup menyenangkan... Haha__"


"Menyenangkan ayahmu!!! Jika itu menyenangkan maka jangan mati!! Bangunlah dan___ Eh, Jordan!!!" Louis terlempar beberapa centi saat Jordan mendorongnya kesamping namun saat itu juga sekali lagi tubuh Jordan tertusum tangan hitam.


"Tidak!! Ini semua karena Hemsworth sialan itu!!" Louis menghantam udara dibelakangnya saat merasakan tangan hitam berniat menusuknya dari belakang.


"Laura!" Sean mendekati Laura saat tangan hitam mengincar dirinya. Untung saja Laura memiliki reaksi yang cepat dan bisa menghindarinya, Namun tetap saja kuku itu lebih cepat dan hasilnya luka dalam muncul di lengan kiri Laura.


"Ukh! Tangan-tangan ini tidak ada habisnya" Laura masih terus memukul tangan yang mendekatinya dengan sekuat tenaga. Karena lahir dalam keluarga kaya. Laura cukup bisa diandalkan jika soal bela diri, sehingga hal seperti ini masih bisa dia lawan.


Namun bukan berarti mereka semua bisa mengatasinya. Karena banyaknya tangan disekitar mereka sehingga tinggal menunggu waktu saja hingga mereka di bunuh juga.


"Berkumpul! Jangan menghadapinya sendirian. Kota harus berkerja sama!" Ucap Sean yang segera mereka berkumpul dan bersama melawan tangan-tangan misterius tersebut.

__ADS_1


_______________


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian karena dukungan dari kalian begitu berarti 🙏


__ADS_2