Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 35 Terjebak 1


__ADS_3

Seluruh mahasiswa Universitas kesehatan X kembali memasuki kelas mereka. hujan yang sangat deras dan petir yang menggelegar membuat suasana Universitas kesehatan X terlihat sangat menyeramkan.


'Trit'! Trit! Trit!'


"Apa yang terjadi?"


"Ahh! Kenapa lampunya tiba-tiba mati?"


"Tenanglah itu pasti karena badai hujan yang terjadi. Petir begitu keras hingga pohon besar pun bisa tumbang. Jadi tidak heran kalau listriknya padam" Ucap Sean yang melihat teman-temannya mulai panik.


Sebelumnya pembunuhan, Lalu badai dan Listrik yang padam. Semua kejadian ini membuat siapapun akan menjadi panik dan takut.


Satu persatu mahasiswa mulai merasa tenang karena penjelasan dari Sean.


"Sebaiknya kalian semua duduk ditempat dan tidak bergerak. Aku hanya takut kalian saling menginjak atau apapun itu yang bisa membahayakan kalian, Jadi tolong tenanglah dan duduk ditempat kalian sampai Lampunya kembali menyala" Louis juga ikut menenangkan teman-teman mereka dan memerintahkan untuk tetap diam ditempat mereka hingga lampu bisa menyala kembali. Louis berfikir ini tidak akan lama dan semuanya akan membaik.


"Lo.. Louis~ Jangan jauh-jauh dariku. Aku sangat takut, Ini sangat gelap. Aku tidak melihat apapun" Billy memeluk lengan Louis dengan erat. Bulu kuduknya merinding dan suasana hatinya sangat buruk. Billy paling benci dengan kegelapan, Itu selalu membuat Billy merasa sedang diteror dan akan dibunuh kapan saja. Billy sudah melihat banyak film yang seperti ini. Rata-rata mereka yang mati akan dibunuh saat lampu sedang mati.


Memikirkannya saja sudah membuat Billy gemetar ketakutan. Bagaimana jika ini semua terjadi?


Louis dan Adolf yang mendengarkannya hanya memutar mata mereka dengan malas. Billy selalu seperti ini. Kapan dia akan sadar kalau dia sudah dewasa? Dan tidak bersikap kekanak-kanakan lagi? Hah...


Bisakah dia tidak terobsesi dengan film?!!


Laura yang juga mendengarkan hanya tertawa kecil dengan tindakan Billy. Berpikir bahwa Billy benar-benar tuan muda yang manja.


"Aku akan mengecek kilometer listrik sekolah dulu. Mungkin saja ada masalah disana" Ucap Sean yang langsung di angguki oleh semuanya.


"Apakah kau perlu bantuan?" Tanya Louis pada Sean yang langsung menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kau tidak pergi sendiri. Diluar sangat gelap dan jika sesuatu terjadi tidak ada yang bisa membantumu. Sebaiknya kami ikut denganmu" Laura berkata dengan wajah khawatir.


Sean tersenyum kecil melihatnya "Tidak perlu. Itu hanya memeriksa kilometer, bukan sesuatu yang berbahaya kan? Jangan khawatir tidak ada yang akan memakanku. Lagi pula aku tidak punya cukup daging untuk mereka makan" Sean menenangkan Laura dan lainnya dan mengatakan dia baik-baik saja.


Laura masih ingin protes namun Louis langsung menepuk bahunya ringan. Dan mengatakan bahwa Sean bukan anak kecil, dia tidak selemah itu dan bisa menjaga dirinya sendiri.


Mendengar itu Laura hanya bisa menghembuskan nafas berat dan mengangguk ringan.

__ADS_1


"Baiklah. Hubungi aku jika kau memerlukan bantuan disana" Ucap Louis setelah menenangkan Laura dan menepuk bahu Sean.


"Aku tahu. Aku akan pergi sekarang" Sean tertawa kecil dan melangkah pergi dari sana.


Louis menatap kepergian Sean dengan wajah khawatir. Louis tidak bodoh, Dia tahu bahwa Sean hanya mencari alasan untuk pergi dari sana dan bisa menghadapi semua masalahnya sendiri.


Louis juga tahu. Badai hujan yang terjadi tidak normal dan Louis memiliki firasat buruk dihatinya.


"Aku harap ini bukan jebakan dari Hemsworth...." Gumam Louis dalam hati dan ikut duduk ditengah ruangan kelas yang telah dibersihkan dan bangku-bangku diletakkan disisi pinggir dinding kelas sehingga ada ruang kosong ditengah kelas yang digunakan oleh mahasiswa berkumpul sampai waktunya lampu menyala kembali.


***


Sean berjalan menyusuri koridor kampus ditengah kegelapan dengan lampu senter ponselnya sebagai pencahayaan.


"Bagaimana aku tahu dimana pusat kendali listrik berada?" Sean menggaruk kepalanya heran, dan menyadari kebodohannya. Dia baru masuk ke universitas kesehatan X selama beberapa bulan ini. Dan dimasa lalunya juga Universitas kesehatan X tidak seluas dan sebesar ini. Jadi Tidak heran Sean tidak tahu dimana pusat kendali listrik berada.


Sean terus berjalan dan berfikir bahwa mungkin dia akan mendapatkan sesuatu jika dia bertanya kepada dosen. Bagaimanapun juga mereka lebih lama berada disini dibandingkan dengan Sean.


Sean berjalan ke koridor dimana ruang guru berada dan berhenti disebuah pintu ruangan dengan karakter 'Ruang pusat tata usaha' tertulis didepannya.


"Tok! Tok! Tok!"


Sean mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam.


"Tok! Tok! Tok"


Sean kembali mengetuk pintu namun masih tidak ada jawaban dari dalam ruangan, membuat Sean menjadi heran.


"Apakah tidak ada orang didalam?" Sean bertanya-tanya dan memegang kenop pintu dan menemukan bahwa itu sama sekali tidak terkunci.


"Permisi...." Ucap Sean dengan suara rendah hampir berbisik saat membuka ruangan pusat tata usaha.


Sean langsung disambut dengan kegelapan di seluruh ruangan. Sean bahkan tidak bisa melihat tangannya sendiri.


Sean mengarahkan senter ponselnya ke seluruh ruangan mencari apa ada seseorang disana. Sean melihat tumpukan buku-buku dan kertas-kertas ujian diatas hampir di setiap meja. beberapa bahkan terlihat memenuhi lantai, atau memang sengaja ditempatkan disana karena meja yang mereka gunakan sudah penuh dan sesak.


"Halo, Apa ada orang disini?" Sean memanggil-manggil beberapa saat namun masih saja tidak ada jawaban. Mungkin memang tidak ada seorangpun di ruangan ini.

__ADS_1


Sean mulai bingung. Bagaimana dia akan tahu dimana pusat kendali listrik Universitas jika dia tidak bertanya?


Sean berfikir beberapa saat sebelum teringat akan Louis. Louis merupakan keturunan dari salah satu investor yang menyumbang banyak pada Universitas kesehatan X, Jadi mungkin saja Louis tahu dimana letak dari pusat kendali listrik Universitas ini.


Sean mencari nomor kontak Louis dan segera menghubunginya.


"Halo Sean. Ada apa? Apakah sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Louis dari beluk telpon.


"Yah. Sesuatu yang sangat buruk sekarang" Ucap Sean dengan suara penuh penyesalan.


"Apa?! Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau masih bisa bergerak? ...Hei apa kau mendengar suaraku? Sean?..." Suara Louis terdengar sangat panik. Laura, Adolf dan Billy yang mendengarkannya juga langsung memasang wajah khawatir.


"Katakan sekarang kau berada dimana? Biar aku datang dan membantumu" Saran Louis pada Sean.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Laura diikuti dengan tatapan mengharap jawaban dari Adolf dan Billy.


"Entahlah. Sean tidak mengatakan apapun..."


"Apa yang kalian pikirkan?" Suara Sean datang dari ponsel Louis membuat semuanya merasa sedikit lega.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Louis lagi.


"Yah. Aku sangat baik sekarang" Ucap Sean santai.


Louis dan lainnya yang mendengarkannya saling menatap dengan heran.


"Lalu, Yang kau katakan sebelumnya 'Masalah besar'??" Tanya Louis heran.


"Begini.... Aku... Aku tidak tahu dimana letak dari pusat kendali listrik dikampus ini. Apakah kau mengetahuinya?" Tanya Sean pada Louis.


Louis, Adolf, Billy dan Laura "......._-"


___________


**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**

__ADS_1


__ADS_2