Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 24 Elisabeth Islan 2


__ADS_3

Para polisi tidak bisa menangkap Eli karena pembunuhan yang dilakukannya mengingat dia masih dibawah umur, namun karena kasus yang dia lakukan itu, dia harus diawasi setiap saat. Eli tidak mengkhawatirkan ini bahkan tidak memikirkannya, dia membiarkan para polisi melaksanakan tugas mereka dan dia juga menjalani hari-harinya kembali.


***


Selama dua tahun, Eli tidak masuk sekolah karena menjalani pengawasan ketat dari polisi.


Hari itu dia kembali memasuki sekolah menengah dan harus kembali mengulang dari kelas awal. Dia sudah dibebaskan kembali dan menjalani aktifitas normalnya.


Berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Eli tidak menyebar kelingkungan sekolah menengah dan hanya diketahui oleh beberapa dosen yang berhubungan dengan korban dan itu juga bisa dihitung dengan jari, jadi tidak ada keanehan yang terjadi di sekolahnya. yang mereka tahu Eli tidak masuk sekolah karena kecelakaan dan harus mengulang kelas lagi. Namun karena Eli merupakan siswa yang pintar dan cepat belajar, dia melangkahi kelas duanya dan langsung kekelas tiga. itu pun dikelas satu hanya beberapa bulan karena pelajaran yang disampaikan guru sudah dia ketahui, bahkan bisa dibilang Eli lebih banyak tahu daripada mereka karena orang yang mengajari Eli sebelumnya merupakan mahasiswa yang seharusnya sudah menjadi profesor karena kejeniusannya.


Hari-hari Eli sangat baik seperti sebelumnya, namun tidak ada lagi senyum diwajah ceria dan lembut gadis itu. Bahkan dihari ulang tahunnya dia hanya tersenyum beberapa kali dan senyumnya bahkan lebih terlihat seperti orang yang penuh kesedihan bukannya kebahagiaan.


Keadaaan Eli semakin parah selama seminggu berikutnya, rambutnya sedikit memutih dan terdapat kantung hitam dibawah matanya. Setiap hari dia harus meminum obat tidur untuk menenangkan dirinya. Karena setiap kali dia tertidur ingatannya dimana Sean mati kembali menghantui pikirannya.


Para guru telah memperingatkan Eli untuk istirahat dengan baik dan mengatakan agar Eli kerumah sakit untuk berobat. Namun Eli hanya mengatakan dia baik-baik saja dan hanya butuh ketenangan sekarang. Dan mereka tidak lagi memaksanya.


***


Sebulan telah berlalu sejak pertama kali Eli memasuki sekolah menegah untuk yag kedua kalinya. selama sebulan terakhir tidak ada sesuatu yang berarti terjadi dalam hidupnya dan semuanya bisa dibilang baik-baik saja.


Pekan ini merupakan saat dimana dia biasanya akan bertemu dengan Sean namun orang itu sudah tidak ada lagi sekarang. Sebulan ini Eli sama sekali tidak memasuki universitas karena takut dirinya tidak akan tahan.


Eli berjalan keluar dari kelasnya dan berjalan tanpa arah. Sore itu hujan turun sangat lebat membasahi seluruh tubuh Eli saat dia diam-diam menangis namun air matanya menyatu dengan air hujan. Tanpa dia sadari hari sudah malam dan dia tersadar saat menemukan dirinya bukan berada dijalanan lagi, melaingkan didepan sebuah gedung lima lantai dengan garis polisi yang mengelilinginya.


Perhatian Eli teralihkan pada gedung itu, dan menatap kearah atap. Bayangan tentang Sean yang jatuh dari atas sana dan menimpa lantai dengan keras melintas dibenaknya. Eli menangis dan meraung dengan keras, suaranya yang memilukan teredam oleh suara hujan yang deras.


Eli berjalan memasuki gedung yang gelap itu. berjalan menyusuri koridor-koridor digedung dengan cahaya bulan sebagai pencahayaan baginya. sebelum memasuki laboratorium penelitian yang biasanya Sean gunakan untuk melakukan eksperimen.

__ADS_1


Eli menyalakan lampu kecil dimeja Sean dan melihat lampu itu masih berfungsi, Eli menatap semua barang-barang Sean masih disana, sama seperti saat dia meninggalkan gedung itu dua tahun lalu. Tidak ada yang berubah selain dari banyaknya debu yang menumpuk disana.


Eli mengelilingi tempat itu beberapa saat sambil mengenang semua yang Sean dan dilakukan dilaboratorium ini. Tidak ada lagi air mata yang mengalir dari mata Eli selain senyuman lembut yang mengandung sejuta kesedihan yang mendalam dan berakar dengan kuat dihatinya.


Tangan Eli terhenti pada sebuah buku kecil bersampul hitam pekat dan polos. Tidak ada tulisan apapun disana selain dari sampulnya yang hitam pekat. Eli mengambilnya dan membukanya. Dia melihat karakter-karakter kecil yang tertulis dibuku itu.


Pada halaman pertama itu tertulis dengan baik dan rapi dari sebuah tinta berwarna putih cerah menghiasinya, kertas itu berwarna gelap dan tinta putih tampak menonjol dikertas itu. Eli melihat ini dan mengetahui itu adalah catatan harian Sean. menceritakan tentang keluhannya tentang eksperimenya yang kadang tidak berhasil dan catatan-catatan dari eksperimenya, semua itu mencakup tiga lembar halama, dan pada akhir catatan itu tertulis sebuah catatan kaki.


“Jiwa yang penuh keserakahan akan ilmu,


Berjalan diatas jalan yang diciptakan dari ilmu pengetahuan,


Menghilang dalam lautan darah,


Mendatangkan kegelapan dari hati yang paling murni,


Mengurung jiwa dalam sebuah kertas tipis dengan tinta dari darah


Eli tiba-tiba merasa bahwa Sean benar-benar seperti yang digambarkan dalam puisi ini. Matanya berkaca-kaca sebelum membalik kehalaman selanjutnya. Dan menemukan catatan kecil lainnya, namun catatan ini terlihat Aneh, itu tidak tertulis dengan tinta putih seperti yang lainnya melaingkan tinta merah gelap seperti darah, terlihat sangat menyeramkan saat dipadukan dengan buku hitam yang pekat.


“Jiwa yang penuh dengan keangkuhan,


Mengarungi dunia dalam kegelapan,


Menjadi hitam diantara semua yang putih,


Bersembunyi dalam kegelapan,

__ADS_1


Mengurung jiwa dalam sebuah kertas tipis dengan tinta darah


……..”


Eli mebaca setiap kata dari karakter di buku itu, dan tanpa dia menyadari sesuatu terjadi diluar gedung X, saat tiba-tiba kertas pada buku ditangannya mengeluarkan cahaya hitam pekat beberapa saat sebelum kembali menjadi normal.


Eli berbalik dan meletakkan buku itu didalam pelukannya dan pergi.


Dia merasa sedikit senang, setidaknya dia mendapatkann kenangan terakhir Sean hari ini. Yang membuat dia penasaran dengan buku itu adalah, pada puisi pertama terdapat nama Sean disana yang Eli duga Sean yang telah menulisnya sendiri. Namun pada puisi kedua tidak tertulis nama siapapun melaingkan titik-titik tanpa satu huruf pun disana.


Eli kemudian menghiraukannya dan merasa bahwa Sean mungkin tidak mau menulis namanya disana.


Eli menelusuri koridor gedung dalam diam. Sambil mengingat-ingat lagi kejadian malam itu. Dia berjalan kearah atap gedung dan menatap kegelapan dihadapannya. Matanya menatap pada bulan yang bersinar terang malam ini.


Angin sepoi-sepoi bertiup dan menerbangkan rambut Eli yang halus. Eli menatap kebawah gedung lantai empat saat membayangkan bagaimana Sean terjatuh dari ketinggian ini.


Membayangkannya saja, Eli tidak sanggup, saat memikirkan bagaimana sakitnya yang Sean rasakan saat itu.


Eli mengusap air matanya dan berbalik untuk kembali karena hari sudah malam.


Eli menyusuri koridor kampus dengan perasaan campur aduk sekarang. Sedih bercampur sedikit rasa senang karena menemukan kenangan terakhir Sean.


Tepat saat Eli keluar dari pagar universitas, terlihat sosok bayngan hitam muncul diatas atap. Wajahnya sudah tidak berbentuk dan matanya semerah darah. Pada tangan kanannya terdapat linggis yang berwarna hitam dan berkarat.


Sosok itu tersenyum penuh makna pada sosok Eli yang berada dikejauhan sebelum tertawa melengking yang menggema diseluruh kampus X.


__________________

__ADS_1


**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**


__ADS_2