Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 22 Penjelasan Sean 4


__ADS_3

Eli melihat pria itu pergi dengan menyeret tubuh Sean sebelum keluar dari tempat persembunyiannya. Dan menatap mereka dari kejauhan. Eli sangat marah sampai merasa ingin membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.


Eli kemudian mengingat racun yang disampaikan Sean sebelumnya. Dengan cepat Elisabeth mencari cairan hijau tua dan memasukannya kedalam suntik sebelum mengikuti mereka dari jejak Sean yang diseret.


Elisabeth tiba di atap kampus dan melihat pria tua itu sedang berkata sesuatu tentang perbuatan Sean yang sia-sia.


Tubuh Sean dipenuhi dengan darah dan linggis itu masih bersarang ditubuhnya.


Matanya terbuka lebar dipenuhi dengan keterkejutan dan rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Air mata Eli kembali mengalir saat melihat keadaan Sean yang mengerikan, dia ingin segera berlari kesana namun jika dia gegabah maka dia akan menjadi target selanjutnya dan hanya membawa kepuasan baru bagi pria itu. Eli harus hidup untuk membalaskan dendam Sean dan bersumpah dalam hatinya untuk membunuh pria tua itu.


Pria itu mencabut linggis dari tubuh Sean diikuti dengan darah yang terciprat kesegala arah, sebelum melempar linggis itu kesembarang tempat. Dia mengangkat kepala Sean dan menatap wajah Sean dengan tatapan mencibir, kemudian mengangkat tubuh Sean membuangnya dari atas gedung.


“Hari ini, mahasiswa terjenius sepanjang masa akan meregang nyawa. Ini akan menjadi sejarah yang patut untuk dirayakan…” teriak pria itu dengan wajah bangga seakan dia telah memenangkan sebuah medali emas.


Eli melihat bagaimana pria itu membuang tubuh Sean dari atap gedung, dengan wajah senang yang memuat Eli semakin murka padanya.


Eli keluar dari persembuyiannya dan melangkah kesana. Meraih linggis yang sebelumnya digunakan oleh pria itu untuk melukai Sean.


Pria yang masih tertawa dengan bahagia tidak menyadari hal ini. Merasa puas dengan pekerjaannya dia berbalik saat tiba-tiba matanya menangkap benda hitam yang melayang kewajahnya, dan menghantam dengan keras pada kepalanya dan salah satu mata terluka akibat pukulan itu.


“Akh!!!” teriak pria itu sambil menutupi matanya yang berdarah dengan tangannya.


Dia menatap kepada gadis kecil yang sebelumnya melukai matanya dengan wajah marah.

__ADS_1


“Kau telah berani melukai kak Sean dan masih berani menampilkan wajahmu itu?!” ucap Eli pada pria itu dengan wajah marah “Aku akan membuatmu membayarnya dengan nyawamu sendiri!!” Eli melayangkan linggis ditangannya pada pria itu, namun saat berikutnya linggis terhenti. Eli melihat pria itu menahan linggis dengan tangannya dan menggenggamnya erat sebelum menatap Eli dengan tawa.


“kau? Ingin membunuhku?..kau tidak salah??...kau? ha ha ha” Hemsworth tertawa keras menanggapi perkataan Eli, seakan itu hanya lelucon yang dibuat oleh anak kecil. Siapa yang ingin mempercayainya? “Bocah ingusan ingin berlagak sok kuat? Kau ingin menghabisiku? Terlalu cepat seratus tahun untuk itu gadis kecil” Hemsworth meraih linggis ditangan Eli dan menendang gadis itu hingga tubuh kecilnya terlempar menghempas lantai atap dengan keras.


Eli meringis dalam kemarahan. Hemsworth memang benar, gadis kecil seperti dirinya mustahil untuk melwan pria besar sepertinya. Namun Eli juga bukan gadis kecil yang lemah. Dia tidak akan menyerah sebelum membunuh pria itu.


Hemsworth mendekati Eli yang terbaring dilantai. Eli menatapnya dengan tajam sebelum bangkit namun saat berikutnya benda berat menghantam kakinya dan membuatnya kembali jatuh terduduk dilantai dengan suara teriakan kesakitan.


“Akhh!!” Eli memegang kakinya yang terdapat luka sayatan yang memperlihatkan tulang putih namun segera tertutupi dengan darah yang merembes keluar dari lukanya.


“Kau tahu nak. Jika kau memilih untuk kabur sebelumnya mungkin situasinya akan lebih baik untukmu, namun kau masih memilih untuk muncul dan membantu pria muda itu. Sebelumnya aku ingin memaafkanmu karena kau masih kecil. Tapi sekarang sepertinya aku tidak bisa melakukannya…..apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membunuhmu juga? Seperti pemuda yang dibawah sana itu?” Hemsworth berkata sambil memainkan linggis diwajah Eli.


“Aku yang akan membunuhmu lebih dulu! Kau akan membusuk dineraka!” Eli berteriak sebelum bangkit dengan tangannya yang memegang suntik dengan cairan hijau sebelumnya. Suntikan itu mendarat mulus didada Hemsworth.


Hemsworth merasakan cairan yang memasuki tubuhnya dengan cepat menyebar dan memperlambat gerakannya. Dia menatap gadis kecil dihadapannya dengan wajah kesal dan nafsu membunuh yang kuat.


“Aku telah meremehkamu sebelumnya" ucap Hemsworth sambil menarik keluar suntik yang telah kosong "Tapi aku tidak akan mati sendiri hari ini, aku akan membawamu ikut denganku juga” Hemsworth mendekati Eli yang sekarang menatapnya dengan wajah takut.


Melihat kemarahan Hemsworth Eli berbalik dan berlari untuk menghindar. Namun bagaimanapun juga lelaki dewasa dan gadis kecil berusia dua belas tahun saling mengejar, tentu saja Eli sangat tidak diuntungkan dengan keadaan ini.


Langkah Hemsworth besar sedangkan dia sendiri harus melangkah dua kali untuk menyamai satu langkahnya, ditambah luka dikakinya membuatnya bergerak semakin lambat. Dengan cepat Hemsworth mendekati Eli saat linggis melayang dan menghantam kakinya yang masih terluka sebelumnya, membuatnya terhenti dan terpental jatuh kelantai.


Eli beringsut mundur dengan tangannya dan merayap dilantai kearah pintu keluar sebelum pukulan lain menghantam satu kakinya yang tersisa. Dengan dua kaki yang terluka, eli hanya bisa mengandalkan tangannya untuk menjauh dari sana. Air matanya mengalir saat menahan rasa sakit dan bibirnya berdarah karena menahan ringisan kesakitan keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Sekarang Eli merasa pasrah jika dia juga harus mati, setidaknya dia bisa bertemu dengan Sean dialam sana.


"Kak Sean...aku datang...." Gumam Eli dengan suara rendah, merasa yakin dia akan mati hari ini ditempat yang sama dengan seseorang yang paling disayanginya.


Saat berikutnya, suara linggis terjatuh menghentikan renungan Eli. Dia menoleh dan melihat Hemsworth mematung ditempat.


Eli menghela nafas lega saat menyadari racun itu telah bereaksi. Sepertinya dia masih belum diperbolehkan untuk pergi saat ini juga...


Eli menghela nafas berat sebelum manatap Hemsworth dan tertawa kecil. beberapa detik yang lalu dia sudah merasa senang akan bertemu Sean, namun sekarang kesenangannya harus sirna karena dia harus menyelesaikan janjinya untuk membunuh pria dihadapannya ini.


Racun yang digunakan Eli memang menghentikan pergerakan orang lain namun racun itu masih mempertahankan kesadaran dari korbannya. Sehingga Hemsworth masih bisa mendengar dan melihatnya Eli yang tersenyum, membuat Hemsworth menatapnya dengan tatapan kemarahan hingga matanya seperti ingin keluar dari kelopaknya.


Eli menguatkan dirinya dan bangkit untuk berdiri. Dengan tertatih-tatih, dia melankah mendekati Hemsworth, meraih linggis yang jatuh dan menatap Hemsworth dengan penuh kebencian.


“Kau melihatnya sekarang? Aku memang gadis kecil, tapi aku akan membuatmu selalu mengingat ini. Jangan pernah meremehkan orang lain hanya karena mereka lebih kecil darimu. Dan sekarang aku akan memenuhi janjiku. Akan kubuat kau mati disini, saat ini juga. Sehingga kak Sean tidak akan sendirian disana.” Ucap Eli dengan air mata mengalir mengingat Sean lagi.


Dia mengusap air mata diwajahnya dan kembali menatap Hemsworth. “Selamat tinggal, dan sampaikan ke pada kak Sean bahwa aku akan menyusulnya tidak lama lagi” Eli mengankat linggis dan menghantam kepala Hemsworth hingga dia jatuh dan terbaring di latai atap. Eli kembali mengangkat Linggis dan menusuk jantung Hemsworth berkali-kali menampakkan lubang didada yang mengerikan.


_________


Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇

__ADS_1


__ADS_2