Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 34 Kebodohan


__ADS_3

Air mata Louis mengalir, bibirnya bergetar dan tidak ada satupun suara yang lolos dari bibirnya selain isakan rasa sakit dan kemarahan yang menggebu-gebu.


"Bagaimana ini bisa terjadi?.... Siapa yang melakukan ini padamu?.... Bodoh! Bodoh! Aku benar-benar Bodoh! Aku tidak bisa melindungi sepupuku sendiri. Aku... Aku benar-benar bodoh....." Louis memukul dirinya sendiri. Kesal karena tidak bisa menjaga sepupunya dengan baik. Sejak kapan dia menjadi tidak berguna seperti ini?...


"Jangan bertingkah bodoh! Ini bukan salahmu! Ini... Ini...." Adolf kehilangan kata-katanya. Dia tidak tahu ini salah siapa. Apa yang harus dia katakan?.


Sean berdiri agak jauh dari mereka semua. Dia tidak memiliki keberanian lagi untuk melihat Angela.


"Ini... Ini semua salahku. Aku seharusnya tidak pernah dekat dengan siapapun.... Aku... aku membuat teman-temanku mati. Aku... aku telah membunuh temanku sendiri. Ini semua salahku......" Sean menjambak rambutnya sendiri sambil terus bergumam tidak jelas. Rasa bersalah, Kemarahan, Kebencian dan Penyesalan memenuhi hatinya.


Bagaimanapun dia bisa terima teman-teman yang dia sayangi dibantai seperti ini didepan matanya sendiri?...


Sean marah pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa menolong teman dekatnya padahal sudah mengetahui bahwa mereka semua akan terancam. Sean merasa bodoh, benar-benar bodoh karena dia hanya bisa diam dan melihat semua itu terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sean seharusnya tidak dekat dengan siapapun. Semua ini tidak akan terjadi jika Sean tidak dekat dengan mereka.


Hemsworth tidak akan menargetkan mereka jika mereka semua tidak dekat dengan Sean.


Sean merasa frustasi.


"Apa yang telah aku lakukan?... " Air mata Sean mengalir, dia menatap teman-temannya dalam diam. Rasa bersalah dan takut kehilangan memenuhi hatinya. Sean menatap Adolf, Billy, Laura dan Louis bergantian.


"Aku minta maaf..." Sean tidak ingin kehilangan temannya lagi. Sean tidak ingin semuanya mati karena dirinya. Tidak lagi.....


***


'Dhuar!!! Dhuar!!! Dhuar!!!'


Petir menggelar dan awan hitam menyelimuti langit, Membuat kegelapan datang sebelum waktunya. Hujan deras jatuh bagaikan tirai air membasahi tanah.


Gedung tua pusat penelitian Universitas kesehatan X tampak sangat menyeramkan. Kilatan petir sesekali menyinari gedung tua itu menampakkan berbagai pemandangan sosok mengerikan.


Hemsworth berdiri diatas atap ditengah badai hujan. Genangan air di sekitarnya berwarna kehitaman karena telah bercampur dengan cairan hitam yang mengalir dari mulut dan luka-luka ditubuhnya.


"Datanglah padaku.... Sean Kingston.... Hahahaha" Hemsworth tertawa melengking ditengah badai namun anehnya badai tidak mampu meredam suara tawanya dan menggema keseluruhan Universitas kesehatan X.


"Biarkan aku membunuhmu!!!!"

__ADS_1


***


Beberapa saat kemudian sejak kegemparan karena kematian Angela. Semua mahasiswa berlarian memasuki gedung-gedung yang paling dekat dengan mereka karena hujan deras yang tiba-tiba datang mengguyur bumi.


"Bagaimana bisa turun hujan dengan tiba-tiba begini?"


"Ahhh... Sial aku jadi basah kuyup!"


Umpatan-umpatan keluar dari mulut mahasiswa karena hujan yang turun dengan tiba-tiba.


Adolf, Billy dan Laura juga dengan cepat menghindari hujan, Namun mereka tetap saja basah kuyup karenanya.


Sean menatap Louis yang masih duduk menangis didepan mayat Angela. Louis sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, walaupun hujan sudah membasahi seluruh tubuhnya.


Adolf, Billy dan Laura yang sudah berteduh menatap keduanya dari jauh dan memasang ekspresi wajah khawatir.


Sean tidak memperdulikan air hujan yang membasahi tubuhnya hingga basah kuyup. Dia melangkah mendekati Louis yang masih terisak.


"Maafkan aku... Ini semua salahku..." Suara Sean agak tinggi karena suara hujan yang keras meredam suaranya.


"....." Louis hanya terdiam mendengarkan suara Sean. Air matanya terus mengalir bercampur dengan air hujan membuatnya tidak bisa dibedakan lagi mana air mata dan yang mana air hujan.


"Jika aku tidak dekat dengan kalian maka ini tidak akan terjadi. Jika kita tetap seperti sebelumnya, dimana kalian tidak menghiraukan aku maka semua tidak akan seperti ini. Maafkan aku.... Maafkan aku... Ini semua salah___"


"Diam!!" Sean terdiam mendengar suara keras Louis. Dia sudah menduga bahwa ini akan terjadi. Sean hanya menunduk dan terdiam tidak mengatakan apa-apa lagi.


Louis juga terdiam selama beberapa saat, Sebelum...


"Argh!!!" Louis tiba-tiba bangkit dan memukul wajah Sean dengan tinjunya.


"Sean!"


"Louis!"


Laura, Billy dan Adolf berteriak bersamaan karena terkejut dengan tindakan Louis. Mereka dengan cepat melangkah mendekati Louis dan Sean karena takut keduanya akan saling melukai. Namun langkah mereka terhenti beberapa langkah dari keduanya saat mendengar umpatan Louis pada Sean.


"Bagaimana kau bisa mengatakan ini adalah salahmu?!!! Apa kau bisa menjamin jika aku dan mereka semua tidak mengenalmu maka kami akan selamat?!!! Apa kau bisa menjamin itu tidak terjadi?!! Apa kau bisa menjamin bahwa Angela tidak akan mati?!! Bagaimana kau bisa menjadi begitu egois?!! Apa kau ingin menghadapi semua ini sendiri lagi?!!" Louis menarik kerah Sean dengan keras dan mengguncang tubuhnya dengan kuat sambil terus mengumpat didepan wajahnya.

__ADS_1


"Aku...." Sean terdiam menatap Louis yang marah. Sean tidak menyangka Louis akan sangat marah, Tapi lebih tidak menyangka lagi bahwa Louis marah karena Sean menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.


Laura dan lainnya juga tidak menyangka dengan perkataan Louis. Mereka saling melirik sebelum senyum kecil terbentuk dibibir mereka.


"Jangan mengatakan seolah kau bisa menanggungnya sendiri!!! Kita sudah berjanji bahwa kita semua akan menghadapi Hemsworth itu bersama. Apa kau tidak mengingatnya atau pura-pura lupa?" Louis menatap Sean dengan wajah memerah karena marah sekaligus jengkel dengan perkataan Sean.


Dikelompok mereka tidak ada yang menyebutkan bahwa ini adalah salah seseorang. Namun bagaimana bisa Sean berpikir seperti ini?...


Sean tersentak. Dia membelalakkan matanya tidak percaya dengan perkataan Louis.


".....Aku...Isk..." Sean merasakan kehangatan memenuhi hatinya. Dia tersenyum dengan bibir bergetar karena terharu. Matanya berkaca-kaca sebelum satu persatu air mata lolos dari kelopak matanya diikuti dengan isakan dari bibirnya.


"Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu dengan wajah seperti itu?" Sean menatap Louis memasang ekspresi wajah marah yang membuatnya terlihat sangat buruk menurut Sean.


"Kau membuatku jadi tidak ingin pergi" Ucap Sean sambil mengusap air mata diwajahnya.


"Ahh.. Sejak kapan aku menjadi cengeng begini?" Ucap Sean sambil tertawa kecil.


Louis menatapnya dan juga tertawa kecil. Louis memeluk Sean dan menepuk pundaknya ringan.


"Jangan pernah berfikir bahwa kau sendiri. Kami semua akan membantumu, Karena kita semua adalah teman ingat?" Ucap Louis Dibalas anggukan oleh Billy, Adolf dan Laura yang juga ikut memeluk Sean.


"Kalian benar-benar...." Sean hanya bisa pasrah dan bersyukur memiliki teman yang peduli padanya.


"Ayo kita selesaikan semua ini bersama. Dan jangan biarkan ada teman kita yang harus menjadi korban lagi setelah ini" Ucap Laura dengan senyum lega menghiasi wajahnya.


"Aku akan membuat si tua Hesmworth itu membayar semuanya. Aku akan membuatnya menghilang hingga bahkan jiwanya pun hancur dan dia tidak akan bisa bereinkarnasi lagi" Billy menyumpahi Hemsworth sambil menatap pada mayat Angela disamping mereka.


"Kita yang akan membalasnya" Ucap Sean sambil menatap rekan-rekannya yang mengangguk mengerti.


"Hm..."


___________


**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**

__ADS_1


__ADS_2