
Louis mengalihkan tatapannya pada semua orang dan bisa melihat bahwa mereka semua mulai panik.
"Jangan bergerak!" Louis sedikit mengangkat suaranya dan membuat semua orang memandangnya heran. Situasi telah seperti ini namun Louis masih melarang mereka bergerak?
Louis yang paling dekat dengan pintu mengintip keadaan diluar. Louis tahu betul apa yang sedang terjadi diluar sana.
Louis bisa melihat setiap anak yang keluar dari kelas. Entah mengapa mereka tiba-tiba seperti ditarik ke ujung koridor yang gelap. Louis sama sekali tidak bisa melihat apapun di koridor itu. Namun satu hal yang dapat Louis pastikan semua anak yang ditarik itu meninggal karena suara-suara teriakan segera menggem diseluruh gedung.
Mendengar itu Louis mengepalkan tangannya hingga kukunya menancap pada telapak tangannya. Memikirkan Hemsworth membantai teman-temannya membuat Louis dipenuhi kemarahan.
"Apa yang terjadi diluar? Mengapa banyak orang yang berteriak-teriak?" Tanya seorang pria muda menatap dengan penuh tanya pada Louis.
"Sebaiknya kalian tetap diam dan tidak bergerak. Jangan sampai ada yang mengeluarkan suara atau kalian tidak akan selamat...." Ucap Louis dengan wajah serius, Membuat semua orang menelan ludah dan tidak berani bersuara lagi. Louis sudah sangat marah dan kesal dia tidak ingin mendengar keluhan apapun saat ini dan ingin semua orang mendengarkannya.
Semua orang mulai meneteskan keringat dingin dan suara nafas yang memburu memenuhi ruangan membuat semua orang merasa ketakutan.
"Aaaaa!!!!"
"Tolong!!!"
"Siapa kau?! Apa Yang kau__"
Suara-suara permintaan tolong dan teriakan-teriakan terdengar selama hampir sepuluh menit. Semua mahasiswi dikelas yang mendengarkannya mulai menangis dan gemetar ketakutan. Tanpa ditanya pun mereka sudah tahu bahwa diluar telah terjadi pembunuhan.... Tidak, Lebih tepatnya Pembantaian.
Beberapa saat berlalu sebelum suara teriakan -teriakan terhenti.
Semua orang saling memandang sesaat sebelum semua perhatian tertuju pada Louis.
Louis yang sebenarnya juga tengah ketakutan namun masih menahan dirinya untuk tetap tenang hanya bisa menelan ludah. Dia menguatkan hatinya sebelum memberanikan diri mengintip dari celah pintu.
Mata Louis terbelalak saat melihat pemandangan dihadapannya. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Louis bergerak mundur membuat semua orang didalam ruangan menjadi panik
__ADS_1
"Apa Yang terjadi?..." Tanya Billy yang bisa melihat wajah buruk Louis. Jelas diluar telah terjadi sesuatu yang sangat buruk hingga Louis berekspresi seperti itu.
"Mundur! Kalian cepat mundur sejauh mungkin dari pintu" Perintah Louis yang langsung meraih salah satu bangku siswa.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya mahasiswi yang mulai khawatir melihat perilaku Louis.
Louis menggenggam erat bangku lipat ditangannya dan bergerak cepat kesisi pintu. Tangannya bergetar hebat, Nafasnya terputus-putus dan jantungnya berdetak tidak karuan.
Bukan tanpa alasan. Saat Louis mengintip dari balik pintu tadi dia melihat mayat Mahasiswa disekitar kelas mereka telah bertebaran dilantai. Ada yang kehilangan tangan, kepala dan ada yang sampai organ-organnya berhamburan dilantai.
Rasanya Louis ingin mengeluarkan isi perutnya sekarang juga, Namun dia tidak bisa melakukannya atau semua orang diruangan akan menjadi histeris dan pelaku dari pembantaian ini akan menemukan mereka, Walaupun Louis menduga bahwa Hemsworth sudah mengetahui keberadaan mereka dan hanya mengulur-ulur waktu.
Aliran darah muncul dari bawah kaki pintu. Semua orang membelalakkan matanya dengan ekspresi terkejut.
"Aaa_mhg!" Seorang pemuda langsung menutup mulut gadis didekatnya yang refleks berteriak saat melihat darah itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi diluar?"
"Kenapa Louis tidak ingin kita keluar dari sini?"
Suara tangis dari para gadis mulai terdengar dan para laki-laki hanya bisa menghela nafas berat.
"Aku akan menjelaskan apa yang terjadi pada kalian. Tetapi sebelum itu kita harus bisa keluar dari sini. Tempat ini sudah tidak aman lagi" Jelas Louis "Intinya diluar telah terjadi pembantaian dimana-mana. Semua orang..... Semua orang telah mati...." Ucap Louis dengan suara bergetar.
Semua orang membelalakkan matanya. Mereka menutup mulut mereka menolak untuk berteriak. Mereka hanya bisa menangis dalam diam dan berharap bisa selamat dari tragedi ini.
"Sekarang bukan waktunya untuk menangis dan ketakutan. Jika kalian ingin selamat maka dengarkan aku. Semua laki-laki lindungi para gadis dan setiap orang bawalah sesuatu yang bisa kalian pakai untuk memukul, Apapun itu" Perintah Louis membuat semua laki-laki refleks meraih bangku lipat yang paling dekat dengan mereka.
Louis menatap mereka semua sebelum mengangguk ringan.
"Laura cobalah untuk menghubungi Sean. Katakan kita akan bertemu di Aula gedung utama" Ucap Louis yang segera dilakukan oleh Laura.
__ADS_1
Laura juga tahu betapa berbahaya situasi saat ini.
Setelah memberikan perintah pada Laura Louis kembali mengintip dari balik pintu. Hujan deras dan petir yang menggelegar membuat Louis gemetar ketakutan namun pikiran tentang teman-temannya yang akan mati jika mereka terus disini membuat Louis tidak bisa hanya diam dan menunggu ada yang datang untuk menolong. Walaupin Louis sadar tidak akan ada yang bisa menolong mereka sekarang selain diri mereka sendiri, Mereka hanya bisa maju dan menghadapi semuanya.
Koridor kampus sudah dipenuhi oleh genangan darah. Louis mencari sosok Hemsworth biang kerok dari masalah ini dan tidak menemukannya di manapun.
"Ayo. Bergeraklah dengan cepat tapi pastikan untuk tidak terlalu bersuara" Jelas Louis dan membuka pintu dengan perlahan.
Louis memberi isyarat untuk maju dan mereka segera mengikuti.
Para laki-laki terbagi dua kelompok. Lima orang di depan bersama Louis dan Lima orang di belakang menjaga dari apapun yang bisa menyerang dari belakang. Sedangkan para wanita yang masih cukup berani berbaur ditengah saling melindungi.
Selepas keluar dari kelas semua orang langsung menutup mulut mereka untuk tidak segera mengeluarkan isi perutnya. Biarpun dikatakan mereka adalah mahasiswa kedokteran yang bekerja dengan mayat setiap harinya, Melihat pemandangan organ-organ yang berserakan dan bau amis yang menyatu dengan udara membuat perut mereka bergejolak.
Beberapa gadis tidak bisa menahannya dan terpaksa muntah.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak punya tempat lain untuk muntah?" Marah seorang pria yang tanpa sengaja terkena muntah dari gadis itu.
"Maaf aku_"
"Jangan bicara. Cepat kita harus segera meninggalkan gedung ini dan menuju Aula utama" Perintah Louis membuat pria itu terdiam. Pria itu seperti ingin membela dirinya namun sadar bahwa situasinya tidak tepat.
"Apa ada respon dari Sean?" Tanya Louis pada Laura yang berada disampingnya.
"Tidak, Sean tidak menjawab. Apa telah terjadi sesuatu padanya?" Tanya Laura dengan wajah khawatir.
"Sean tidak selemah itu. Dia akan baik-baik saja" Tegas Louis membuat Laura sedikit heran. Pertanyaan tentang 'Sejak kapan Louis menjadi sangat akrab dengan Sean?' melintas dibenaknya. Namun dia tahu waktunya tidak tepat untuk pertanyaan seperti itu.
Memang dikelompok mereka hanya Louis yang tahu tentang identitas asli Sean. Tentang Sean yang sebenarnya hanya jiwa dan dia tidak akan pernah mati lagi.
Sama seperti Sean, Hemsworth juga hanya jiwa jadi dia tidak akan pernah mati. Mereka hanya bisa memusnahkan jiwanya atau menyegelnya kembali didalam buku hitam kecil itu.
__ADS_1
__________
Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian karena dukungan dari kalian begitu berarti 🙏