Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 33 Serangan Hems 3


__ADS_3

"Kau sialan!!! Lepas..kan.. tangan...mu..dari... leherku... sialan.." Ucap Angela terbata-bata namun Hemsworth masih terus mencekiknya.


"Lepaskan? Apa kau ingin aku melepaskan mu?... Baiklah aku akan mengikuti perkataanmu" Ucap Hemsworth cekikikan membuat cairan hitam mengalir deras dari leher dan mulutnya.


Hemsworth mengangkat tangannya yang memegang linggis hitam pekat. Mengarahkan ujung Linggis pada leher Angela.


Angela menatap nanar pada linggis yang mengelus lehernya dengan lembut. Membentuk gerakan melingkari leher Angela. Ujung dingin dari linggis membuat Angela menggigil ketakutan.


"Lepas..kan... Ja..Jangan...Akh!!!!" Angela merasakan ujung dingin linggis dilehernya ditekan dan didorong dengan paksa. Angela bisa merasakan lapisan daging yang sobek sedikit demi sedikit karena tusukan linggis.


Darah segar mengalir dari mulut dan leher Angela saat linggis menembus lehernya.


"Selamat tinggal gadis kecil....." Hemsworth menarik keluar linggis ditangannya dan bersiap untuk memotong leher Angela.


"Se...an... Tolong...Ak..."


Trashh!!!


Leher Angela terpisah dari tubuhnya saat linggis Hemsworth menebasnya dan membuat percikan darah tersebar dimana-mana.


"Hahahaha!!!!" Tawa bahagia Hemsworth menggema di seluruh sudut gedung tua menambah aura menyeramkan dan menakutkan pada gedung itu.


Kepala Angela masih bertengger ditangan kiri Hemsworth dengan darah segar mengalir dari ujung lehernya. Rasa takut yang liar biasa bisa terlihat dari wajah Angela dengan mata terbelalak menatap kosong ke koridor Kedung tua.


***


Sean tersentak. Dan tiba-tiba merasakan sensasi tidak enak didalam hatinya.


"Apa yang terjadi?" Laura yang duduk disampingnya memperhatikan gerakan tidak beres Sean dan bertanya padanya.


"Entahlah, Aku merasa tidak nyaman. Tidak perlu khawatir, Aku baik-baik saja" Sean memperhatikan wajah Laura yang terlihat khawatir dan langsung menenangkannya.


"Baiklah. Katakan jika kau membutuhkan bantuanku" Laura memandang Sean dengan senyum diwajahnya dan menepuk tangan Sean ringan.


"Hm. Aku tahu" Sean tersenyum dan kembali fokus pada bukunya. Mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman dihatinya.


Entah apa yang terjadi. Tidak biasanya Sean merasa seperti ini.


"Aaaaaa!!!!!!" Suara teriakan memecah keheningan suasana pembelajaran di seluruh Universitas.


Sean kaget dan segera rasa tidak nyaman yang sebelumnya kembali memenuhi hatinya, dan sekarang menjadi lebih dan lebih buruk lagi. Sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Jangan bilang Hemsworth menyerang orang lagi" Sean langsung bangkit dari tempat duduknya, Namun baru beberapa langkah dia berjalan kepalanya langsung terasa sakit hingga dia harus menopang tubuhnya pada meja sambil memegang kepalanya yang kesakitan.

__ADS_1


"Sean apa yang terjadi?" Laura dengan cepat membantu Sean menopang tubuhnya.


Kelebat darah merah yang mengalir memasuki pikiran Sean.


Jas putih bernoda darah...


Tongkat bisbol....


Sepatu kets bergaya... dan...


Tubuh hancur terlintas dipikirannya seperti potongan-potongan film yang semakin membuat kepalanya kesakitan.


"Argh!!" Sean terjatuh kelantai saat sebuah kepala berambut hitam halus muncul dalam pikirannya.


Mata Sean membelalak saat melihat kondisi wajah itu sangat mengerikan. luka dalam dilehernya dan goresan panjang tercetak dimatanya membentuk garis horizontal dan darah segar mengalir keluar dari sana.


"Tidak! Angela!..." Sean langsung menyadari bahwa itu adalah Angela.


Kemarahan dan kekesalan memenuhi hati Sean. Dia mengepalkan tangannya dan bangkit ingin segera menuju ke gedung tua dimana Hemsworth membunuh Angela.


Laura yang tidak mengerti apa yang terjadi menjadi panik saat Sean meneriakkan nama Angela dengan wajah marah. Perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Sean apa yang__"


Suara Laura terhenti saat sesuatu yang berbentuk bulat terjatuh dihadapan Sean dan lainnya membuat langkah mereka terhenti.


Sean membelalakkan matanya menatap benda yang terjatuh.


"Angela!!!" Louis yang berada dibarisan paling dekat dengan benda yang terjatuh langsung menyadari itu adalah kepala, Tepatnya kepala Angela sepupunya.


"Angela....." Suara Sean terdengar bergetar saat melihat pemandangan didepannya. Mata merahnya bertambah terang seakan itu bersinar seiring dengan kemarahan yang memenuhi hatinya.


Kondisi kepala Angela sangat memperhatikan. Wajahnya yang cantik dan polos tidak terlihat melainkan wajah yang dipenuhi dengan ketakutan dan garis horizontal tercetak dimatanya mengiris matanya meninggalkan aliran darah yang memenuhi wajahnya.


"Hemsworth sialan....." Sean mengepalkan tangannya dengan keras hingga kuku jarinya menusuk telapak tangannya.


***


Diluar gedung tepatnya ditengah-tengah lapangan tergeletak tubuh yang sepertinya milik seorang gadis dalam kondisi yang mengenaskan. Seluruh jas putih kedokterannya dihiasi warna merah darah.


Ditengah perutnya terdapat lubang yang dalam memperlihatkan organ yang telah hancur dan darah mengalir deras menyebar ditanah disekitar tubuhnya. Meninggalkan genangan darah yang berbau amis.


Namun bukan itu yang membuat semua mahasiswa ketakutan bukan main, Tetapi tubuh itu sama sekali tidak memiliki kepala!!

__ADS_1


Kepalanya menghilang meninggalkan lubang leher yang menampakkan saluran tenggorokan dan organ-organ tenggorokan yang hancur. Darah merah tidak berhenti mengalir dari lehernya.


"Ini..... Tidak... Tidak mungkin!!!!" Adolf berteriak saat melihat papan nama yang telah dibasahi oleh darah merah membuatnya terlihat tidak jelas.


Namun Adolf bukan orang buta. Dia bisa melihat dan membaca nama yang tertera di papan nama milik mayat yang menggemparkan Universitas kesehatan X untuk yang kesekian kalinya.


Dipapan nama itu tertulis sebuah nama yang tidak pernah terlintas dalam benak Adolf akan mengalami kejadian seperti ini.


"Angela....." Suara Adolf bergetar saat membaca papan nama ditangannya.


'Angela Merkel'


Itulah nama yang tertulis di papan nama dengan tinta putih yang sekarang berwarna merah karena darah dari pemiliknya.


Billy mematung ditempatnya seperti tersambar petir saat mendengar Adolf menyebut nama Angela dengan wajah frustasi.


Tanpa perlu dikatakan pun, Billy sudah tahu apa maksud dari perkataan Adolf itu.


Mayat itu adalah mayat Angela.


Sesuatu seakan menjanggal dihati Billy. Tubuhnya terasa berat seperti batu besar telah menimpa dirinya. Mulutnya terbuka namun tidak ada satu katapun yang terucap dari mulutnya.


Kaki Billy terasa lemas seakan seluruh energinya disedot habis dari tubuhnya. Tanpa Billy sadari air matanya telah jatuh entah sejak kapan mengalir membasahi pipinya.


"Tidak.... Ini.... Ini tidak mungkin..... " Billy perlahan mundur dengan wajah tidak percaya, matanya menatap kosong. Pikirannya kacau, dia tidak bisa memikirkan apapun.


"Tidak!!! Argh!!!!!" Billy meninju benteng gedung disampingnya dengan keras hingga jejak cetakan tangan berwarna merah terbentuk didinding.


Laura, Sean dan Louis juga berhenti ditempat mereka saat melihat Adolf menangis.


Laura menatap mayat dihadapannya dan langsung menutup mulutnya tidak percaya. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi.


"Ini..." Laura merasa sakit hati. Walaupun dia baru dekat dengan kelompok Louis dia sudah menganggap Angela sebagai sahabatnya. Karena dikelompok mereka hanya dia dan Angela yang perempuan sehingga wajar apabila mereka berdua lebih dekat dibandingkan dengan yang lainnya.


Melihat semua ini terjadi pada Angela Laura merasa tidak bisa menerimanya.


Louis berlutut didepan mayat Angela tangannya bergetar, terulur menggenggam tangan Angela yang sudah dilumuri darahnya sendiri.


_____________


**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**

__ADS_1


__ADS_2