Darah Pembantaian

Darah Pembantaian
Ch. 30 Identitas Sean 2


__ADS_3

Louis menghantam dengan keras kedinding didepannya untuk melampiaskan kekesalan yang dia rasakan. Namun tubuhnya menembus dinding dan dia terjatuh tengkurap dilantai dalam kamar Willy.


Louis tidak tau apa yang harus dia lakukan. Apa Willy akan mati disini? Lalu... bagaimana dengan Sean??


Louis bangkit dan tiba-tiba teringat bahwa ini adalah ingatan Sean.


Apa ini artinya Willy akan selamat??


"Apa yang akan terjadi selanjutnya sekarang? Kuharap Willy akan selamat" Pikir Louis yang masih terpaku dengan pemandangan dimana Willy terlihat sedang berjuang dinafas-nafas 1 terakhirnya.


Louis sangat tidak menyukai pemandangan dimana dia melihat seseorang sekarat dan dia tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali.


Pemandangan dihadapannya membuat Louis kembali teringat dimana Sean mati didepan matanya sendiri dan dia hanya bisa melihat semuanya terjadi tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti.


Louis membenci keadaan seperti ini. Rasanya seperti dia menjadi seorang pecundang yang bodoh dan hanya bisa menonton. Seperti ulat kecil yang berusaha menggapai bulan dilangit.


Namun apa yang bisa dia lakukan? Meskipun Louis tahu ini hanya memori masa lalu Sean, namun tetap saja ini adalah pengalaman nyata bagi Louis dan dia sulit menerima semuanya terjadi begitu saja tanpa dia bisa melakukan apa-apa.


Tiba-tiba cahaya merah datang dari jendela menyita perhatian Louis. Cahaya itu memenuhi ruangan hingga semua ruangan jatuh dalam warna merah yang mengerikan.


Louis tiba-tiba merasa tubuhnya bergeta seperti tertimpa batu besar. Dia ingin bangkit dan berlari namun tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ini pertama kalinya sesuatu dari dunia ini berefek pada Louis hingga membuatnya sedikit khawatir.


Louis terus terbaring dilantai seakan telah dipaku disana, Dia tidak bisa bergerak sedikitpun. Cahaya merah juga menyebar dengan cepat dan seakan terhisap, Itu menuju ketubuh Louis tepatnya dipusatnya membentuk pusaran yang aneh.


Louis bisa merasakan udara disekitarnya semakin menipis, membuatnya sesak nafas. Keringat memenuhi tubuh Louis namun pusaran itu semakin menjadi-jadi, semakin kuat membuat Louis terbatuk-batuk karena sesak.


"Sial. Apakah aku akan mati disini?" Louis mencoba terus bernafas namun semakin dia bernafas semakin dia sesak.


"Haakkk....akh..akh..." Diakhir saat Louis berfikir untuk menyerah karena kehabisan nafas, pusaran merah aneh itu menghilang sepenuhnya dan udara langsung kembali memenuhi ruangan.


Louis bernafas dengan keras, udara memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Beberapa detik yang lalu dia berfikir dia akan segera mati karena kehabisan pasokan udara, Namun sepertinya dunia ini masih mengasihaninya.

__ADS_1


Dada Louis naik turun selama beberapa saat sebelum dia mendapatkan ketenangannya kembali.


"Huh...Tadi benar-benar hampir saja..." Louis mengelus dadanya lega. Dia bangkit dan mendekati Willy yang masih tertidur dikasur.


"Sebelumnya apa yang terjadi padanya? Pusaran merah apa itu tadi?" Louis bertanya-tanya sambil menatap Willy___


"Ini... Bagaimana mungkin?..." Mata Louis terbelalak saat melihat monitor pendeteksi detak jantung Willy menunjukkan detak jantung Willy tidak lemah seperti sebelumnya melaingkan kembali normal.


Louis tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Dia merupakan seorang yang bergelut dalam bidang kedokteran sehingga dia bisa memastikan bahwa tebakannya tidak akan salah. Seharusnya Willy tidak akan selamat lagi, Namun yang terjadi......Apa ini mungkin? Apa keajaiban benar-benar ada?


Willy kembali membaik.


Louis senang bercampur heran. Namun beberapa saat kemudian pertanyaannya terjawab sendiri.


Louis melihat Willy perlahan mulai bergerak. Warna wajahnya juga sudah tidak sepucat sebelumnya, Perlahan kondisinya kembali sehat.


Willy terlihat membuka matanya dan menatap sekitarnya.


"Mata itu..." Sebelumnya mata Willy berwarna biru laut dalam. Louis mengetahuinya dari foto yang berada di samping Willy. Yang merupakan fotonya bersama dengan ibu dan ayahnya.


Difoto itu Willy terlihat tertawa memperlihatkan gigi putih dengan dua taring kecil disana. Terlihat manis dan imut. Melihatnya terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit dengan selang infus ditubuhnya akan membuat siapapun merasa iba dan tidak percaya dengan yang terjadi.


Didalam foto itu warna mata Willy jelas bukan merah, Namun mengapa sekarang itu berbeda?


Louis menatap Willy tanpa berkedip, dan melihat perlahan perubahan tampak pada wajah Willy. Wajah Willy berubah dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang.


Sudut matanya sedikit menyempit dan bibirnya memerah, dengan bentuk yang tersenyum secara alami. Warna wajahnya menjadi sedikit pucat namun tidak sepucat sebelumnya.


Itu hanya perubahan kecil, namun Louis langsung mengenali sosok itu.


Itu adalah Sean......

__ADS_1


Sean kecil yang manis dan tampan. Matanya Semerah darah dan tatapannya tajam. Bibirnya yang merah tersenyum alami namun karena karakter Sean ini yang datar membuat senyuman itu terkesan dingin.


Walaupun begitu wajah itu masih mempertahankan karakteristik manis dari Willy. Selain dari mata dan bibir semuanya masih sama seperti sebelumnya.


Louis terpana melihat perubahan wajah Willy menjadi Sean ini. Ini bertentangan dengan logika biologinya.


"Eli..." Gumam Sean dengan suara rendah.


Wajah Louis kaget mendengar suara gumaman Sean. Dengan cepat Louis mendekati kalender dan melihat bahwa hari ini adalah hari dimana Eli meninggal ditangan Hemsworth.


"Ini.....Sean..." Perkataan Louis pudar saat tiba-tiba suasana familiar kembali dia rasakan. Pemandangan gelap memenuhi matanya sebelum Lapangan Universitas kesehatan X muncul kembali dihadapannya.


Louis menoleh pada Sean yang masih setia disampingnya menatap Louis dengan senyum manis di bibirnya.


"Jadi, Kau...hanya jiwa dari Sean?" Tanya Louis pada Sean.


Pada malam dimana dia melihat Eli membacakan puisi dibuku Louis melihat cahaya hitam yang membawa jiwa Hemsworth namun dia tidak melihat cahaya merah yang membawa jiwa Sean, Jadi bagaimana bisa Sean....


"Yah. Ini hanya jiwaku, Sama seperti Hemsworth. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa kembali, Tapi sebelumnya aku mendengar seseorang memanggil namaku dan aku sudah berada ditubuh anak ini" Jelas Sean menjawab pertanyaan Louis.


"Lalu bagaimana dengan Hemsworth? Apa dia juga memasuki tubuh orang lain?" Louis memikirkannya saat dia memukul Hemsworth dan itu berefek padanya. Jika Hemsworth hanya jiwa maka pukulannya tidak akan begitu berpengaruh.


"Tidak. Dia memiliki tubuhnya sendiri, karena itu semua luka yang pernah dia terima masih terlihat. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak dibangkitkan dengan tubuhku sendiri, dan sekarang aku mengerti. Itu karena untuk mengalahkan Hemsworth aku akan membutuhkan bantuan kalian. Aku tidak mungkin memintanya dengan wajah hancur penuh luka bukan? Jika itu terjadi, Sebelum aku meminta bantuan juga Kalian akan lari terbirit-birit" Jelas Sean sambil tertawa kecil.


Louis menatanya Heran"Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak penakut seperti Billy" Bantah Louis.


"Hahaha...Aku tidak yakin dengan itu"


_____________


**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.

__ADS_1


Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇 semoga bermanfaat**.


__ADS_2