
Baru saja Sean memikirkan orang itu dalam benaknya saat tiba-tiba suara linggis yang diseret terdengar dibelakangnya.
Sean tiba-tiba merasakan bahwa Violet telah terlepas dari sesuatu yang mengendalikan tubuhnya dan kesadarannya perlahan kembali. Sean tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi namun perasaannya mengatakan ini bukanlah hal baik.
Violet memegang kepalanya beberapa saat, Sebelum tersadar bahwa dirinya sudah berada ditempa lain.
"Dimana aku?..." Tatapan Violet menyapu seluruh ruangan gelap dihadapannya. Koridor yang gelap dan mengerikan membawa kesan asing bagi Violet. Berbeda dengan Violet yang bingung Sean jelas tahu tentang tempat ini.
Sekarang Violet berada dilantai tiga. Tepatnya didepan sebuah ruangan yang sangat familiar bagi Sean.
Violet saat ini berada didepan ruangan yang dulunya milik Sean. Sebelumnya, sejak insiden pembunuhan kembali muncul saat Sean baru menyandang statusnya sebagai ketua tingkat. Sean sempat mengunjungi tempat ini beberapa kali. Dan benar saja, Setiap kali terjadi pembunuhan maka akan ada genangan darah baru diruangan ini.
Pada hari dimana Sean bertemu dengan Louis, Billy dan Adolf juga Sebelumnya Sean dari tempat ini untuk mencari tahu. Dia tidak menyangka kunjungannya malam itu membuat Hemsworth melihatnya dan menyerang teman-teman Sean.
"Hai gadis kecil...."Suara serak menyeramkan dan berat terdengar dari belakang Violet. Suara itu terdengar seperti Sambaran petir ditelinga Sean.
Sean bisa merasakan buku kuduk Violet merinding. Sebelum pandangan Sean menemukan sosok Hemsworth yang sudah berdiri di belakang mereka dengan wajah hitam dan mata semerah darah sedang senyum menyeringai memperlihatkan gigi hitam yang busuk.
Hemsworth menatap Violet dengan lekat sampai-sampai Sean merasa Hemsworth telah melihat jauh kedalam dirinya.
"Selamat datang di Neraka gadis kecil.... Hahahaha" Hemsworth tertawa lantang sebelum mengarahkan pukulan pada kepala Violet..
***
Sean menatap Wanita hantu dihadapannya dengan perasaan iba bercampur rasa bersalah. Setelah melihat ingatan, Violet meminta Sean untuk membalaskan dendamnya pada Hemsworth.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Sean bertemu dengan orang-orang yang dibunuh Hemsworth namun ini kali pertama ada dari mereka yang memberanikan diri untuk bicara dengan Sean dan memintanya untuk membalaskan dendamnya. Biasanya mereka hanya akan muncul beberapa menit sebelum menghilang bersama angin.
Dari ingatan Violet, Sean bisa tahu bahwa Violet yang paling tersiksa diantara semuanya. Hemsworth bukan hanya menghancurkan tubuh wanita hantu. Tetapi dia menyeret tubuhnya hingga mencapai ruangan ini dan menggantunnya diatap. Karena itulah terdapat luka hitam mengerikan di leher gadis itu. Sean juga melihat bahwa organ-organ gadis itu sudah tidak ada didalam tubuhnya. Entah dimana Hemsworth menaruh mereka semua.
__ADS_1
Sean tahu jika seseorang mati dengan anggota tubuh terpisah maka hal tersebut memiliki kemungkinan besar untuk membuatnya menjadi hantu ganas yang dipenuhi dendam. Tapi Sean melihat bahwa Violet masih baik-baik saja dan masih memiliki kesadarannya. Namun pernyataan Violet selanjutnya menjawab semuanya.
"Aku tidak bisa membantumu. Aku tidak bisa keluar dari ruangan ini" Violet mengatakan dia terkurung diruangan ini tanpa bisa melangkah lebih jauh, bahkan untuk sekedar melewati pintu.
Violet sudah mencoba beberapa kali melewati pintu maupun jendela atau menembus tembok tetapi tetap tidak bisa, seakan ada dinding transparan yang menghalanginya.
Sean hanya diam tidak menjawabnya dan hanya menyesali semua perbuatannya dahulu.
Jika bukan karena kecerobohan dan kebodohan Sean waktu itu. Maka semua hal dan tragedi ini tidak akan terjadi. Universitas Kesehatan X akan selalu damai dan tidak perlu terlarut-larut dalam teror seperti sekarang. Sean hanya bisa menyesalinya sekarang, Dia merasa begitu bodoh karena diperbudak oleh rasa penasarannya.
"Aku ingin bertanya. Apakah sebelumnya kau yang mengagetkan Billy?" Tanya Sean mengingat insiden dimana Billy berkata melihat tangan ramping menarik ponselnya hingga masuk keruangan ini.
"Aku ingat aku pernah mengambil ponsel dan semacamnya. Tapi aku tidak ingat jelas apakah itu adalah orang yang sama dengan yang kau sebutkan. Aku mengganggu banyak orang jadi aku tidak mengingat jelas siapa Billy itu... Maaf" Ucap Violet tersenyum canggung. Dikarenakan tidak bisa kemana-mana, Violet hanya bisa mengganggu orang-orang ditempat itu.
"Tidak masalah. Lupakan saja" Jawab Sean dan meninggalkan ruangan itu menuju gedung utama dimana pusat kendali listrik berada.
***
"Berapa lama lagi Sean menghidupkan lampunya? Jangan bilang dia masih tidak tahu dimana letak pusat kendali listrik kampus hingga sekarang" Ucap Adolf dengan nada jengkel.
"Entahlah... Sean tidak menjawab panggilanku" Jawab Louis yang memperlihatkan ponselnya. Menunjukkan bahwa panggilannya tidak terjawab.
"Aku harap dia tidak membuat masalah.." Umpat Adolf pada Sean yang menurutnya sangat bodoh.
"Tenang saja. Sean tidak sebodoh itu" Louis menepuk pundak Adolf sambil tersenyum kecut mengetahui pikiran temannya itu. Louis yang tahu kenyataan bahwa Sean adalah seorang jeniuspun masih tidak percaya Sean akan mempertanyakan hal sekonyol tadi.
"Sudahlah kita tunggu saja, Barangkali Sean seda__"
"Hahahaiiihihihiiii" Suara tawa mengerikan terdengar menggema di seluruh Universitas Kesehatan X.
__ADS_1
Seluruh mahasiswa digedung pembelajaran itu bisa mendengar dengan jelas suara tawa itu seakan seseorang tertawa didepan telinga mereka.
Louis, Adolf dan Billy yang paling kaget mendengar suara tawa yang tidak asing itu. Bayangan sosok hitam dengan mata semerah darah dan membawa linggis segera terlintas dipikiran mereka.
"Louis ini..." Billy yang paling ketakutan dengan suara tawa itu. Dia tidak akan pernah lupa saat dimana dia hampir mati karena sosok hitam itu.
Louis tidak menjawabnya. Dia larut dalam pikirannya sendiri.
Sejak mengetahui kenyataan tentang Sean dan Hemsworth, Louis mulai mengerti bahwa Hemsworth ini akan menghabisi mereka semua.
Sekarang juga Angela telah meninggal. Bukan tidak mungkin sebenarnya mereka telah ditargetkan dari awal oleh tua bangka itu.
Mahasiswa dikelas yang mendengar itu menjadi merinding. Dan suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya, Bahkan suara nafas pun terdengar lebih keras dari biasanya.
"Jangan ada yang bergerak dari tempat kalian" Perintah Louis segera menimbulkan pertanyaan dalam pikiran semua orang. Mengapa Louis menginginkan mereka untuk diam, seakan sesuatu yang berbahaya telah datang kepada mereka. Namun tidak ada orang yang menyuarakannya selain mengikuti perintah Louis dan diam ditempat mereka masing-masing.
"Aaaaaa!!!!!"
"Akh!!!"
"Tolong Ak_!!!!"
Suara teriakan tiba-tiba terdengar dari berbagai koridor dan suara orang-orang berlarian menggema dari setiap kelas yang sebelumnya hening.
"Apa yang terjadi?" Tanya seorang mahasiswi dikelas Louis. Mahasiswi itu terlihat panik dan wajahnya sangat pucat.
__________
**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya karena dukungan dari kalian begitu berarti 🙏
__ADS_1
Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**