
Ibu panti dan orang lain langsung menuju kamar Eli saat mendengar suara teriakannya.
kamar Eli sangat gelap dan mereka tidak bisa melihat apa-apa. Ibu panti menghidupkan lampu dan segera ruangan itu jatuh dalam cahaya.
Mereka menemukan Eli yang sedang terbaring tidak sadarkan diri, dan Annie yang masih bergetar ketakutan didalam selimutnya.
Dia menemukan bahwa ibu panti ada disana dan langsung memeluk ibu panti dengan erat.
“Ibu…ada hantu disini tadi…aku..aku takut…tubuhnya berlubang dan wajahnya…wajahnya hancur…aku takut ibu…u..u..” Annie menangis keras dipelukan ibu panti yang terus mengusap kepalanya untuk menenangkannya.
Eli segera dikembalikan ketempat tidurnya dan mencoba menyadarkannya.
Wajah Eli sangat pucat, dan keringat dingin mengalir dipelipis gadis itu. diwajahnya juga terdapat sisa-sisa air mata. Jelas dia telah menangis.
Ibu panti mencipratkan air pada wajah Eli dan membuat anak itu terbangun.
“Aaaa!!! Jangan…jangan mendekat!!”
“Eli ini ibu!! Ini ibu!!” ibu panti mengguncang tubuh Eli menenangkan gadis itu.
Eli menatap wajah ibu pantinya dan langsung saja memeluknya dengan erat.
“Ibu..ibu..ada seseorang disini…dia..dia_”
“Tenanglah. Ibu ada disini sekarang, semuanya akan baik-baik saja” ibu panti menenangkan mereka berdua dan anak-anak yang lain juga mulai ketakutan mendengar cerita Eli dan Annie.
“Tidak akan terjadi apa-apa, kalian tenanglah” Ibu panti memeluk semua anak-anak yang menangis ketakutan.
***
“Elisabeth islan?!” suara seorang pria paruh baya memanggil dan menatap keseluruh ruangan kelas.
Seorang gadis kecil mencolek Eli yang sedang melamun dengan tatapan kosong kearah jendela.
“Ada apa?” Eli berbalik kearah temannya yang langsung berbisik tentang Absen Eli. Eli dengan cepat menjawab panggilan gurunya dan kembali terfokus pada jendela.
__ADS_1
Sekolah Eli cukup luas dan dari kelasnya itu, dia bisa melihat Universitas Sean diseberang. Yang hanya dihalangi oleh pagar pembatas.
Tiba-tiba dari jendela itu, Eli melihat seorang pria tampan. Dari belakang itu sangat mirip dengan Sean, membuat Eli menatapnya dengan membulatkan matanya dengan tatapan tidak percaya.
Pria itu berjalan memasuki gedung universitas, namun saat tangannya memegang gagang pintu, dia terhenti dan tidak bergerak. Eli melihat hal ini, dan memfokuskan tatapannya.
Saat berikutnya pria itu berbalik kearah Eli menampakkan sebuah wajah tampan tanpa cacat.
Eli terpaku pada pemandangan itu, perasaannya campur aduk. Pria itu tersenyum lembut kearah Eli membuat Eli ingin menangis.
"Kak Se_" Kata-kata Eli tertahan di tenggorokan, saat berikutnya Eli melihat pria itu tiba-tiba berhenti tersenyum dan menatap tajam kearah Eli.
Mata Eli perlahan-lahan terbelalak saat wajah pria yang mirip dengan Sean itu berubah menjadi wajah yang hancur, darah mengalir dari tengah dadanya menuju keseluruh tubuhnya. Saat Eli menatap wajahnya lagi itu bukan lagi wajah Sean namun wajah hancur yang tak berbentuk!
“Aaaaaaa!!!!!”
Eli berteriak keras didalam kelasnya dan menabrak teman disampingnya dengan tubuh bergetar menatap horror kearah jendela.
“Eli ada apa?” tanya teman Eli disampingnya, yang tadi sempat Eli tabrak karena ketakutan. Eli tidak menaggapinya selain menatap horror kejendela saat air matanya kembali mengalir dengan deras.
***
Saat sedang bercermin dikamar mandi, Eli kembali melihatnya dan saat Eli mulai menatap wajah tampan itu, ‘Sean’ berteriak dan mendekati Eli dengan wajah hancur, membuat Eli secara refleks mundur dan menabrak dinding dibelakangnya.
Saat Eli bermain, saat belajar lampu dilamarnya menjadi berkedip-kedip tidak karuan, boneka yang tertawa dengan wajah hancur, penampakan Sean yang hancur...
Hari berikutnya disekolah Eli merenung dikelasnya terus menerus dengan tubuh agak bergetar dan kantung matanya menghitam karena jarang tidur, rambutnya sudah memutih karena depresi.
Namun setiap kali dia ditanya dia akan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Dan Eli juga masih bisa bersikap normal selain dari kebiasaannya yang sering berteriak-teriak tidak jelas, sehingga ibu panti menepis keinginannya untuk memasukkan Eli kedalam rumah sakit jiwa.
Ibu panti sudah meminta Eli untuk menemui psikiater namun Eli menolak dan mengatakan dia tidak memiliki masalah kejiwaan sehingga harus diperiksa oleh psikiater.
Eli menempatkan kepalanya diatas mejanya dan memejamkan matanya, saat suara teriakan tiba-tiba terdengar di telinganya.
Suara teriakan itu sangat keras dan sepertinya merupakan suara seorang pria. Eli menatap seluruh kelasnya dan mencari-cari siapa yang sedang berteriak kesakitan, namun seluruh siswa sedang fokus belajar.
__ADS_1
Eli bangkit dari tempat duduknya saat suara itu bertriomakin keras seakan dia berada diambang Kematian, dan bergerak menuju keasal suara. Guru yang mengajar melihat Eli tiba-tiba bangkit dan berlari keluar kaget dengan sikapnya.
“Elisabeth islan, kau ingin kemana dijam pelajaran tanpa izin?” tanya guru itu, namun Eli sama sekali tidak meliriknya dan hanya berbalik sesaat sebelum kembali berlari sambil memegang kepalanya.
Eli menuruni tangga sekolahnya dan terus berlari mengikuti dimana sumber suara itu.
Semakin lama Eli berlari semakin menjauh dia dari sekolahnya dan tanpa sadar dirinya memasuki lingkungan universitas. Hari itu merupakan hari dimana Unversitas diliburkan karenanya Universitas menjadi sangat sepi.
Eli memasuki universitas dengan wajah penuh pertanyaan. Eli menelusuri setiap koridor-koridor kampus yang dirasanya sebagai tempat dari suara itu berasal.
“Siapa disana? Ada apa denganmu?!” teriak Eli saat suara ditelinganya semakin jelas, tapi tidak ada yang menjawabnya selain hanya gema teriakannya sendiri dan kesuraman dari universitas X.
Namun suara ditelinga Eli semakin keras membuat Eli berteriak sambil menutup telinganya.
“Siapa itu?! Keluarlah! Berhenti berteriak!” Eli berjalan tanpa arah saat suara ditelinganya semakin keras hingga Eli menghentikan langkahnya dan berjongkok sambil menutupi telinganya yang mulai terasa sakit.
“Akh!!! Berhenti berteriak! Sakit!! Aaaa!!” Eli meronta ditanah saat tiba-tiba suara ditelinganya berhenti dan menghilang begitu saja.
Eli yang sudah tidak tahan jatuh pingsang dihalaman salah satu gedung universitas malam itu.
***
Bulan purnama terbit menggantikan matahari dan mengawali malam yang terang dengan cahaya bulan.
Universitas X diliputi kegelapan saat cahaya senter telihat bergerak-gerak disalah satu koridor kampus. Penjaga malam sedang patroli saat tanpa sengaja menemukan seorang gadis kecil dihalaman salah satu gedung.
“Hei nona, apa yang kau lakukan disini?” tanya penjaga sambil menepuk-nepuk pundak Eli. Namun tidak ada reaksi darinya.
Penjaga itu membalik tubuh Eli dan melihat darah mengalir ditelinga gadis kecil dihadapannya. Penjaga itu kaget dan berfikir mungkin gadis ini telah menjadi tuli. Dia berniat membopong tubuh Eli dan membawanya keluar dari sana untuk diperiksa dirumah sakit namun sesuatu menahan pundaknya.
Penjaga itu melirik pada pundaknya dan melihat tangan putih pucat seperti kertas, menggenggam Erat kepundaknya. Ekspresi diwajah penjaga menjadi buruk dan tubuhnya bergetar melihat tangan itu. Saat berikutnya penjaga itu merasakan sesuatu dengan cepat menembus ditengah dadanya dan pandangannya terpusat pada sebuah linggis hitam yang berkarat sudah bersarang didadanya entah sejak kapan.
“….” Penjaga menatap kosong kearah linggis didadanya, dia bahkan belum melihat siapa yang membunuhnya saat ruhnya telah meninggalkannya dan tubuhnya perlahan tumbang ketanah dalam kondisi tidak bernyawa dengan ekspresi penuh pertanyaan.
________
__ADS_1
**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.
Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**