
Sean memiliki tulisan tangan yang rapi dan jelas, sedangkan tulisan pada puisi itu rapi namun memiliki gaya yang rumit walaupun masih bisa dibaca hanya dengan sekali pandang.
Eli membaca setiap kata dan terhenti pada kata-kata terakhir pada setiap puisi.
Pada puisi yang mengambarkan Sean tertulis “Mengurung jiwa dalam kertas tipis dengan tinta semurni susu”
Sedangkan pada puisi yang mengambarkan Hemswroth tertulis “Mengurung jiwa dalam kertas dengan tinta semerah darah”
Eli memperhatikan kata ini dan menatap pada dua kata yang berbeda ‘semurni susu’ dan ‘semerah darah’.
Pada dasarnya setiap kata bermakna mengurung jiwa, sedangkan pada setiap akhir kata memiliki makna yang berbeda.
Itu 'semurni susu' dan 'semerah darah' apakah ini saling berhubungan. apakah itu menjadi sebab kedua tinta puisi itu berbeda?
Eli memikirkan semuanya dan memiliki dugaan dalam pikirannya.
Dia menatap Hemsworth dengan senyum diwajahnya.
“Aku menyadarinya sekarang kau datang sejak aku selesai membaca puisi itu bukan? Sebelumnya aku berpikir cahaya hitam saat aku membaca puisi adalah hanya halusinasiku saja, tapi sepertinya aku salah. bukan begitu?" Eli menjelaskan dengan wajah penuh ketenangan dan ketakutan telah lama menghilang dari wajahnya.
Mendengar ini, wajah Hemsworth menjadi buruk.
“Jika aku menebak dengan benar, maka seharusnya tidak terlalu sulit untuk mengurungmu kembali” Eli tersenyum dengan penuh kemenangan.
Hemsworth mendekati Eli dengan kecepatan tinggi saat Eli masih menjelaskan. Iinggis ditangannya tanpa aba-aba kembali menuliskan garis panjang diwajah Eli.
“Akh!!! Mataku!!” Eli menutupi kedua matanya. Mata yang sebelumnya terluka juga terkena sayatan dengan linggis dan membuat darah yang sebelumnya sudah berhenti kembali mengalir dan seketika itu juga Eli terjebak dalam kegelapan yang tiba-tiba.
Seketika Eli bingung dan ketakutan, saat tidak bisa melihat apapun disekitarnya selain dari pada kegelapan sepanjang dia melihat.
Eli diliputi rasa ketakutan bahwa Hemsworth tiba-tiba akan menyerangnya tanpa dia bisa menghindar.
Saat ini buku catatan Sean terlintas dibenaknya.
Eli segera berlutut dilantai dan meraba-raba sekitarnya, mencari keberadaan dari buku kecil catatan Sean. Buku itu merupakan satu-satunya harapannya namun karena serangan yang mendadak sebelumnya Eli menjatuhkan buku itu.
Dia hanya butuh darah untuk menyegel Hemsworth kembali, namun sebelum itu Eli harus menemukan bukunya.
Eli terus meraba saat ujung jarinya sudah menemukan buku itu, benda berat dan dingin menembus tangannya.
__ADS_1
“Akh!!” Eli ingin menarik tangannya namun linggis itu menancap dan menembus tangan Eli membuatnya tidak bisa menggerakkan tangannya seakan tangannya terpaku dilantai.
Disela teriakan Eli sesuatu yang hangat perlahan-lahan dia rasakan. Awalnya Eli merasa itu hanyalah karena dia sedang berkeringat disebabkan dari ketakutannya, namun semakin lama ‘kehangatan’ itu berubah menjadi panas dan semakin panas setiap waktunya.
Linggis ditangan Eli tercabut, membuat ringisan kecil lolos dari bibirnya.
Belum selesai Eli menghembuskan nafas lega ketika benda keras itu menembus punggungnya dan menghantam lantai atap menimbulkan dentingan yang menggema diseluruh kampus X.
Gerakan Eli terhenti saat linggis menusuk tubuhnya seakan tidak percaya. Eli menatap pada dadanya namun hanya melihat kegelapan. tangannya bergerak meraba-raba dimana dia tertusuk dan menemukan benda keras yang dingin tertancap disana.
Darah menyembur keluar dari mulut Eli dan berceceran dilantai.
Tangan Eli meraba-raba lantai dan mendapatkan sebuah ujung tipis buku. Eli meraihnya ingin memeluknya saat panas disekitarnya segera melahapnya dan dia meronta dalam kepanasan yang ekstrim.
Hemsworth menatap Eli yang berada dalam kobaran api dengan senyum kemenangan.
Eli terus berteriak-teriak kesakitan, panas ditubuhnya sangat kuat hingga Eli merasa kulitnya melepuh dalam sekejap hingga tulang-tulangnya seperti mau meleleh saat itu juga.
“…”
Gerakan Hemsworth terhenti dan mematung ditempatnya. Matanya bergerak bingung saat tatapannya jatuh pada buku kecil yang saat itu telah digenangi cairan dari muntahan darah Eli.
Mata Hemsworth terbelalak saat menyadari bahwa Eli sudah menyegelnya kembali kebuli itu sebelum dia terbakar dalam Api.
Perlahan-lahan tubuh Hemsworth tersedot masuk kedalam buku. Dia berteriak kerah hingga akhirnya seluruh tubuhnya menghilang tidak meninggalkan debu sedikitpun.
Eli meronta dan terus berteriak kesakitan saat tanpa sadar menabrak ujung atap dengan keras sebelum tubuhnya terbalik dan jatuh dari ujung gedung atap pusat penelitian Universitas X.
Cahaya api yang bergerak cepat terjatuh dari gedung lantai lima menimbulkan pemandangan seperti meteor telah jatuh dan mendarat di depan gedung tua itu. meninggalkan tubuh kecil dengan rambut yang sudah menghitam karena gosong dengan kulit yang lengket dan menghitam. sungguh kematian yang sangat tragis.
Saat bersamaan buku kecil dilantai terbuka dan perlahan-lahan karekter-karakter kecil muncul dengan tinta berwarna abu-abu.
“Kasih sayang sedalam lautan,
Kegigihan setinggi langit,
Menghilang dalam sinar bulan,
Jatuh kedalam kegelapan tanpa batas,
__ADS_1
Mengurung jiwa dalam sebuah kertas tipis dengan tinta serumit abu,
Elisabeth islan”
Bersamaan dengan selesainya puisi itu, karakter gadis kecil cantik yang ceria muncul diatas puisi, begitu juga dengan kedua lainnya. pada puisi yang menggambarkan tentang Sean muncul karakter pemuda tampan dalam balutan Jas kedokteran dengan kacamata tipis membingkai dihidungnya yang mancung. senyum lembut tercetak hingga kematanya yang berbentuk bulan sabit.
Pada puisi Hemsworth muncul sosok hitam dengan mata Semerah darah. tidak seperti dua puisi lainnya karakter yang muncul diatas puisi Hemsworth tidak jelas selain dari sosok yang terlihat seperti iblis tersenyum licik dengan linggis ditangan kanannya.
***
“…..”
Sean menatap Louis yang pandangannya terpaku pada gedung tua dengan tanaman rambat dimana-mana.
Perasaan Louis sekarang sangat tidak karuan. Mendengar kisah Eli membuatnya merasa, apakah dunia sekejam itu? Membuat seorang gadis kecil polos dan murni menjadi pembunuh, bahkan kematiannyapun tidak pernah terlintas dalam pikiran Louis sebelumnya.
Begitu tragis dan berdarah...
Mereka berdua terdiam beberapa saat, dan pandangan mereka terpaku pada gedung tua lantai lima dihadapan mereka.
Louis seperti bisa melihat penampakan sesuatu yang bercahaya terjatuh dari gedung tinggi itu diiringi dengan teriakan melengking yang memilukan, dan menghantam lantai didepan Gedung pusat penelitian Universitas kesehatan X.
“Lalu…. bagaimana dengan Sean Kingston yang aku lihat itu…?” tanya Louis namun pandangannya masih pada gedung tua lantai lima itu.
Sean tersenyum ringan saat mendengar ini. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya ringan.
“Hemsworth ini dilahirkan kembali setelah Eli membaca puisi itu bukan? Jika begitu maka…Sean Kingston seharusya juga dilahirkan kembali. Apa aku benar?....” Louis menatap pada Sean yang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Louis.
“Hm…” Louis juga ikut tersenyum dan mereka kembali menatap pada Universitas X dihadapan mereka.
Angin sepoi-sepoi bertiup dan membawa kedamaian pada Sean dan Louis. Kedamaian yang sudah tidak pernah mereka rasakan beberapa hari terakhir. Kedamaian yang mereka rasakan ini entah baik atau buruk tidak ada yang tahu…..
Yang mereka tahu, jika mereka bisa bersantai walau hanya sesaat, bahkan jika itu hanya untuk sekedar menghela nafas lega itu lebih baik daripada tidak sama sekali….
____________
**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya.
Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**
__ADS_1