
Eli mengerjapkan matanya saat kesadarannya kembali. Dia menatap kesekitarnya dan menemukan dia terbaring dilantai semen yang luas. Bulan purnama tampak sangat besar sehingga itu seperti kau seperti bisa meraihnya dari atas sana.
“Dimana…” belum selesai Eli bertanya saat dihadapannya muncul sosok yang selama ini menghantui pikirannya. ‘Sean’ menatap Eli dari ujung lantai bangunan yang Eli tahu merupakan atap gedung pusat penelitian Universitas kesehatan X.
“Kak …Sean…” ucap Eli dengan suara rendah dan terbata-bata.
‘Sean’ tersenyum lembut melihat Eli dan merentangkan tangannya memberi Eli isyarat untuk memeluknya.
Air mata Eli mengalir deras dan langsung menghamburkan diirinya kearah ‘Sean’.
“Kak Sean…aku..aku minta maaf…seharusnya.. seharusnya yang mati hari itu adalah aku…aku sudah mengecewakan kakak..” Eli terus mengoceh sambil menangis dalam pelukan ‘Sean’, hingga jas putih pemuda itu tampak basah karena air mata Eli. Namun ‘Sean' sama sekali tidak menjawabnya membuat Eli berfikir bahwa Sean masih marah padanya dan terus meminta maaf sambil menyalahkan dirinya sendiri, karena membuat Sean merasa kecewa.
“Hm?...tentu saja. kau... akan mati…dan menyusulnya pergi…” suara diatas kepala Eli membuat Eli menghentikan ocehannya. Suara itu dingin dan penuh keangkuhan.
Eli bertanya-tanya bahwa itu bukanlah suara Sean, dia melepaskan pelukannya dan mundur dari sana dengan cepat. Melihat kearah ‘Sean’ yang sebelumnya telah dipeluknya;
Namun matanya terbelalak saat pandangannya menangkap sosok yang tidak asing itu, sosok yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Dihadapannya sekarang telah berdiri sosok hitam dengan mata semerah darah, didadanya terdapat luka dalam yang menembus tubuhnya membuat Eli bisa melihat sisi lain dari gedung dibelakang sosok itu. Kepalanya berdiri tegak diatas lehernya namun garis tipis terlihat pada lehernya, yang Eli ketahui bahwa kepala itu sudah hampir terlepas karena dia sendiri yang memotong leher itu!!
Itu adalah si tua Hemsworth!!
Mata Eli terbelalak saat menatap Hemsworth yang sekarang juga menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
“Kau?..bagaimana kau bisa…” Eli mundur setiap kali dia berkata dan menjauh dari jangkauan Hemsworth. “Kau seharusnya sudah mati….kau..” sambil menatap Eli yang ketakutan Hemsworth terus tersenyum dan tertawa membuat Eli semakin merasa terancam.
Ditengah ketakutannya, Eli menatap pintu keluar yang menghubungkan antara atap dengan lantai lima. Tanpa basa basi Eli memacu kakinnya mendekati pintu keluar,
Namun sebelum kakinya menyentuh tangga pintu keluar, Eli merasa tubuhnya menjadi lebih ringan dan pandangannya jatuh pada kakinya yang sekarang melayang diudara.
__ADS_1
“Apa yang…” Eli membelalakkan matanya melihat dirinya melayang diudara, beberapa orang mungkin merasa senang dengan hal seperti ini, namun saat ini Eli tidak tahu penyebab mengapa iya bisa terbang.
Hemsworth tertawa lantang dan dalam satu tarikan nafas leher Eli sudah berada dicengkraman Hemsworth.
“Akh! Lepaskan aku..ekh!” Eli berusaha melepas tangan Hemsworth dari lehernya namun tangan itu sangat keras seperti besi dan dingin seperti es.
“…Kau akan menyusul Sean sekarang…. Berterima kasihlah padaku… Hehehe” Hemsworth mencengkram leher Eli dengan keras, itu tidak mematikan namun Eli merasakan kesakitan yang kuat hingga dia terbatuk-batuk dan darah keluar dari mulutnya.
Eli memberontak dan menatap Hemsworth dengan mata merah penuh kemarahan.
Eli mengertakkan giginya dan saat berikutnya kakinya melayang menghantam tubuh Hemsworth hingga tangan pihak lain terlepas dari lehernya.
Eli terjatuh dan menghantam lantai namun dengan segera dia bangkit untuk melarikan diri dari sana.
“Mau kemana nona kecil?....” Hemsworth tiba-tiba muncul dan menghadang jalan Eli, dengan wajah dingin.
“Apa kau bodoh karena menjadi hantu?! Tentu saja aku mau lari sialan!” Eli menabrakkan tubuhnya pada Hesmworth berharap pria tua itu bisa terjatuh dan membuat jalan untuk dia bisa melarikan diri.
Eli terpental muncur karena perbuatannya sendiri dan mundur beberapa langkah kebelakang.
“Hahahaha..gadis kecil kau ingin mencoba menjatuhkanku dengan tubuh kecilmu itu? Apa kau tidak sedang membuat lelucon?” Hemsworth tertawa terbahak-bahak menatap Eli yang terlihat bodoh dimatanya “Oh ya, bagaimana dengan hadiah penyambutanku beberapa hari terakhir ini?” tanya Hemsworth dengan senyum penuh makna.
Eli terlihat berfikir disela ketakutannya. ‘penyambutan?’ apa maksudnya….
Apakah yang terjadi beberapa hari terakhir adalah perbuatannya?
Memikirkan ini tiba-tiba Eli diliputi kemarahan dan menunjuk kewajah Hemsworth.
“Kau pria tua gila! Beraninya kau meniru kak Sean yang jenius! Kau pembunuh! B*jingan gila!....” Eli terus mengoceh dan mengumpat pada Hesmworth.
__ADS_1
Sementara wajah Hemsworth perlahan-lahan semakin dingin dan senyumnya menghilang dari wajah seramnya.
“Aku benar-benar bodoh, aku percaya apa yang kulihat selama ini adalah kak Sean dan membuatku selalu diliputi rasa bersalah. Seharusnya aku tahu kak Sean tidak akan melakukan hal seperti itu bahkan walaupun dia mati!” Eli menatap Hemsworth. “Itulah perbedaan kak Sean yang murni dengan kotoran seperti dirimu!...Akh!!!” Eli menutupi salah satu matanya saat linggis ditangan Hemsworth menyayat salah satu matanya dengan tiba-tiba.
“Akh!! Kau..” tangan Eli sudah berlumuran darah karena menutupi matanya. Eli berlari mundur dan menabrak dinding pembatas atap, saat sebuah suara terjatuh terdengar ditelinganya.
Matanya yang tidak teluka tampak menatap kebawah dan pandangan Eli menyapu buku kecil yang telah terbuka, menampakkan kertas hitam dengan tulisan semerah darah…
Mata Eli terbelalak saat melihat sebuah kata muncul satu persatu dipuisi terakhir dimana terdapat titik-titik disana. Kata-kata yang sebelumnya tidak pernah berada disana.
“Daniel Hemsworth”
Itu adalah puisi yang menggambarkan tentang Hemsworth!!!
Sebelumnya puisi pertama penuh dengan kata-kata pujian yang bijaksana dan sesuai dengan kepribadian Sean yang ramah dan bijaksana.
Sementara pada puisi kedua penuh dengan kebencian dan kegelapan, selain daripada itu, tulisan itu ditulis dengan sesuatu yang berbeda.
Puisi yang mengambarkan Sean memiliki tinta putih yang melambangkan kesucian dan kemurnian, sedangkan pada puisi yang menggambarkan tentang Hemsworth ditulis dengan tinta semerah dara dan penuh dengan aura kegelapan yang menyeramkan.
Seharusnya Eli tahu yang sebenarnya sejak awal, Sean bukan tipe orang yang akan menuliskan sesuatu yang penuh dengan omong kosong. Sean bukan seseorang yang memiliki jiwa seni dan sama sekali tidak mengerti puisi. Namun dalam buku itu, terdapat puisi pendek dengan makna yang mendalam dan kaya.
Eli memperhatikan ini dan meraih buku itu dan memeriksanya sekali lagi. Tulisan tangan Sean yang berisi catatan kecil dari setiap eksperimennya dan puisi yang tertulis dibuku itu sangat berbeda.
Itu benar-benar bukan tulisan Sean! lalu bagaimana itu bisa ada disana sekarang? siapa yang menulisnya?...
Eli menatap tulisan dibuku itu dan mencermatinya dengan baik, mencoba mengetahui apa yang terjadi pada buku itu.
_________
__ADS_1
**Buat yang sudah membaca sejauh ini silahkan berikan vote dan like pada setiap chapternya, agar penulis dan pembaca bisa saling menghargai.
Dukung author dengan memberikan vote like tip dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇**