
Beragam kegiatan yang menyita waktu kadang terasa membuat perputaran matahari terlampau cepat hingga tanpa sadar telah berada dipenghujung waktu seperti yang dilakukannya Dewa, berkemas setelah merampungkan pekerjaan.
"Wa! Lo udah siapin barang buat ospek?"
Tanpa aba Selena muncul mengagetkan Dewa sekaligus mengingatkan kelupaannya tentang pelengkap yang dibahas pada forum diskusi kemarin malam.
"Sial! Hampir aja lupa, makasih udah ingetin gue Sel."
"Jadi lo belum beli? Gue juga belum, kalau bareng gimana? Mobil gue belum balik."
"Boleh, aku juga baru di kota ini, kamu arahin aja tempatnya."
Selena tersenyum penuh lalu dengan semangat membara menarik tangan Dewa keluar kafe untuk menaiki motor.
Sibuk mencari perlengkapan bersama, mengunjungi banyak toko dalam pusat perbelanjaan mereka lakukan bersama hingga matahari telah tenggelam di arah barat.
Dewa sedikit panik melihat jam yang melingkari tangannya, memikirkan Wulan yang pasti cemas seperti kemarin malam.
"Sel ternyata udah maghrib, engga terasa. Kita pulang ya."
"Baru juga jam segini, ayolah puas-puasin mainnya, sebelum sibuk sama tugas kuliah." Kata Selena sembari mengusap peluh, lelah karena bertanding memasukkan bola di Timezone bersama Dewa.
"Lagian kita baru main sekali loh di Timezone, aku mau cobain semua permainan."
Ajakan Selena begitu menggiurkan, bersenang-senang tentu semua orang suka namun batin Dewa mulai tidak tenang memikirkan Wulan di rumah.
"Kita pulang sekarang!"
"What!" Selena membola saat tangannya digenggam lalu ditarik begitu saja. "Ah Dewa lo engga asik."
Seteleh mengantar Selena, Dewa melanjutkan kendaraan di atas batas maksimum karena keinginan hati untuk segera menemui istri.
Turun dari motor untuk membuka gerbang, matanya tanpa sengaja melihat ember cucian yang sama sekali tidak tersentuh. Lelaki itu kebingungan melihatnya.
"Asalamualaikum!"
Kesenyapan yang menyambut, Dewa kira akan menghadapi kemarahan Wulan atau semacamnya namun rumahnya seperti tidak ada tanda kehidupan.
"Lan? Aku pulang!"
"Lan?"
Kepanikan melanda, jika tadi langkah Dewa santai kini dia berlari menuju kamarnya dan baru bisa bernafas lega saat melihat istrinya tertidur di atas ranjang.
Sebelum mengecek keadaan Wulan, Dewa memutuskan untuk membersihkan diri mengingat istrinya sangat mencintai kebersihan.
Usai mandi dengan rambut yang masih basah, duduk di tepi ranjang lalu mengusap kepala istrinya selembut mungkin.
__ADS_1
"Lan? Bangun dulu yuk sholat."
Wulan menggeliat dalam tidurnya lalu perlahan membuka kelopak mata.
"Dewa?"
"Iya, bangun yuk sholat dulu entar tidur lagi."
"Aku hamil."
"Hah?!" Kaget Dewa dia bahkan sampai berdiri saking tak percaya yang dikatakan Wulan.
"Aku mengandung Dewa, hamil!" kesalnya.
"Kok bisa?! Sama siapa?"
Tangan Wulan gatal untuk menggosok mulut Dewa, kaget wajar tapi pertanyaan suaminya itu membuat berkali-kali kekesalan.
"Sama jin! Ya sama kamu Dewa suami aku yang paling ganteng! Tanggung jawab! Ini hasil kamu tiap malem maksa jatah."
Dewa menggaruk tengkuknya. "Tokcer juga ya. Hebat banget spermaku."
Jika ada pelelangan suami, Wulan ingin mendaftarkan diri. Entah mengapa Tuhan mengirimkan jodoh berbentuk Dewa yang jauh dari ekspektasi.
"Sekarang ini jadi masalah baru, kamu pikir Mama bakal seneng denger aku lagi hamil?"
"Makasih ya sayang, kamu jangan khawatir masalah mama biar aku yang urus."
Wulan melepas paksa tangannya. "Bisa engga kita gugurin saja?"
Dewa makin syok dengan sikap acuh Wulan. "Kamu ngomong apa? Tega ya kamu! Dia anakmu, kamu ibunya Lan, kenapa kamu bisa ngomong gini?"
Kegusaran tercetak jelas diwajah Wulan. "Kamu engga bakal ngerti."
"Ya karena aku engga ngerti harusnya kamu kasih tahu. Apa yang membuat kamu kepikiran begitu?"
"Aku rasa kita sama-sama belum siap untuk ini."
"Tuhan saja kasih kepercayaan, kenapa kamu bisa bilang gitu, jangan cari alasan. Kenapa? Apa karena kamu engga cinta sama aku jadi engga sudi menerima anakku?"
"Dewa!"
"Benerkan? Kamu itu selalu aku perhatikan Lan, meski engga bicara aku tahu kamu enggan menjalani pernikahan ini."
"Tapi engga apa, aku maklumi Lan. Aku tahu berat untukmu menerimaku yang jauh dari harapan kamu, tapi kalau kamu sampai berfikir mengakhiri kehidupan yang baru dibentuk aku kecewa sama kamu."
Wulan mengusap wajahnya kasar, dia ingin berteriak. "Lalu apa kabar kamu dan orang tuamu yang memaksaku menjalani pernikahan yang tidak pernah aku inginkan? Bagaimana aku yang setiap harinya dihantui perasaan takut? Aku capek Wa, aku engga sanggup kalau ada beban lain."
__ADS_1
"Aku terima segala omongamu tapi jangan sekalipun kamu berpikir kalau anakku beban!"
"Kalau bukan beban apa?! Dia yang akan menjadi penyebab rasa sakitku kedepan! Dia yang akan membuatku dimarahi Mama, d----"
"Cukup Wulan!" teriak Dewa yang kini sudah berdiri sembari menatap istrinya yang menangis.
"Aku sudah memperingatimu, aku tahu kamu takut disalahkan sama Mama tapi coba kamu lihat aku sekali aja Lan, percaya sama suami payahmu ini!"
Tak sanggup berdebat lagi akhirnya Wulan memilih menangis meluapkan emosi yang tertahan sedangkan Dewa menyadarkan tubuh ke tembok dengan dada naik turun.
"Kamu boleh tidak mencintaiku, tapi jangan pernah benci anakku."
Setelah semalaman merenung akhirnya keduannya memilih saling menguatkan untuk menelepon para orang tua, untuk keluarga dari pihak Wulan tidak ada yang perlu dikahwatirkan dan kini giliran pihak Dewa yang tengah dihubungi.
Nada tersambung mengudara, Wulan makin panik kemudian menggenggam tangan Dewa yang dibalas senyum oleh suaminya.
"Halo Dewa?" suara Mama disebrang terdengar kian membuat Wulan pucat.
"Malam Ma, maaf menganggu ada yang mau Dewa bicarain."
"Kenapa? Wulan engga bisa ngatur keuangan?"
Dikata seperti itu membuat perempuan berambut pendek itu dongkol, semakin tidak bisa berfikir baik tentang respon mertuanya.
"Bukan Ma, Dewa mau kasih kabar baik."
"Kabar apa Wa?"
"Wulan hamil Ma."
Hening untuk sekian detik, Wulan kian mengencangkan genggaman tangannya pada Dewa sembari menutup mata.
"Besok kami kesana!"
Tut!
Panggilan diputuskan sepihak, mendengar itu Wulan panik sekaligus takut menghadapi kemarahan mertuanya.
"Wa sudah aku bilang," tangisnya.
Melihat istrinya terpuruk Dewa berinisiatif memeluk, mengusap punggung Wulan berharap menenangkan batin yang bergejolak.
"Ada aku Lan, apapun akhirnya kita harus terus bersama. Kita hadapi semuanya berdua. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Wulan tidak tahu harus merespon apa, ia hanyut dalam tangis sembari memeluk Dewa erat.
"Aku ada disini, aku suamimu."
__ADS_1