
Memasukan makanan Jepang favorit keduanya bersamaan dengan Dewa yang terus menatap Selena penuh tanda tanya, sedangkan yang diperhatikan memilih menikmati sensasi luar biasa dalam mulut.
"Kenapa Dewa? Jangan lihatin gue gitu. Merasa dikuliti nih," tegur Selena lalu manik hidup mereka bertemu.
"Maaf, tapi gue beneran penasaran sama gebetan lo."
"Makan!" titahnya melayangkan sebuah sashimi di depan mulut Dewa.
Mungkin jika pertama kali diperhatikan seperti itu oleh Selena, Dewa merasa canggung kendati sekarang karena telah terbiasa ia menjadi merasa tak ada yang aneh.
"Kenapa lo nanya gitu ke gue? Merasa takut kalah saing sama gebetan gue?"
"Bukan gitu Sel, gue engga enak aja."
Sumpit di tangan gadis itu diletakkan sebelum menghembuskan nafas dan menatap Dewa lekat cukup lama.
"Kita ke kafe yuk! Sejam lagi giliran Shift lo."
Mengalihkan perhatian membuat Dewa mengurungkan niat menggali lebih, kenyamanan Selena lebih utama ketimbang rasa penasaran.
Sepeninggal Dewa ke kafe, Selena yang perasaannya campur aduk memilih meninggalkan tempat itu dan kembali mengendarai mobil menuju rumah Vierra.
Menaruh anak rambut di belakang telinga Vierra lakukan sebelum duduk berdampingan dengan Selena dengan bantal sofa sebagai penutup paha yang diumbar bebas.
"Kenapa lo ke apartment gue? Mana ini wajahnya kusut, ditolak Dewa?"
Selena berdecak. "Perasaan gue engga karuan, sialan banget anak kampung itu."
Vierra tertawa sampai memegangi perut. "Ucapan lo merendahkan banget, tapi meski gitu lo suka. Jadi sama aja mengakui kalau selera lo kampungan?"
"Sialan emang, gue kira setelah lulus SMA gue berbaur dengan berbagai kalangan bakal menciptakan suasana yang baru tapi malah gue dibuat baper eh dijatuhin gitu aja."
"Sejak pertama kali gue kenal kalian udah bisa menebak lo suka sama Dewa, yakali cowok itu engga paham. Setara lo sering banget kodein dia."
"Engga tahu tuh, dan yang terbaru lo mau mau tahu apa?"
"Apa?" Wajah Vierra menunjukkan keantusian.
"Gue tiba-tiba diajak ke mall, habiskan waktu berdua terus saat gue ngode dia cuma kayak anak kucing kejebur got." Selena menggeram. "Beneran engga ada inisiatif buat apa gitu, mana gue uda kepedean bakal ditembak. Sialan emang itu anak!"
"Udahlah lupain aja Dewa, cowok lurus baik-baik kayak dia engga cocok di kota penuh tipu-tipu ini."
Selena menjentikkan jarinya. "Lo engga punya otak? Yakali gue lewatin cowok langka kayak dia, kalaupun nanti kita tinggal di desa juga fine-fine aja gue malah bagus karena gue dapatkan kehidupan yang tenang."
Vierra menatap tak yakin. "Lo yakin kuat? Kehidupan di desa berbanding terbalik dan gue tahu tabiat lo, susah girls! Engga usah melewati batas."
"Vierra please! Kalau gue engga yakin udah sejak pertama kali dia datang engga bakal gue deketin secara lebih. Gue merasa cinta mati sama dia."
"Makan tuh cinta!" geram Vierra, perempuan itu menilai Dewa dan Selena cocok sebagai pasangan kekasih namun tidak untuk menjadi suami istri.
__ADS_1
Detik jarum jam mengusik telinga dikamar yang senyap, pasangan yang tiduran di atas ranjang sesekali melirik satu sama lain bergantian mengharapkan bibir salah satu dari mereka bergerak.
Menghembuskan nafas untuk membuka percakapan Wulan lakukan. "Maaf."
"Hah?"
Berdecak kesal dengan respon Dewa. "Engga denger aku minta maaf."
Dewa mendengus. "Kalau engga ikhlas engga perlu."
"Engga usah sok tahu deh, ini tulus dari hati."
"Mana ada tulus ngomongnya ketus gitu."
Menutup mata. "Dewa yang paling ganteng maafin aku."
Lelaki itu tertawa karena merasa gemas lalu menatap Wulan. "Jadi aku ganteng?"
Wulan mengambil bantal guling sebelum melempar pada Dewa.
"Ya Allah galak banget."
"Lagian aku udah minta maaf digituin, siapa yang engga marah," dengus Wulan.
Dewa mendekat dengan wajah memelas. "Uluh sudah sini jangan nangis."
Kalimat itu menghentikan tangisan Wulan, dia menatap sengit Dewa yang merentangkan kedua tangan.
"Peluk!"
"Engga mau!"
"Lah kok gitu?" cengo Dewa.
"Engga mau dipeluk Dewa."
"Iya kenapa engga mau dipeluk? Sana suami sendiri masa gitu."
Mengerucutkan bibir. "Dibilangin engga ya engga, aku males deketan sama kamu."
"Ya Allah aku salah apa Lan?" frustasi Dewa, padahal baru berbaikan dan diotaknya saja telah terlintas adegan mesra.
"Engga mau deket aja Dewa, udah aku mau tidur. Capek!"
Sembari menekuk wajah Dewa ikut membaringkan tubuh lalu memeluk istrinya, tak lama Wulan menggeliat tak nyaman.
"Dewa dibilang engga mau deket."
Kini wajah keduanya begitu dekat, karena gemas Dewa mengapit hidung Wulan yang membuat perempuan itu menggeram marah.
__ADS_1
"Sebel!"
"Lagian kenapa si engga mau deketan? Masa engga kangen belaian tangan aku?"
"Engga tahu."
Karena tidak ada penolakan Dewa menciumi pipi dan kening istrinya gemas.
"Engga boleh gitu sama suami."
"Wa aku jadi inget sesuatu."
"Apa?"
"Kamu tadi kemana?"
"Kerja."
Menggeleng. "Sebelumnya, kamu engga ada kabarin aku. Kamu engga aneh-anehkan?"
Meneguk ludah kasar. "Cuma cari ketenangan."
Mata Wulan berkaca. "Wa meski kita nikah karena perjodohan dan sekarang baru mencoba saling mencintai tapi statusku jelas sebagai istri. Kamu engga boleh menduakan aku."
"Aku tidak sudi menerima madu, jika aku punya kekurangan kamu bisa tuntut aku untuk melengkapi tapi tidak untuk mencari pengganti."
Wulan menarik telapak tangan Dewa untuk singgah di perutnya. "Demi dede bayi, kita harus tetap bersama. Kamu engga pengen dia kehilangan rumahnya kan Wa?"
Dewa tertegun, hatinya melunak lalu tanpa sadar meneteskan air matanya mengingat selama ini hatinya sedikit tergugah pada sosok Selena.
"Maaf."
Lelaki itu memeluk istrinya kencang, menangis bersama membayangkan hari dimana tidak pernah diinginkan oleh setiap pasangan waras dimuka bumi.
"Aku engga akan ninggalin kalian, aku janji Lan."
"Harus, itu kewajiban kamu sebagai kepala keluarga."
Melalui kegiatan rutin sebagai seorang mahasiswa, Selena, Dewa, Vierra juga Satria duduk di kantin menenangkan para cacing.
"Jaman sekarang serem ya?" Nilai Vierra yang matanya fokus pada gadget.
"Lagi viral itu bukan?" tanya Satria.
"Iya, anak seumur jagung dibolehin sama orang tuanya pacaran sama lelaki yang lebih dewasa bahkan jaraknya sampai puluhan."
"Skip pedofil! Sebenarnya ini pendapat personal tapi orang seperti itu harus dimusnahkan, meresahkan banget." kata Selena sembari menggelengkan kepala.
"Buat kalian nih para cowok kalau mau suka sama orang pikir pakai logika oke. Dan gue engga mau berteman dengan pedofil apapun itu alasannya." Vierra menekankan pada Satria serta Dewa.
__ADS_1
"Sorry girls! Gue lebih suka wanita yang lebih tua karena lebih menantang, apalagi kalau janda," tawa Satria yang mendapat gelengan para gadis.
"Janda lebih menggoda ya kan Sat?!"