Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
16. Lo Gak Asik


__ADS_3

Akhir pekan dengan Shift kedua membuat Dewa menyusun rencana mengajak Wulan keluar, dia sadar kemungkinan perempuan itu tertekan karena hanya di rumah.


"Wa aku malas, kita di rumah aja."


Penolakan Wulan membuat keantusiasannya tak surut, dengan rengekan khasnya melingkari perut istrinya dari belakang disaat perempuan itu tengah memasak.


"Dewa ih dibilang engga ya engga."


"Masa cuma diem di rumah, apa kamu engga bosen?"


"Bosen? Yang selalu terkurung itu aku dan hanya aku yang tahu setiap bosan itu seperti apa. Kamu mah enak kuliah ketemu banyak orang."


"Karena itu ayo Lan sesekali keluar tiap aku libur."


"Kamu nanti sore kan kerja, kecapean terus sakit aku juga yang repot."


Dewa malah merasa nyaman dengan posisinya bahkan sesekali mengecup leher Wulan.


"Minggir ya Allah Dewa! Kamu itu menganggu kegiatan masak aku."


Lelaki itu menumumpukkan dagunya di atas bahu Wulan. "Kamu engga bakal ngerti enaknya, ini nyaman sekali."


"Iya kamu kan emang hobby ganggu aku, kebiasaan! Udah sana duduk main handphone apa gimana."


"Galak banget." Mencium pipi Wulan. "Aku jadi kepikiran nih."


"Kepikiran apa? Uang listrik?"


"Bukan, aku kepikiran kalau anak kita udah lahir pasti engga bakal bisa gini lagi."


"Baguslah jadi tidak ada yang menganggu aku."


Mengerucutkan bibir. "Ah Wulan engga romantis."


"Romantis itu kalau kamu bawain aku minyak sepuluh liter seharga lima ribu, aku bakal sayang banget sama kamu."


"Ish Wulan serius kenapa, malah kepikiran minyak goreng."


"Aku serius, itu pemberian luar biasa."


"Yaudah aku bakal kasih minyak gratis buat kamu tanpa aku mengeluarkan uang."


Kening Wulan mengerut. "Memang bisa? lima ribu aja engga dapet."


"Bisa, tapi sayang disini semua toko punya CCTV, coba warungnya kayak punya Mbok Tijah udah aku bawain buat kamu," tawa Dewa.


"Udahlah bercanda kamu engga mencapai selera humorku."


"Aku jadi inget sesuatu Lan."


"Apaan?"


"Kemarin tugas yang kita kerjain bareng dapet nilai sempurna, padahal itu guru pelit nilai dan semua orang pada kagum sama aku."

__ADS_1


Mendengar itu senyum Wulan terbit. "Wah bagus dong."


"Kamu jangan kepintaran Lan, kalau terus dibantu kamu nanti aku keteteran pas ujian, yakali nilai tugas bagus eh pas tes zonk. Malu aku," cemberutnya.


Wulan tertawa mendengar itu. "Bagus! Jadi kamu lebih keras nanti belajarnya, ayo dong masa kalah sama aku yang cuma belajar otodidak."


"Kita tukeran otak aja ya Lan, baru semester satu aja rasanya gini."


"Ogah menerima otak kamu yang isinya dua puluh satu plus semua."


"Emang kamu engga pernah memikirkan yang kayak gitu juga? Masa si? Kita juga rutin kok begituan, yakali kamu engga sang*e sama kegagahan aku."


Wulan menyikut perut Dewa. "Ngomongnya! Anak kamu denger loh."


Saking gemasnya Dewa menciumi seluruh leher Wulan hingga membuatnya tertawa kegelian.


Rencana duduk di rumah tidak terindahkan karena kengototan Dewa memaksa Wulan terdampar di pusat perbelanjaan yang dulu hanya bisa dilihat melalui televisi.


"Wa yang bener aja, emang kamu ada uang?"


Bukan meremehkan namun gajih sebagai pekerjaan paruh waktu tidaklah sebanyak yang digambarkan sinetron.


"Sekali-kali Lan, lagian uang bulanan dari Bapak masih lebih banyak."


Wulan menatap suaminya serius. "Lebih baik ditabung, kita juga ada bayi Wa. Kalau mau belanja dipasar tradisional ajalah. Gegayaan banget."


Dewa menjadi sensi. "Hargai aku sedikit aja engga bisa Lan? Aku itu sengaja buat bikin kamu seneng tapi respon kamu begini."


"Terserahlah!" Dewa angkat tangan.


Menutup mata berusaha sabar menghadapi suaminya. "Yaudah gimana mau kamu Wa? Aku ikut."


Lelaki dengan potongan belah tengah itu menggenggam tangan Wulan dingin. "Kita pulang aja, membersihkan jendela lebih cocok buat kamu."


"Wa!"


Pertengkaran tak bisa dihindarkan antara keduanya, Wulan yang diam-diam menangis dengan Dewa yang menatap resah namun ego mengusai, ia merasa tidak dihargai sebagai suami.


"Wa mau kemana?" Tanya Wulan setibanya mereka di depan halaman namun lelaki itu menaiki motornya.


"Mencari angin, kamu masuk aja."


Menggenggam tangan Dewa dengan mata berkaca. "Aku minta maaf Wa, tolong jangan begini."


"Masuk Lan."


"Engga, aku khawatir sama kamu."


Menghembus nafas lelah lalu menatap Wulan. "Masuk Lan, nurut apa kata suami."


Mendengar itu langkah Wulan mundur satu kaki, dia menatap nanar kepergian suaminya.


Melihat ke belakang yaitu rumah sederhanahya yang sepi Wulan merasa kian sendiri dan akhirnya berjalan ke rumah sebelah.

__ADS_1


Wulan Septiya untuk pertama kalinya membutuhkan tempat berkeluh, mungkin saat lajang dia masih bisa mengatasi masalah sendiri tetapi bagi Wulan pernikahan dengan Dewa ujian terberat hingga sukar baginya berdiri sendiri. Setidaknya dia punya tempat untuk berbagi, pikirnya begitu.


"Gue sebagai perempuan meski belum nikah cukup paham, tapi Lan Dewa juga engga salah." Bella yang duduk berhadapan dengan Wulan berkata setelah mendengar cerita perempuan itu keseluruhan.


Wulan mengusap arah matanya. "Aku takut, posisiku disini serba salah Bell. Aku engga bisa bebas."


Bella merasa prihatin lalu mencoba memberikan energi dengan menggenggam tangannya.


"Nanti bicarakan sama Dewa, lo jangan emosi sama dia karena egonya lagi tersentil."


"Berat banget Bell."


"Hubungan kalau engga ada pertengkaran hambar nanti, jangan nangis terus entar anak lo ikut nangis perutnya isinya air gimana? Udah ya."


"Sini gue peluk!"


Keduanya perempuan itu menyatu dalam pelukan, tak jauh beda dengan istrinya, Dewa juga kini sedang dalam pelukan wanita lain.


Selena melepas pelukan itu dan melihat wajah kaget Dewa yang membuat tawa gadis putih itu.


"Tegang banget, baru juga dipeluk." Tangan lentiknya mencolek pinggang Dewa. "Kenapa ajak gue ketemuan di Mall? Kangen atau mau ajak gue date?"


"Kalau keduanya?" Dewa menaik turunkan alisnya menggoda membuat hati Selena berjingkrak.


"Baper deh gue nanti."


"Bercanda! Yuk ke Timezone. Gue gabut banget!"


Selena dan Dewa bejalan beriringan sembari melempar canda, pelarian lelaki itu jatuh pada pemilik kafe Magenta karena dirasa hanya Selena yang bisa dirinya ajak bersenang-senang.


Puas menghabiskan energi, keduanya memilih mengisi perut karena para cacing telah berdemo di dalam sana.


Deretan toko dilewati keduanya hingga tatapan Selena jatuh pada manequin depan kaca toko, tanpa sadar berhenti untuk mendekat yang membuat Dewa merasa kehilangan lalu kembali pada temannya.


"Suka gaunnya?" tanya Dewa, berdiri tepat di samping Selena.


Rambut gelombang panjang Selena bergerak saat kepalanya mengangguk. "Jadi pengen beli."


"Beli aja."


Tawa kecil Selena menyembulkan gingsul. "Calonnya yang engga ada, yakali gue beli gaun pengantin disaat gebetan gue belum nembak."


Pengakuan Selena mengejutkan Dewa, ia menatap gadis itu dengan tanda tanya besar di kepala.


"Siapa cowok beruntung itu?"


Menaikkan alisnya sembari menatap Dewa penuh misteri. "Lo tahu atau pura-pura engga paham?"


"Selama ini gue--"


Kalimat Dewa terpotong dengan peringatan telunjuk Selena.


"Mengisi perut lebih penting!"

__ADS_1


__ADS_2