Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
9. Hamil?


__ADS_3

Mengenakkan daster kebanggaan ibu rumah tangga Indonesia, Wulan membawa ember yang berisi pekean ke halaman.


Belum sempat menjemur setelan, sebuah bau daging bakar hinggap membuat perutnya bergejolak lalu terburu meninggalkan tempat.


Di halaman rumah sebelah, Bella yang melihat Wulan segera menjauh dari tungku pembakaran untuk memanggilnya.


"Mba Wulan!"


Meski tak ingin Wulan membalikkan tubuh untuk melihat Bella dengan wajah cerah menyembulkan kepala.


"Gue lagi bakar-bakaran sama anak komplek, gabung yuk biar makin akrab!"


Keringat dingin tak karuan menerpa karena itu Wulan hanya mengangguk lalu berlari masuk ke dalam rumah.


"Lah? Kok malah lari? Apa dia masih marah? Padahal gue cuma menggoda pengantin baru."


"Kenapa Bell?" Seorang gadis berponi yang seumuran dengan Bella menepuk pundaknya.


"Itu tetangga baru, gue ajak dia tapi malah lari. Takut apa ya sama gue?"


"Jujur lo pasti udah bikin mereka gedegkan?" tuduh gadis bernama Lucy itu.


Terkekeh. "Gue cuma menggoda pengantin baru aja kok, lagian mana mau gue jadi pelakor."


"Kebiasaan! Bokap lo tahu baru noh dipanggang lo."


"Biarin!"


"Kalau gitu biar gue aja yang ajak tetangga baru, kayaknya orang baik-baik."


"Silahkan!" ujar Bella lalu kembali membakar sate.


Wulan yang sudah selesai memutahkan isi perut berada di kamar sembari mengoleskan minyak, berharap masuk anginnya segera hilang.


"Assalamu'alaikum! Permisi! Kulonuwun! Sepeda!"


Menghembuskan nafas. "Ya Allah siapa lagi yang datang."


"Iya sebentar!" teriak Wulan sebelum menguatkan diri membuka pintu.


"Hai! Engga ganggukan?"


Wulan menilai penampilan gadis berlebihan berat badan itu lalu tersenyum sebagai ramah tamah.


"Engga, apa ada yang bisa aku bantu?"


"Para anak muda komplek lagi adain bakar-bakaran, gue rasa lo masih bisa gabung sekalian akrabin diri sesama tetangga."


Bau daging kembali menghantui dan gejolak perut serta pusing mulai mempengaruhi tubuh hingga tanpa diminta Wulan limbung ke tanah, membuat Luci panik seketika.

__ADS_1


"Loh kok pingsan?!"


Berjongkok. "Mba! Bangun mba! Tolong! Tolong!"


Kegelapan yang menguasai Wulan lebih dari tiga puluh menit, ketika dia bangun yang dia rasa adalah keberadaan beberapa orang yang mengerumuni.


"Alhamdulillah akhirnya Mba Wulan sadar."


Tidak enak Wulan dibantu oleh tetangganya mendudukan diri di atas ranjang.


"Makasih ya semua, maaf malah jadi ngerepotin."


"Santai aja, yakali bakal dibiarin gitu aja di depan pintu." Bella bersuara.


"Ini kunjungan pertama kalian ke rumah aku malah sakit gini engga bisa sediakan apapun."


"Santai ajalah, sembuh dulu nanti gue bakal nagih makan siang disini," canda Lucy yang mendapat tawa seluruh orang.


Bella menatap para lelaki yang ada disana. "Eh kalian ngapain masih disini?! Bubar saja. Enak aja masuk rumah siang sembarangan."


"Eh ngaca!"


"Apa? Ini juga bakal jadi rumah gue setelah jadi istri keduanya mas Dewa."


"Bell, Wulan lagi sakit juga. Udah dulu bercandanya." Tegur Lucy. "Tapi lebih baik kalian semua pulang, mba Wulan juga butuh istirahat."


"Oke, juga pamit ya Mba! Semoga lekas sembuh."


Satu per satu para remaja tingkat akhir meninggalkan rumah Wulan, menyisakan Bella dan juga Lucy yang memang ditahan oleh pemilik rumah karena sebuah pertanyaan.


"Dokter terdekat disini dimana? Ada puskesmas atau Bidan?"


"Dokter disini engga jauh, sebelah minimarket depan itu ada."


Berfikir sejenak. "Kira-kira biayanya berapaan ya?"


"Paling cuma dua ratusan. Mau diantar Mba?" tawar Luci.


Mendengar itu Wulan menjadi membandingkan Bidan di desanya yang tidak pernah mengambil sepeserpun untuk kesehatan masyarakat.


"Nunggu mas Dewa aja, makasih ya."


Tentu Wulan berkata begitu, karena ia hanya memegang uang kembalian belanja hari ini yang nominalnya hanya ribuan.


"Lebih baik sekarang aja Mba, kalau engga ya hubungi mas Dewanya. Mba Wulan udah kelihatan pucet banget."


Wulan mengambil ponsel yang berada di nakas, mendial nomer suaminya namun hanya tanda penghubung yang terdengar.


"Mas Dewa lagi kerja, mungkin nanti saja."

__ADS_1


"Gue antar aja ya? Gue engga tega soalnya udah pucet banget." Bella menawarkan dengan sepenuh hati.


"Engga perlu Mba Bella, makasih ya."


Bella berdecak lalu merangkul paksa Wulan. "Jangan keras kepala kalau lagi sakit, nurut sama istri muda."


"Bell bukan gitu, aku sebenarnya engga megang uang." Akhirnya kejujuran keluar jua, meski malu tapi itu masih lebih baik ketimbang sudah di dokter nanti. "Lagian engga berlaku juga BPJS."


"Tenang aja Mba, Bella ini walau kelihatan urakan uangnya banyak. Maklum, pengedar narkoba soalnya." Lucy menimpali lalu ikut merangkul Wulan.


"Narkoba pala kau!"


Memilih pasrah dan kini Wulan berakhir diruang tunggu, bersama Bella yang mengantarkan menggunkan mobilnya. Entah bagaimana takdir bekerja, perempuan yang waktu itu dia kesali justru kini membantu.


"Makasih ya, meski aku dan suami berperilaku buruk kamu tetep mau bantu."


"Soal waktu itu? Santai saja. Gue emang suka membuat drama, maaf ya kalau keterlaluan. Sebenarnya gue emang sempet suka sama Dewa tapi suami orang bukan tipe gue banget."


"Saat melihat kalian gue tahu terutama perasaan Mba yang masih hambar, gue hanya pengen menciptakan sedikit bumbu diantara kalian. Seharusnya gue engga begitu, tapi karena mungkin sudah terbiasa gue engga bisa mengendalikan. Sekali lagi gue mohon maaf."


Wulan mengangguk, dia jadi merasa lega. Sungguh istri mana yang bisa tenang jika tetangga menyukai suaminya, seperti apapun rumah tangga, tidak ada yang ingin berakhir tragis.


"Boleh kita berteman? Aku selalu merasa kesepian kalau Mas Dewa kerja. Mungkin dengan kehadiran kamu aku bakal lebih nyaman dilingkungan baru."


Bella menyunggingkan senyum cerah. "Tentu, panggil gue Bella aja ya? Gue sebenernya engga terlalu suka disebut Mba, merasa sangat tua. Lagipula kita seumuran bukan?"


"Baiklah Bella, memang kamu berapa tahun?"


"Baru lulus SMA tahun ini dan satu kampus juga sama Dewa, cuma beda jurusan saja."


"Wah begitu, kamu ambil fakultas apa?"


"Kedokteran."


"Wah keren, nanti kalau udah jadi dokter aku digratiskan ya."


"Tenang saja."


Keduanya bercanda bersama hingga saat dimana Wulan dipanggil dan diperiksa seorang diri.


"Setelah melakukan beberapa tes, Ibu dinyatakan tengah mengandung. Usianya baru dua minggu, selamat ya bu!"


"Karena usia yang masih muda saya sarankan untuk lebih menjaga kesehatan dan rutin chek untuk memastikan semuanya aman."


Entah harus bereaksi seperti apa, namun keterkejutan itu begitu menyita seluruh tenaga hingga rasanya seluruh tulang Wulan diambil alih.


"Gimana Lan? Lo engga sakit parahkan?" tanya Bella begitu orang yang ditunggui keluar.


Wulan menggeleng lemas. "Kita pulang sekarang ya Bell, aku pengen istirahat."

__ADS_1


Bella mengangguk lalu menggenggam tangan istri Dewa, membantunya berjalan dengan langkah lungai.


__ADS_2