Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
20. Cari Posisi Bercinta


__ADS_3

Selepas melepas apron Dewa bergegas meninggalkan kafe karena janji temunya dengan seorang dokter tetapi, fokusnya terbelah kala melihat Selena yang berusaha melepaskan diri dari seorang lelaki berjas biru dongker.


"Dia kesakitan bro!"


Gerakan kedua manusia itu terpaku sembari melihat Dewa menarik Selena ke belakang tubuh.


Selena yang diperlakukan seperti itu hanya diam dengan mata tak bisa berkedip.


"Engga usah berlagak sok jagoan! Ini masalah gue sama Selena!" ucap lelaki itu yang diakhir kata meninggikan suara.


"Almo pelase gue engga mau ketemu lo lagi." Selena berkata kian menaikkan kemarahan lawannya.


"Denger? Selena engga mau ketemu jangan dipaksa."


Tangan kekar sawo matang lelaki itu mendorong dada bidang Dewa. "Diem! Lo jangan jadi pahlawan kesiangan sialan! Lo itu cuma karyawan di kaf---"


"Pacar!" tegas Selena. "Dewa pacar gue!"


Dewa sontak menatap Selena tak terima namun tidak dianggap perempuan itu.


"What?" kagetnya kemudian tertawa. "Apa yang bisa karyawan ini kasih sehingga dengan idiotnya lo usir gue?"


Selena mengacungkan jari tengah sembari melotot. "Fucking you! Gue engga butuh lelaki bangsat kayak lo! Pergi!"


"Bisa pergi sekarang?" ulang Dewa.


"Dengar ya Sel gue yakin lo dipelet, mana mungkin setelah putus selera lo jadi kacau parah."


"Terserah lo mau ngomong apa, tapi cinta gue ke Selena bukan yang ada dipikiran lo."


Bukan hanya Almo tetapi Selena juga kaget dengan ucapan Dewa, perempuan itu kemudian tersenyum merasa menang karena Almo kesal lalu pergi serta itu artinya ia memiliki kesempatan untuk memiliki Dewa selamanya.


"Maaf ya bukannya gue lanc---"


Kalimat Dewa terpotong saat bibir menggoda Selena hinggap dipipi, dengan jantung bertalu melihat gadis itu yang mulai menjaga jarak.


"Sebagai ucapan terimakasih. Kamu manis,"


Dewa merasa membutuhkan alat bantu pernafasan sedangkan Selena yang merasa salah tingkah melenggang pergi sembari melipat bibir ke dalam.


"Astaga aku bahkan sering melakukan yang lebih dengan Wulan tapi kenapa tidak merasakan sensasi luar biasa seperti ini."


Menampar pipi saat adegan tidak pantas muncul. "Kamu sekarang gila Dewa! Selena gadis kota dan sudah terbiasa mencium pipi lelaki lain seperti yang terlihat di film."


Kembali pada bagian bumi dimana Wulan tengah menunggu Dewa dengan garap cemas hingga kelegaan dirasa kala lelaki itu memasukki halaman.


"Aku kira kamu bakal lupa."

__ADS_1


"Ayo naik!"


Tanpa kata keduanya membelah padatnya jalanan hingga tiba di rumah sakit yang berisi perempuan berbadan dua.


"Lan kalau lihat orang hamil banyak gini jadi kepikiran betapa hebatnya lelaki menciptakan sosok menggemaskan lahir di dunia." Dewa berbisik sembari menunggu nomernya dipanggil.


"Mana ada, yang bener itu perempuan kuat yang tetap bertahan bisa melahirkan anak. Cowok cuma tahunya bikin doang,"


"Tapi tanpa bibit unggul kami mana ada kehidupan di dunia ini."


"Kalau engga ada perempuan mana ada yang mau nampung bibit kalian, sama kebo aja sana!"


"Ta---"


"Udahlah Wa engga usah berisik."


Mata berkaca sembari saling menggenggam tangan, pasangan muda itu terharu melihat perkembangan janin dalam monitor.


"Sudah jalan tiga bulan seperti yang terlibat dilayar, anggota tubuh sudah mulai terlihat jelas. Dedenya sehat sekali Bu, pasti seneng ya karena orang tuanya akur."


Kalimat sangat dokter menjadi tamparan keduanya sehingga kompak terdiam.


"Tapi Dok, istri saya engga ada ngidam. Apa itu engga masalah?"


Perempuan itu tersenyum memenangkan. "Tenang saja pak ngidam bukan hal wajib terjadi pada perempuan hamil, ada beberapa kasus seperti Ibu Wulan."


Pluk!


"Ah!" desah Dewa karena mulutnya ditampar Wulan.


Dokter itu merasa gemas meski berulang kali mendapat pertanyaan yang sama dari calon orang tua muda.


"Tenang saja, meski sedang berbadan dua tetap bisa melakukan hubungan tapi harus diperhatikan posisinya ya."


"Tuh denger Lan, jadi engga usah khawatir kalau lagi pengen."


"Ya Dewa!"


Jika bisa memilih Wulan ingin menghilang detik itu juga, merasa suaminya begitu membuat malu.


"Lan udah ihhh mau sampai kapan cuekin aku?" Dewa resah.


Keduanya kini tengah menikmati nasi padang di depan televisi sembari duduk telanjang.


"Wulan!" Dewa mencolek pipi istrinya membuat mata perempuan itu menyipit.


"Jorok banget!"

__ADS_1


"Lagian dari tadi engga didengerin aku ngomong, sebel deh kayak bicara sama patung."


"Lagian kamu nyebelin, aku malu banget sama dokternya. Buat apa juga nanya begituan,"


"Kan malu bertanya sesat dijalan Lan."


"Sekarang ada google map, engga mungkin tersesat."


"Ayolah Wulan ihh jangan galak-galak, aku harus gimana buat bikin mood kamu balik?"


"Cosplay jadi cicak saja sana!"


"Lah masa kayak gitu, jangan yang susah."


"Udahlah tadi minta, nawar pula."


Dewa memiringkan kepala menatap wajah manis Wulan sembari tersenyum.


"Tapi yang jadi dinding kamu ya?"


"Mati aja deh!" Wulan malas sendiri lalu berdiri hendak mencuci tangan.


"Sini Lan! Jangan kabur!"


"Mau berak! Sini ikut dan rasain bau surga!"


"Jorok!"


Malam terasa begitu tenang, meski tidak lagi ditemani suara jangkrik pasangan yang berasal dari desa itu mengarungi mimpi dengan nyaman hingga suara dering ponsel berbunyi nyaring.


Wulan membuka matanya separuh guna melihat Dewa yang mengambil ponsel di nakas sebelum keluar kamar.


"Kenapa Sel?"


Seharusnya lelaki itu kesal karena dibangunkan tengah malam dan kini harus duduk diruang tamu yang gelap namun entah kenapa perasaan Dewa tak enak memikirkan kondisi Selena.


"Hai! Maaf ya gue ganggu lo tengah malem."


"Santai aja, kenapa? Lo engga diganggu Almo atau kenapa-kenapa bukan?"


Terdengar tawa kecil diseberang. "Santai, gue tiba-tiba kepikiran lo aja, tapi beneran engga apa gue telephonkan?"


"Bolehlah gue engga keberatan."


"Makasih ya Wa, gue kepikiran kejadian tadi siang jadi engga bisa tidur."


Keasikan mereka dilihat jelas oleh Wulan yang berdiri dibalik tembok, perasaannya begitu tercabik ingin melakukan sesuatu untuk menghentikannya Wulan merasa tak sanggup.

__ADS_1


__ADS_2