Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
25. Orang Masalalu


__ADS_3

Tundukkan kepala Dewa mengisyaratkan sesuatu untuk hati Selena, luka yang masih menganga ditaburi garam kasar tanpa ampun.


"Gue malu Wa, sumpah."


"Maaf Sel, gue engga bermaksud sakitin lo."


"Tapi lo udah nyakitin gue." Sekuat tenaga Selena berharap tak ada tetes air yang jatuh.


"Gue suka sama lo dan pasti lo tahu itu, bukannya gue sok kecakepan atau terlalu sombong namun pasti diotak lo meski sekali pernah terbesit buat bohong karena gue atasan lo kan?"


"Maaf."


"Gue emang sakit hati, tapi sekarang gue mau melatih diri buat lebih profesional." Tertawa kecil mengingat pertemuan keduanya. "Biar gue engga terlalu baperan kedepannya."


Dewa terkejut mendengar itu dan sontak menatap Selena tak percaya.


"Maksudnya?"


"Lo tetep kerja di tempat gue, sementara gue kasih cuti mengingat cerita lo dari pesan tadi siang kalau istri lo lagi di rumah sakit."


"Sel gue jadi engga enak."


Menggeleng lalu tersenyum. "Tolong ya Wa? Bantu gue."


Kebimbangan merasuki Dewa, mulutnya tertutup dengan mata yang fokus pada Wulan yang tertidur di atas brankar.


"Wa pulang saja, kamu butuh istirahat."


Tersentak kaget dengan suara serta kehadiran Desi yang baru datang, Dewa dengan raut wajah lelahnya menggeleng.


"Aku tidur disini saja Ma."


"Dibilangin juga, nurut kenapa sama orang tua."


"Terakhir kali Dewa nurut malah menghancurkan hidup sendiri." Lelaki itu bergumam yang sedikit masih bisa didengar.


"Mama engga mau bertengkar. Mama bilang pulang harus pulang!"


Terlanjur kesal serta tak ingin membuat Wulan bangun lelaki itu akhirnya undur diri namun saat membuka pintu wajah panik Basuki tercetak mengagetkan Dewa.

__ADS_1


"Wa kita pulang ya."


Desi menghampiri suaminya dengan wajah terkejut sekaligus penasaran. "Ada apa Pa?"


Basuki menatap beberapa detik Wulan sendu. "Besan kita meninggal."


Ucapan duka mengalun di mulut pasangan ibu dan anak.


"Wulan harus bed rest , dia pasti makin syok mendengar kabar ini, Bapak udah jelasin ke ibunya dan sepakat buat engga kasih tahu dulu sampai Wulan benar-benar pulih."


"Itu lebih baik, aku bakal tetep disini sama Wulan, kamu bantu mertuamu ya disana Wa." Desi berkata yang di jawab anggukan.


"Aku titip Wulan ya Ma, aku minta jangan maksa apapun."


Desi mengangguk. "Hati-hati!"


Tengah hari yang sepi memang sudah biasa bagi ibu rumah tangga seperti Wulan akan tetapi, hari ini hatinya terasa begitu kosong.


Tak bisa dipungkiri perasaan wanita itu sedikit terluka dengan kepergian Dewa, sempat Wulan kira begitu membuka mata ada suami yang tersenyum hangat namun yang dia lihat hanyalah Desi hingga keduannya kini telah menampakkan diri di rumah.


"Ma mas Dewa tugas kampusnya berapa hari?" Wulan kembali bertanya, ingin memastikan lelaki itu tidak kembali berulah.


"Emang tugasnya lebih pelosok dari desa kita ya sampai sinyal engga ada."


"Bisa jadi, kalau ada sinyal juga pasti Dewa kabarin."


Tok! Tok!


Keduanya wanita itu menoleh pada pintu yang diketuk kemudian Desi segera berdiri meninggalkan kamar Wulan untuk menyambut tamu.


"Assalamu'alaikum Tante!"


Baju kodok yang dipakai Bella tidak menarik mata Desi, dia justru terpaku menatap perempuan berambut kuncir yang juga terlihat terkejut.


"Bu Desi?"


Perasaan speechless mengudara hingga Desi begitu tak karuan untuk memilah kata.


"Sebentar kayaknya kamu engga asing."

__ADS_1


Senyum tulus tercetak di wajah ayu gadis itu.


"Aku Yuni Bu, temennya Wulan yang dulu dinikahin waktu SMP."


Desi menutup mulutnya beberapa detik sebelum memegang lengan perempuan itu. "Kamu serius? Ya Allah kenapa engga pernah balik Yun? Kamu sehat?"


"Alhamdulillah baik disini Bu."


"Eh malah ngobrol di pintu, ayo masuk! Masuk!"


Bella yang dari diam hanya menurut berjalan melewati pintu, niatnya ingin memperkenalkan teman pada Wulan agar perempuan itu memiliki banyak kenalan justru yang dirinya bawa adalah orang dari masalalu, sungguh kebetulan yang sangat indah.


"Lan lihat siapa yang sama Mama!" Dengan riang Desi menarik tangan Yuni menuju menantunya.


Tiga detik kedua sahabat lama itu berpandangan yang kemudian Wulan menutup mata karena tak menyangka sembari menangis.


Yuni melangkah mendekat saat tangan Wulan terlentang meminta untuk berpelukan.


"Aku kangen banget, kamu apa kabar? Kenapa engga pernah hubungin aku lagi?" Serentetan pertanyaan mengalir.


"Aku baik Lan, ya Allah aku engga nyangka bisa kembali dipertemukan."


"Berterimakasihlah pada hamba wahai para rakyatku." Canda Bella membuat Wulan tersenyum dan minta dipeluk bersama.


"Sumpah gue merasa dunia ini memang sempit, padahal niat gue pengen ngenalin temen kampus gue yang ambisi gila sama pelajaran sama lo Lan tapi engga seekpestasi bakal gini."


Mereka duduk berhadapan dengan Wulan menggengam tangan Yuli erat.


"Apapun itu makasih banget Ya Bell, kamu beneran berjasa dihidup aku."


Bella menganggukkan kepala. "Kita harus akur soalnya mau jadi madu."


Mereka tertawa menganggap lelucon Bella yang tak akan jauh dari hal begitu. "Tapi Nit, sekarang sah ya dipanggil Yuni."


Yuni melotot. "Kalau di kampus tetep Nita!"


"Dih bagusan juga Yuni."


"Tetep aja namaku Yunita,"

__ADS_1


__ADS_2