Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
29. Say Love You


__ADS_3

"Mohon maaf sebelumnya, tapi saya tidak bisa melepaskan Selena."


"Tentu! Kamu tidak akan melewatkan gadis kaya yang tergila-gila padamu." Jonatan berkata.


Tangan Dewa mengepal keras. "Bukan tentang harta, tapi kalau Selena lebih bahagia dengan saya apa ada harga untuk membayarnya? Tidak."


"Tahu akan kamu? Saya ini ayahnya Selena. Saya yang membesarkan dan menjaga Selena semasa hidupnya, seperti apa dia dan apa yang Selena butuhkan saya yang lebih mengerti dan saya pastikan dia tidak akan lebih lama bahagia bersama kamu yang tidak punya apapun."


"Kalau begitu berikan saya waktu, saya pastikan akan membuat anak anda bahagia, dengan segenap cinta dan juga harta yang kalian nilai."


Selena terkejut dengan penuturan Dewa, pasalnya omongan lelaki itu begitu tegas hingga menembak langsung hatinya.


Jonatan tersenyum. "Saya hargai tekad kamu, tapi mohon maaf sekali. Lelaki pilihan kami bukan orang sembarangan, keluarganya begitu tersohor maka dengan menolaknya untuk kamu yang belum tentu mampu dan harus menunggu sayangnya kami tidak menginginkan itu. Anggap saja Selena memang bukan jodoh kamu,"


"Papa!" Selena berdiri, matanya berkaca. "Aku engga mau sama Almo, pernikahan bukan kontrak kerja yang biasa Papa buat."


"Papa kamu memberikan yang terbaik buat kamu Selena, lagipula dulu kalian pernah menjalin hubungan dan pastinya ada cinta didalamnya bukan."


Selena menatap ibunya degan terluka. "Mama engga akan pernah mengerti meski aku jelaskan ribuan kali."


"Ayo Dewa!"


Lelaki itu hanya bisa menuruti langkah Selena yang menarik tangannya keluar dari kediaman meski diiringi teriakkan sang ratu rumah.


Keheningan diantara kedua insan yang berbeda kelamin itu berbanding terbalik dengan pikiran yang riuh, Dewa sesekali melirik Selena yang duduk di kursi kemudi untuk menghantarkannya menuju kampus.


"Maaf ya Sel gue engga bisa bantu lebih."


Amarah yang tersimpan Selena sebisa mungkin ditahan agar tidak meledak. "Tenang, makasih ya Wa udah usaha."


Melihat sosok di samping yang begitu berbeda dari sebelumnya membuat Dewa resah, ia kuatir dengan keadaan Selena, hatinya menyerukan untuk membantu tapi dia sendiri tidak bisa bebas mengingat Wulan dengan sikap cemburunya.


"Sel lo beneran engga bisa menerima perjodohan itu?" Sedikit gila lelaki itu berkata demikian padahal tahu pasti jawabnya.


Berdecak keras. "Gue bukan ratu drama Dewa."


Dewa menjadi merasa tak enak. "Maaf."


"Udahlah gue engga bisa lakuin apapun lagi sekarang, mau sehancur apapun nanti pasti bakal gue nikmati" Suara Selena begitu mengayat hati.

__ADS_1


"Jangan putus aja begini Sel."


"Gue muak!" Bentak Selena sembari menangis. "Gue mencintai sosok yang salah di waktu yang tepat, gue muak! Gue engga sekuat itu."


Dewa tak bodoh untuk mengartikan seseorang yang Selena maksud, perempuan itu begitu menyedihkan dimatanya.


"Wa apa lo engga bisa mengerti perasaan gue? Kenapa lo engga mencintai gue?"


Perlahan mobil yang dikendarai Selena melambat sebelum akhirnya berhenti ditepi jalan, sedetik itu perempuan itu menatap Dewa dengan mata basah.


"Kenapa Wa? Gue engga salah jatuh cinta tapi kenapa dunia menghakimi?"


"Sel--"


Belum sempat Dewa menyelesaikan kalimatnya, Selena lebih dahulu mendekat untuk ******* bibir berwana ungu milik lelaki bersuami itu tanpa memberi kesempatan untuk menghindar.


Sedangkan Dewa yang mendapat serangan mendadak diam tak berkutik untuk lima detik pertama hingga akhirnya ikut larut dalam ukurian dosa.


Nafas terengah keduanya begitu menggebu hingga saling menjaga jarak untuk mengambil nafas, tak berselang lama kedua netra itu saling bertaut guna menyelami perasaan masing-masing.


"Dewa!" panggil Selena, tangan halusnya merambati pipi lelaki. "Apa engga ada secuil rasa lo buat gue di hati? Gue mencintai lo tanpa syarat, rasanya sesak sekali mengetahui kebeneran itu tapi cinta engga pernah salah bukan?"


"Tolong jujur sama perasaan lo sendiri, gue tahu lo juga mencintai gue bukan?"


Kelopak mata Dewa bergerak turun, otaknya berdiskusi dengan hati yang tak menampik begitu memuja wanita di depannya itu akan tetapi, logikanya juga mengingat sosok istri yang menjadi tanggung jawabnya.


"Dewa gue cuma pengen denger perasaan lo buat gue, untuk kedepannya kita engga akan bisa seperti ini jadi gue mohon." Selena meneteskan air matanya. "Selagi bisa dan ada kesempatan tolong katakan perasaan lo supaya kita sama-sama lega."


Termakan omongan Selena, Dewa yang begitu sensitif hari ini memeluk perempuan itu begitu erat yang membuat tangis Selena luruh begitu deras.


"Gue tahu engga salah menilai lo Wa."


"Maafin gue Sel, gue begitu meyakiti lo."


"Ini bukan salah lo, waktunya saja yang salah. Cinta itu tumbuh tanpa diminta."


"Love you."


"Love you to."

__ADS_1


**Wulan** menatap aneh pada suaminya yang sedari tadi terlihat begitu berseri, menumpuk keinginan tahuan hingga akhirnya waktu keduanya hendak tidur menggunkan *pillowtalk* sebagai senjata.


"Kamu kayaknya hari ini seneng banget, dapet nilai bagus dari dosen?" tanyanya.


Dewa terkesiap menatap istrinya lalu menggelengkan kepala. "Biasa aja perasaan."


"Kamu aneh tahu engga."


"Engga ada yang aneh, mungkin aku senang karena sebentar lagi ketemu anak kita."


"Terserah kamu ajalah Wa."


Lelaki memang jarang mengetahui insting perempuan yang kadang begitu tajam.


"Ouh iya aku jadi inget Yuni temen kamu, dia engga cerita apapun ke kamu?" tanyanya mengalihkan perhatian.


Mengedikkan bahu. "Setiap aku tanya selama ini gimana dan tinggal sama siapa engga dijawab, mungkin dia engga mau cerita. Aku hargai saja privasi orang."


"Iya kamu bener."


Dewa semakin mempersempit jarak diantaranya. "Aku kau peluk, udah lama aku engga begini sama kamu Lan."


Wulan begitu kaku dalam dekapan suaminya sendiri tetapi yak lama menormalkan diri untuk mengusap rambutnya sementara Dewa begitu nyaman dalam dada isterinya.


"Kalau mau begini terus jangan aneh-aneh diluar sana, jaga keutuhan rumah tangga kita kalau kamu sayang."


Bukan secara fisik tetapi ucapan Wulan begitu menampar hingga menyebabkan tubuhnya diam tak berkutik.


"Paham?"


"Iya."


_______


Halo semua🤗


Maaf baru nongol, kemarin ada beberapa hal yang engga bisa ditinggal sampai engga ada waktu kesini, maaf yang udah nungguin.


Absen dong, kalian tim yang suka dengar musim sambil baca atau tanpa musik?

__ADS_1


__ADS_2