
Kepergian Dewa seminggu tidak begitu memberatkan hati Wulan karena sekarang dia dikelilingi oleh teman yang rutin mengunjungi serta ibu mertua yang mampu berdampingan dengan baik hingga akhirnya sosok suami Wulan itu tiba.
Cicak di sudut ruangan mungkin saat ini terganggu dengan kecanggungan yang pasangan muda itu keluarkan, baik Wulan maupun Dewa duduk bersebelahan di ranjang dengan sesekali melirik.
"Kenapa jadi canggung gini ya Lan?" celetuk Dewa mengusap tengkuknya.
Wulan berdehem. "Tugas kamu udah beneran kelar?"
"Iya."
Jawaban Wulan huruf vokal terakhir yang membuat Dewa merutuki keadaan, rasanya mereka seperti dua orang asing yang dipaksa bersama.
Sedangan Wulan kesal sendiri karena baginya sebagai lelaki Dewa tidak ada inisiatif.
"Engga ada yang mau kamu omongin Wa?"
"Tentang apa?"
Balasan itu bagaikan petir yang menyambar, jika dihalalkan untuk menyembelih suami pasti Wulan orang pertama yang melakukan itu.
"Kamu beneran Dewa 'kan?" Ekspresi Wulan begitu tak mengenakan menatap Dewa.
Dewa yang ditatap meneguk ludah kasar seraya matanya bergerak tak tentu arah.
"I-iya."
Wulan beringsut menjauh. "Sehat kamu?"
Mendesah pasrah. "Ayolah aku baik, aku baru pulang engga mau peluk?"
Wulan kian mundur melihat Dewa merentangkan tangan dan berusaha meraihnya.
"Engga! Kamu aneh banget tadi aku takut kamu kesurupan."
"Engga Wulan! Aku ini Dewa! Suamimu. Oke?"
Menormalkan ekpresi. "Baiklah."
"Lan aku engga tahu harus gimana tapi mohon maaf ya, kamu sakit begini karena aku."
Sebenarnya Wulan bukan orangnya sangat baik, dia masih ingat betul kejadian itu dan merasa kesal dengan Dewa namun dia rasa menyimpan juga tidaklah hal yang baik karena apapun nantinya akan berimbas.
"Engga apa." Menjeda. "Soal kerjaan kamu gimana? Pasti kamu ada masalah ya sama Selena?"
__ADS_1
Inilah yang paling Dewa kuatirkan, entah harus bagaimana untuk menjelaskan pada Wulan, dia sadar yang ia lakukan mungkin bukanlah perselingkuhan namun kebenaran lebih memilih bersama perempuan lain ketimbang pasangan akan menyakiti Wulan.
"Selena?"
Wulan mengangguk lalu menatap Dewa tersenyum. "Atasan kamu, kemarin kalian lembur dan aku maksa buat kamu pulang. Apa ada masalah?"
Perempuan itu sendiri tak paham mengapa dirinya berbicara demikian, memilih memakai topeng ketimbang menembak langsung masalah seperti yang selama ini dipikiran, akan tetapi kepalang tanggung Wulan memutuskan untuk basah sekalian.
Disisi lain Dewa mencerna kalimat Wulan terheran, tak bisa dipungkiri ia merasa lega karena istrinya beranggapan kepergiannya tempo lalu karena masalah pekerjaan.
Dewa bersitatap dengan Wulan seraya mengusap kepalanya. "Jangan kuatir ya? Selena orang baik, dia bisa memahami kondisiku dan masih memperbolehkan aku kerja."
Panas hati Wulan mendengar kalimat pujian untuk perempuan lain dari mulut suaminya.
"Sepertinya bos kamu sangat perhatian ya? Aku jadi ingin berkenalan, bisa?"
Sesuai dugaan Wulan akan membuat Dewa mati kutu.
"Boleh ya Wa? Aku juga selama tinggal disini engga pernah ketemu temen kamu? Aku penasaran sama semua teman-temanmu."
"B-boleh." Wulan tak menyisakan opsi lain.
Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah ayu Wulan, perempuan itu kemudian merentangkan tangan meminta untuk dipeluk yang tentu hanya bisa dituruti suaminya.
Begitu membuka pintu kaca tatapan Wulan justru terpaku pada sosok yang berdiri tak jauh darinya tengah memilih mie instan.
"Kenapa setiap aku kesini selalu ada orang itu," gumamnya.
Entah insting Satria yang terlalu peka atau bagaimana akan tetapi sedetik setelah Wulan berkata, lelaki berbadan kekar itu menoleh dan terkejut melihat calon orang tua itu.
Tak jauh berbeda dengan Satria, Dewa kini merasa tubuhnya terbelah melihat teman karibnya mendekat.
"Kamu mau apa?" tanya Wulan heran.
"Ini suamimu? Gue kira lo anak SMA yang hamil diluar nikah." Satria berucap begitu tiba di hadapan.
Wulan melotot tak terima. "Enak aja! Kamu kira aku perempuan seperti apa."
"Hai bro! Kenapa engga pernah bilang udah nikah?"
Kini gantian Wulan yang terkejut karena nyatanya kedua lelaki itu saling mengenal.
Melihat keterkejutan Wulan Satria menganggukan kepala mengerti dengan pertengkaran antara Dewa, Vierra serta Selena.
__ADS_1
"Baru gue lihat anterin istri, biasanya sibuk ya?" sindirnya menekankan kata sibuk.
"Iya kan lo tahu gue kerja part time di kafe Selena."
Dua kali keterkejutan Wulan kali ini, ia sampai menepuk pundak Dewa karena mendengar lelaki itu berbicara menggunkan logat kota.
"Iya yang paling sibuk." Satria beralih pada Wulan. "Kita udah sering ketemu, engga nyangka lo istri temen gue, nama lo siapa?"
Wulan yang memiliki otak diatas rata-rata tak sebodoh itu memahami kondisi pertemanan mereka, hal itu menjadi jembatan emas bagi perempuan itu.
"Wulan!" Perkenalan nama dengan senyum penuh arti. "Kalau kamu?"
"Panggil saja Satria."
"Senangnya, akhirnya aku bisa bertemu dengan teman mas Dewa."
"Memangnya suamimu melarang? Kasihan sekali."
"Lo salah paham, gue engga ada waktu dan tempat yang pas aja buat kenalin kalian."
Wulan tertawa kecil. "Mas Dewa itu orang yang baik, dia tidak seperti itu."
Satria ikut tertawa, lebih tepatnya menertawakan ketololan Dewa.
"Kita disini mau belanja ayo!" Dewa menggenggam tangan Wulan.
Satria menahan dada Dewa. "Jangan buru-buru, kayaknya lo juga menunggu tempat dan waktu yang tempat buat kenalin istri lo. Bukannya ini yang dinantikan? Semesta lebih berpihak sama lo bro!"
Dewa mengatur nafasnya untuk meredam amarah. "Lain kali ya Sat, istri gue lagi hamil besar soalnya."
"Sebentar lagi lahiran ya? Kalau gitu jangan lupa kabarin ya? Entar kita jengukin ponakan baru barengan sama yang lain pasti asik."
Wulan mengangguk. "Tentu! Kita tunggu kunjungannya ya."
Tanpa mengatakan apapun lagi Dewa menarik tangan Wulan untuk mengikutinya.
______
Hai makasih yang udah nungguin, jangan lupa kasih like dan komen😍
Chapters ini aku ketik dengan lagu Muak milik Aruma, inget Wulan pas lirik "Tahukah sakit yang tak terobati, belum sembuh tertikam lagi."
Segitu aja curcol aku kali ini, yang belum tahu lagunya mampir deh pasti banyak yang realite😅
__ADS_1