Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
23. Si Cantik Perebut


__ADS_3

"Lo jaga diri ya, kalau mertua lo macam-macem mutilasi aja. Gue susulin beban negara itu!"


Bernafas lega seolah seluruh beban diangkat, Wulan menurunkan ponselnya setelah berucap syukur pada Bella.


"Gimana Lan?"


"Udah dihubungi Ma, sebentar lagi mas Dewa balik."


"Awas kamu Wa!" geram Desi meremas angin.


Umpatan kasar tak terlewati begitu Bella sampai karena melihat kafe yang gelap gulita, otaknya memang kadang bermasalah namun dia tidak sebodoh itu untuk memahami situasi pernikahan tetangganya, belum lagi dengan sebuah mobil yang terparkir.


Brak!


Brak!


Brak!


Tanpa ampun Bella menggedor pintu kaca tak perduli jika harus mengganti rugi untuk kerusakan.


"Dewa an****!"


"Dewa keluar lo bang***! Jangan keenakan ngen**t lo an***g!"


Keributan itu mengagetkan Selena maupun Dewa yang kompak menghampiri pintu sebelum membukanya.


Begitu terbuka Bella dengan dada naik turun menahan amarah lalu menarik kerah baju Dewa yang membuat Selena melotot.


"Lo apaan! Engga punya sopan santun ya?" marah Selena menatap perempuan di depannya sengit.


Bella balik menatap tajam Selena. "Urusan gue sama Dewa! Lo cuma pelakor diem bang**t!"


"Bell apaan?! Lo keterlaluan! Lo ngapain disini dan berani marahin Selena? Lo itu cuma tetangga gue." Dewa menyentak tangan gadis itu.


"Gue disuruh bini lo! Lo ban**at ya! Dia lagi hamil besar go***k dan lo asik selingkuh! An***ng lo!" Bella sampai meludah saking jijiknya melihat Dewa. "Pulang sekarang! Orang tua lo ngamuk sama bini lo!"


Kepanikan melanda Dewa, dia merasa kuatir dengan keadaan Wulan sekarang dan berniat segera mungkin pergi namun tangan Selena mencegahnya.


"Wa mau kemana? Kenapa dia bilang hal an---"


Belum sempat keterkejutan Selena terjawab, Dewa memilih melapas tangan perempuan itu dan berlari menuju parkiran yang membuat Selena kian merasa runtuh.


"Dewa! Lo ma---"


Untuk kedua kali Selena terpotong ucapannya karena Bella menahan tubuh gadis itu mengejar.

__ADS_1


"Mau apa? Lo udah denger tadi gue ngomong apakan?!" tegas Bella. "Sadar diri! Sebagus apapun pelakor tapi istri sah yang punya hak!"


Telunjuk Selena terangkat. "Denger ya! Gue bukan pelakor!"


Bella membusungkan dadanya. "Lalu apa?! Penggoda suami orang?!"


"Jaga mulut lo! Pergi!" Mata Selena melotot.


Bella mundur lalu memindai tubuh perempuan didepannya. "Cantik si, tapi sayang sukanya sama suami orang. Ups!"


"Bang**t! Pergi!"


Bella melenggang dari tempat itu namun kemarahan Selana tak jua usai kini ia semakin berapi mengingat kelakuan Dewa.


"Sialan!" Melampiaskan kemarahan dengan membanting pot bunga sekuat tenaga. "Sialan lo Dewa!"


Mesin motor yang memasuki halaman menyebabkan ketiga orang menegaskan tubuh sembari menunggu lelaki itu datang.


"As--"


Belum sempat salam terlantur, asbak yang tadinya di meja melayang hampir mengenai Dewa yang untungnya lelaki itu dengan cepat menghindar.


"Anak sialan!" Marah Basuki berdiri dengan amarah.


"Aku belajar kelompok di rumah teman sampai ketiduran."


Desi mengangguk lalu berbalik badan menatap menantunya tajam. "Pembohong kamu! Lihat! Dewa begitu giat belajar bukan seperti yang kamu ucapkan tadi anak miskin!"


"Ma!" Dewa memperingatkan, dia menatap istrinya yang terlihat begitu mengenaskan.


Menutup mata menyebabkan cairan bening membanjiri pipi. "Iya Mama benar aku istri yang tak becus."


"Sadar juga kamu! Nyesel saya mempercayai kamu untuk mengurus Dewa." Basuki yang biasanya lebih tenang kini tak ada ubahnya dengan sang istri.


"Tolong hentikan, Wulan engga salah. Ini semua karena Dewa yang teledor."


"Mana ada istri yang bisa tidur tenang ketika suaminya pergi. Hanya istrimu yang tidak tahu diri ini!" tunjuk Desi.


"Ma Wulan seharian mengurus rumah, dia capek dan ketiduran tidak salah apalagi sekarang Wulan hamil."


"Dewa jangan menggurui Mamamu! Dia juga seorang istri sekaligus ibu! Dan kamu lihat sendiri tidak pernah sekalipun kejadian seperti ini terjadi. Akui saja jika Wulan memang tidak becus."


Perdebatan antara keluarga itu terus berlanjut, Wulan yang lelah mendengar teriakan merasa begitu berat bagian kepala hingga tak lama kehilangan kesadaran.


Harap cemas menyelimuti seluruh keluarga yang menanti dokter yang tengah memeriksa Wulan hingga akhirnya semuanya digiring menuju ruangan untuk mendiskusikan kasus perempuan hamil itu.

__ADS_1


"Kehamilan diumur Wulan sangat beresiko, mungkin sebelumnya kandungannya kuat tapi bukan berarti semua bisa baik-baik saja hingga bersalin."


Dewa meneguk ludah kasar, jantungnya bertalu dengan kuat memikirkan istrinya yang harus menanggung semuanya sendiri.


"Untungnya kalian cepat mambawanya kemari jadi semuanya bisa terkendali, tapi setelah kejadian ini tolong lebih diperhatikan lagi ya terutama strees, sebisa mungkin jangan buat pikiran yang berat dan Wulan butuh bed rest hingga kontrol berikutnya."


_____ Flashback on.


Angin membelai anak rambut Wulan yang terurai bebas yang membuat lelaki yang jauh lebih tinggi di depannya merasa gatal untuk membenahi.


"Berhenti!"


Bukan larangan pemilik yang hendak disentuh rambutnya namun suara itu berasal dari lain arah kedua remaja berseragam putih abu.


"Kamu ngapain disini?" Mata hitam memicing menatap Dewa yang kian mendekat.


"Jangan sentuh Wulan ya!"


Kedua pasangan itu melotot dan berbanding terbalik dengan Dewa yang lebih berani menggenggam tangan Wulan.


"Lepas!"


Apit membara kemudian memaksa kedua tangan itu lepas yang justru lebih dikencangkan Dewa.


"Apa? Wulan ini calon istriku jangan mancam-macam ya!" tantang Dewa tak gentar.


Wulan bukan hanya menatap tajam tapi berusaha melawan Dewa yang seenaknya mengakui hubungan.


"Dewa sialan! Lepas!"


Lelaki mana yang tidak gerah pasangannya seenak jidad disentuh, itu membuat Apit yang biasanya tenang dan bijaksana menarik kerah seragam Dewa membuat mereka bertatap sengit.


"Lepas! Engga usah banyak drama!" tegasnya.


"Engga akan! Sekarang Wulan calon istriku!"


Apit menghempas tubuh Dewa. "Jangan ngimpi! Wulan saja tidak menyetujuinya."


Tatapan Dewa jatuh pada Wulan yang juga tengah menatap. "Kita udah sepakat Lan."


"Kita? Kalian yang menentukan semuanya! Sudah aku bilang aku tidak ingin dijodohkan!"


"Denger? Sekarang lepasin Wulan!" desak Apit.


____ Flashback off.

__ADS_1


__ADS_2