Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
30. Sampai Jumpa Di Lain Kesempatan


__ADS_3

Sebagian besar manusia di wilayah bumi yang memiliki jatah malam tengah mengarungi mimpi dengan nikmat, begitu pula Wulan puluhan menit lalu yang kini terjaga dengan seluruh anggota keluarga. Dengan sesekali mengerang menahan gelombang pembukaan, Wulan yang didampingi Dewa merasa sangat merindukan orang tuanya.


"Wa boleh aku minta tolong?"


Dewa yang sentiasa di samping dan terus menggenggam tangan Wulan hanya merespons melalui gerakan kepala, istrinya yang kesakitan namun keringat di pelipisnya lebih banyak.


"Tolong bilang Mama kesini, aku pengen sama Mama."


"Mama!" panggil Dewa spontan.


Jika tidak sedang berjuang melawan rasa sakit, Wulan takkan segan untuk memukul suami yang loading lama.


"Kenapa Wa? Wulan kamu yang tenang jangan ngejan dulu, pembukaan kamu belum lengkap." Desi berkata yang hanya diangguki.


"Ma, ibu aku udah dikabarin? Sekiranya bisa dateng engga?"


Desi terdiam, saking paniknya dia tidak sempat untuk berfikir ke arah sana. "Mama hubungi ya, nanti biar Bapak kamu yang jemput."


"Makasih Ma."


Wulan begitu bersyukur kini, sekarang ia menginginkan berada dipelukan orang yang telah melahirkannya, rasa sakit yang dia rasakan begitu menyakitkan dan berharap nasib memberi kesempatan untuk membesarkan anaknya.


Hingga tiba waktu yang paling ditakutkan sekaligus momen mengharukan dari seorang perempuan, mengejan mengikuti arahan dokter. Sembari didampingi Dewa yang merasa begitu bersalah melihat betapa kerasnya Wulan berjuang.


Tangisan sang bayi terdengar lebih merdu ketimbang iringan sebuah lagu bagi kedua orang tua itu, akhir dari penderitaan tangan Dewa yang terus diremas istrinya.


"Makasih ya Lan." Dewa tanpa hentinya mencium wajah istrinya yang berpeluh.


Rongga dada Wulan serasa dipenuhi kupu-kupu melihat wujud putra kecilnya yang menyusu untuk pertama kali, begitu mengharukan hingga sang ayah tak kuasa menahan tangis.


"Udah Wa yang lahiran itu aku, tapi kamu malah nangis gini."


"Aku terharu Lan, lihat kamu kayak tadi bikin jantung mau copot."


Wulan tak menghiraukan suaminya, dia tersenyum cerah menatap putranya. "Hai sayang makasih ya udah lahir ke dunia buat Mama."

__ADS_1


"Anak kita mirip banget sama aku Lan," puji Dewa berbinar.


Wulan berdecak. "Kamu memang menyebalkan, padahal aku yang berjuang buat anak kita."


"Kok aku? tanda tuh kalau anak kita lebih sayang Ayahnya."


Wulan dengan penuh kehatian menyentuh hidung mancung putranya. "Engga apa mirip kamu yang penting kecerdasan sama wataknya mirip aku biar kalau gede engga jadi buaya darat."


"Aku engga buaya loh Lan."


"Semua cowok sama aja bagi aku."


Dewa hanya bisa melongo mendengar itu. "Kamu ini, mana bisa."


Terkabulnya keinginan yang sudah lama terpendam tak bisa Wulan abaikan begitu saja, sedari ibunya tiba dia tidak membiarkannya jauh dari pandangan.


Sedikit kesal karena sosok ayah justru tidak bisa turut hadir Wulan hanya mengangguk kala ibunya berkata akan menyusulnya kapan hari.


Sementara itu Dewa yang tadinya iseng ingin memublikasikan memiliki seorang bayi dalam status aplikasi hijau harus tertahan kala mata menangkap postingan Selena yang nampak cantik menggunakan gaun berwarna peach.


"Kamu udah kabarin Satria kalau anak kita udah lahir? Sekalian tagih janjinya buat jenguk anak kita bareng temen-temen kamu."


Suasana hati lelaki itu kian tak mengenak namun tidak bisa secara terang mengingat seluruh keluarga tengah berbahagia.


"Ah iya Wa, selama Mama disini sama sekali engga lihat temen kuliah kamu." Desi berkata heran.


"Engga ada waktu aja buat main Ma, kapan-kapan kalau ada waktu pasti ke rumah."


Dewa berdiri lalu menghampiri istrinya. "Aku pulang dulu ya Lan, kamu sama orang tua dulu."


"Tadikan kamu udah pulang Wa buat ganti baju, emang kenapa kalau disini? Semuanya juga lagi kumpul bahkan Kakak kamu aja mampir masa harus pergi, engga enak."


"Sebentar doang Lan."


Kengototan Dewa membuat Wulan merasa keki dan hanya bisa mengiyakan, sebagai perempuan yang baru saja melahirkan dipikirannya Dewa akan sedikit meluangkan waktu serta perhatian, nyatanya itu hanya ada dibayangan.

__ADS_1


Berjalan beberapa meter di lorong netra legam Dewa terfokus pada sosok yang ia yakini sebagai sahabat karib istrinya terlihat berdebat dengan seorang lelaki berseragam putih.


Sebagai manusia iya memiliki rasa ingin tahu namun tak sampai harus menghampiri, Yunita sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat begitupun Dewa yang akhirnya memutuskan pada niat awalnya.


Tibalah Dewa menatapi rumah besar yang terlihat sibuk terlihat dari mobil mewah yang berurutan memasuki kediaman sementara, Dewa hanya bisa berdiri dengan motor matic oleh jarak dua rumah.


Hatinya dibuat kacau melihat postingan Selena, ia resah untuk memikirkan wanita itu dimiliki orang lain sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon Selena.


"Halo Wa? Kenapa?" mengalun lembut suara indah wanita itu.


"Gue di depan rumah lo."


Disana terlihat kepanikan Selena untuk mendekati jendela. "Lo serius?"


"Gue engga tahu kenapa Sel tapi batin gue engga terima lo dimiliki orang lain."


Selena panik dan mencoba mendeteksi sosok Dewa melalui jendela kamar. "Lo gila ya?! Gue engga mau jadi pelakor bego!"


"Seperti kata lo, cinta engga salah. Lo juga cinta sama gue kan Sel"


"Lo lebih tahu itu."


"Jadi apa boleh gue larang lo buat engga berhubungan sama lelaki manapun?"


Mata Selena terbuka lebar. "Lo serius?"


"Apa kurang jelas yang gue sampaikan? Gue cinta sama lo Sel, rasanya sesak banget tahu lo bakal dijodohin sama orang lain."


"Tapi lo udah punya keluarga," lirih Selena. "Kalaupun bisa kita perjuangin kenyataan lo punya istri engga terbantahkan Wa, gue beneran engga pengen menyakiti banyak hati. Cinta mungkin memberi kesempatan tapi tidak buat dunia Wa."


Mematung ditampar ucapan telak Selena, satu tetes air kaya Dewa lolos dari pertahanan. Ia kembali mengingat wajah manis anaknya yang masih merah.


"Sampai jumpa di dunia yang bisa memihak kita Wa."


Tut!

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan?" gumam Dewa merasa begitu menyesal, untuk sekejap dia buta.


__ADS_2