
Sebagai ibu rumah tangga setidak menyenangkan apapun keadaannya harus tetap bangun pagi, menyiapkan keperluan suami serta menyedikan pemandangan indah di rumah seperti yang Wulan lakukan saat ini, menjemur baju di halaman.
"Eh tetangga baru ya?" sapa salah seorang wanita enam puluhan sembari menggendong anak kecil. "Katanya istrinya Mas Dewa?"
"Iya Bu, baru banget pindah kemarin."
"Namamu siapa? Masih muda banget berarti ya?"
Untuk menghormati dia mengembangkan senyum. "Wulan Bu, alhamdulillah jodohnya datang cepet. Ibu sendiri siapa namanya?"
"Panggil saja Astuti, rumahku persis di sebelahmu. Kapan-kapan mampir ya, menantuku punya usaha donat, siapa tahu nanti jadi langganan."
"Iya Bu nanti pasti mampir."
"Yasudah aku lanjut jalan lagi ya, biasa ini jemur cucu!" kata Astuti sembari memamerkan bayi digendongan.
"Iya Bu hati-hati."
"Lan!"
Merasa dipanggil perempuan itu menoleh lalu mengerutkan kening melihat Dewa yang sudah rapih seperti hendak pergi.
"Mau kemana?"
"Aku lihat disosmed ada lowongan kerjaan engga jauh dari kampus, aku mau coba peruntungan disana."
"Wa apa uang yang Bapak kirim engga cukup?" tanya Wulan awas, dia tidak mengetahui pasti jumlahnya dan seketika teringat dengan ucapan mertua, jika kekurangan pasti yang akan dimarahin adalah dirinya.
"Kamu tenang aja, aku cuma pengen cari pengalaman aja Lan."
Wulan menunjukkan wajah memelas. "Wa jangan aneh-aneh."
"Aku cuma mau cari kerja Lan, bukan keluyuran engga jelas."
"Kamu tahu sendiri orang seperti apa Mama, kalau tahu kamu kerja dia bakal marahin aku, pasti aku yang bakal disalahin karena dikira engga bisa ngatur keuangan, kamu ngertikan maksud aku?" beber Wulan, sebenarnya dia tidak ingin mengatakan itu namun istri Dewa cukup takut mengingat bagaimana pipinya ditampar tempo lalu.
Dewa memegang kedua pundak Wulan. "Mama engga akan tahu kalau engga kita kasih tahu, jangan khawatir."
"Sebenarnya buat apa kamu cari kerjaan? Kalau emang uangnya kurang aku bakal kurangin uang belanja, biar kita makan sehari satu kalipun aku sanggup."
Kekhawatiran Wulan makin menjadi, ia sebagai perempuan merasa tidak tenang karena jika rumah tangganya tercium ketidakberesan dialah yang disalahkan.
"Lan aku mau cari pengalaman, tolong ngerti."
Wulan menjatuhkan tangan Dewa. "Kamu yang harusnya ngerti, tolong pahami posisi aku sebagai istri."
__ADS_1
"Apa? Kamu sebagai istri cukup tinggal diam di rumah, beberes lalu melayaniku. Aku tidak meminta banyak, seharusnya kamu dukung niat baik aku Lan." Menggebu. "Kamu itu istri aku, surgamu tergantung ridhoku, kamu seharusnya mendoakan yang terbaik bukan malah menghalangi, jika aku berpenghasilan juga kamu yang bakal menikmati."
"Dewa!" geramnya.
"Maaf Lan, tapi aku mau tetep kerja. Assalamu'alaikum!"
Kepergian Dewa membuat Wulan meneteskan air matanya, dia marah namun tidak tahu harus bagimana selain diam. Dia merasa lelah, Wulan merindukan kebebasannya.
Berbeda dengan Wulan, Dewa yang tengah dijalan dengan motor maticnya beristighfar sebanyak mungkin. Dia pergi dengan niat baik dan berharap pertengkarannya dengan Wulan tidak mempengaruhinya.
"Maaf Lan, tapi aku kerja untukmu. Meski bakal lama tapi aku mau menabung dari sekarang untuk kuliahmu. Orang tuaku merebut cita-citamu dan aku akan kembalikan semuanya."
Seteleh beberapa menit terjebak dalam perjalanan, Dewa tiba jua di parkiran kafe yang membuka lowongan perkerjaan paruh waktu.
Begitu menginjakan kaki disana kesan yang terlihat adalah santai dan hangat, semuanya tertata rapih meski keramaian manusia terasa.
Menghembuskan nafas seraya tersenyum, memberikan energi positif untuk hati sebelum mendekati meja pembuat kopi.
"Permisi Kak!"
Gadis kucir yang dipanggil berbalik badan lalu tersenyum melihat kedatangan Dewa.
"Iya Kak ada yang bisa saya bantu?"
"Saya baca di depan ada lowongan pekerjaan. Apa bisa saya mendaftarkan diri?"
Keduanya memasuki sebuah ruangan dan Dewa dipersilahkan duduk berhadapan dengan gadis itu.
Keterkejutan ditutupi Dewa, sempat dirinya kira bila gadis yang nampak seumuran dengannya itu hanya karyawan namun ia mengaguminya seketika tahu pemiliknya perempuan muda di hadapan.
"Sebelumnya kita pakai gue-lo saja ya, gue rasa kita juga seumuran. Jadi santai saja, gue engga terlalu suka bahasa baku." tawa kecil perempuan itu. "Bahasa baku hanya untuk pelanggan."
"Baiklah." Dewa menyodorkan berkas yang dia bawa. "Semua tentangku ada disana, mungkin bakal jadi pertimbangan."
Perempuan itu tertawa. "Gue-lo, astaga kalau pakai aku-kamu gue jadinya geer."
Meski tidak paham yang dimaksud pemilik kafe itu Dewa mencoba menghargai dengan mengiyakan, ini wawancara pertama jadi sangat gugup.
"Jadi lo bukan asli sini? Pantesan. Tapi aku tertarik sama lo." Secara gamblang bibir berisi itu mengucapkan sembari membaca keterangan hidup Dewa.
Mendegar itu secercah harapan muncul di hati Dewa, dia berharap bisa secepatnya berkerja.
"Baiklah Dewa lo diterima!"
"Serius?!"
__ADS_1
Gadis itu kembali tertawa. "Gila! Kita ini lagi wawancara kerjaan ya tapi lihat lo jadinya gue merasa lagi sama temen sendiri."
"Aku tidak keberatan berteman dengan siapa saja." Entah benar atau tidak, Dewa hanya ingin mencairkan suasana.
Tersenyum lebar lalu menyodorkan tangan mulusnya. "Selena Nan Ploy! Partner kerja sekaligus temen baru lo!" Menjeda sembari menaikkan alis. "Atau mungkin kedepannya bisa lebih?"
"Dewa!" Balas menjabat tangan Selena.
"Lo mahasiswa baru di kampus seberang? Fyi kita beneran bakal lebih dari sekedar teman kerja."
"Beneran?!" kaget Dewa.
"Iya? Kenapa wajah lo kaget gitu?"
"Keren aja, kamu punya usaha begini diumur yang sangat muda."
Selena menubrukkan punggungnya pada kursi. "Engga juga, sebenarnya ini milik kakak gue."
"Ah begitu."
"Iya jadi jangan anggap gue sekeren itu, gila aja gue bisa besar kepala."
"Kalau begitu aku kapan bekerja disini?"
"Besok, nanti gue kabarin shift lo lewat whatsapp. Yang lo tulis di surat ini nomer telepon lo kan? Bukan tukang sedot wc?"
Dewa tertawa. "Iya itu nomerku."
Selena menangkup pipi kanannya dengan tangan. "Ah Dewa, bisa engga lo berhenti pakai aku-kamu?"
"Aku sudah biasa Bu."
Mata cokelat Selena membesar. "Lo panggil gue Ibu?! Jahat banget ya ampun Dewa, panggil gue Selena okey?"
"Rasanya engga sopan aja, apalagi kamu pemilik kafe."
Selena mengipasi wajahnya. "Santai, semua karyawan disini gue anggap teman. Kalau kita saling akrab dan merasa deket sebagai temen kerja juga bakal enak. Lagian kita masih muda, engga usah kaku."
"Baiklah Selena."
"Satu lagi, jangan ngomong aku-kamu ya, nanti orang-orang pada baper."
"Kenapa begitu?" bingungnya.
"Ya aneh aja, kalau ngomong aku-kamu itu berarti seseorang yang spesial. Jadi normal saja pakai lo-gue."
__ADS_1
"Baiklah a--- gue bakal berusaha. Makasih untuk kesempatan yang diberikan."