Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
27. Bermain Peran?


__ADS_3

Menahan ego yang menggebu akhirnya pecah saat jarum pendek menunjuk angka tujuh, tepat saat Wulan memasukkan baju ke dalam lemari sedangkan Dewa duduk bersila di atas ranjang mengamati.


"Maksud kamu tadi apa?" tanya Dewa penuh selidik.


"Apa?" cuek Wulan masih sibuk pada kegiatannya.


Berdecak. "Akrab banget sama Satria, tadi katanya juga sering ketemu. Apa kalian sebenernya udah saling mengenal lebih?"


Menggeleng geli mendengar itu. "Apa yang kamu pikirkan Wa? Semesta yang atur, kami mana tahu ternyata dunia sesempit ini."


"Engga mungkin, kota ini besar yakali kamu ketemu orang yang sama untuk kesekian kali."


"Kebetulan saja, emang masalahnya apa? Lagipula kita baru kenalan di depan mata kamu tadikan."


"Yakin engga ada yang lain?" tanya Dewa penuh curiga.


Wulan tertawa kemudian berbalik badan sembari memegangi perut besarnya."Apa yang kamu harapkan mas Dewa?"


"Jangan terlalu deket sama lelaki. Malu, padahal perutnya gede gitu tapi engga inget keluarga."


Pedas mulut Dewa menyinggung perasaan Wulan, lelaki itu memang harus dibelikan kaca.


"Mas Dewa sendiri engga malu?" tuturan manis Wulan tak seindah yang didengar.


"Maksudnya?"


Wulan membuang muka. "Harusnya lebih bisa bercermin."


Dewa terkejut dengan sikap Wulan yang dinilai begitu angkuh. "Kamu mau balas aku ceritanya?"


"Apanya yang harus dibalas?"


"Engga usah banyak drama Wulan," tekan Dewa. "Kalau kamu sakit hati bilang langsung sama aku."


"Sakit hati kenapa?"


Bukan maksud Wulan untuk bermain peran, tetapi dia ingin suaminya itu sadar tanpa harus dia katakan apa salahnya.


"Karena aku deket sama Selena."


Tepat sesuai dengan yang diharapakan, Wulan mengenal sifat Dewa yang tak bisa terlalu lama disudutkan hingga akhirnya dia sendiri yang termakan omongan.


"Jadi kalian deket?"


Dewa kelabakan sendiri. "Iya karena kita temen."


"Aku engga mengerti sama apa yang kamu katakan Wa."


Dewa hanya diam, dia kehabisan kata-kata kali ini yang dimanfaatkan istri cerdiknya.


"Kenapa diam? Engga pengen menjelaskan hubungan kalian yang katanya deket itu?"


"Engga begitu maksudku Lan."

__ADS_1


"Lalu bagaimana? Aku ingin denger dari mulut kamu Mas Dewa."


"Kan udah aku jelasin kita deket sebagai temen sekaligus atasan!" Dewa menaikkan nada suara satu oktaf.


Wulan terkaget hingga jantungnya bertalu begitu cepat. "Wa jangan bicara keras, anak kita juga bisa ikut kaget."


Dewa memelas menatap perut besar Wulan lalu turun menghampiri anaknya untuk diajak bicara.


"Anak Ayah kaget ya? Maafin ya sayang."


Wulan menghela nafas, jika suaminya sudah bercanda dengan janin di kandungannya tidak akan bisa diselidiki.


"Lan kalau anak kita udah bisa diajak liburan, kamu mau kemana?"


Kini keduanya duduk beralaskan karpet bulu yang membuat keduanya nyaman dengan Dewa yang dipangkuan istrinya.


"Kebun binatang?"


Dewa mendongak. "Kenapa kebun binatang?"


Mengedikkan bahu acuh. "Engga tahu, kepikiran saja."


"Yasudah nanti kita kesana."


Wulan hanya mengangguk saja menganggapi. "Wa besok kamu kuliah pagi atau siangan?"


"Pagi Lan."


"Baguslah, disuruh mama buat cicil perlengkapan bayi karena bentar lagi lahiran, Bapak kasih uang tapi rasanya berat mau pakai, engga enak banget." Menjeda beberapa detik. "Takut lahirannya juga makan banyak uang lagi, gajih kamu selama kerja berapa? Kamu kumpulinkan?"


"Wa!"


Karena terlalu lama berfikir Dewa sampai harus dipanggil berkali-kali hingga kesadarannya kembali.


"Malah bengong? Uangnya engga kamu hambur-hamburinkan?"


Menggeleng. "Tenang aja, buat kamu sama anak kita akan aku pastikan kalian engga akan kekurangan."


"Buat anak dulu Wa." Entah hormon atau apapun, tetapi Wulan merasa emosional hingga menjatuhkan air mata.


"Hei! Hei! Jangan nangis!"


Sontak Dewa duduk bersila sembari mengusir bukti kesedihan Wulan.


"Harusnya aku engga hamil dulu Wa, semuanya jadi kacau."


Dewa menggeleng. "Anak itu titipan, banyak yang diluar sana belum dikasih. Jangan sedih kita pasti bisa tanpa kekurangan oke."


Kedua insan berpelukan dengan pikiran dan hati masing-masing yang tentunya hanya bisa mereka mengerti sendiri.


**Fana** merah jambu merangkak memenuhi setiap sudut kota yang begitu nikmat untuk dilihat, seperti halnya yang dilakukan Dewa dan Wulan yang telah usai berbelanja memilih menikamati senja di taman yang kebanyakan berisi keluarga kecil yang berbahagia.


"Nanti kalau anak kita udah lahir terus mulai latihan jalan, setiap minggu sore kesini ya Lan," kata Dewa, sudut hatinya menghangat memikirkan itu.

__ADS_1


Wulan tersenyum manis sembari kian mengeratkan genggaman tangan pada suami.


"Kita lakukan apapun bersama nanti."


"Mau beli makan apa Lan?" tawarnya.


"Terserah."


Dewa mendesah karena terlalu resah dengan kalimat itu. "Jangan bilang terserah."


"Apapun juga aku terima Wa."


"Aku 'kan nanya supaya engga bingung makan apa bukannya malah makin bikin bingung."


"Yakan tinggal milih aja makan apa, susahnya apa coba?"


"Yaudah kalau gitu coba kamu yang putusin makan apa." Tantang Dewa yang membuat Wulan menatapnya.


"Kok jadi aku? 'Kan kamu yang nawarin masa engga ada inisiatif buat makan apa gitu?"


"Kamu aja engga ada inisiatif."


"Dewa!" Wulan merasa kesal sendiri lalu melepaskan nafas perlahan. "Aku mau sate aja."


"Nah bagus ayo!"


Wulan tak habis fikir menggelengkan kepala melihat kelakuan aneh suaminya.


"Wa!" panggil Wulan sehabis menelan makanannya.


"Kenapa?"


"Kenapa ini dinamain sate?" tunjuk perempuan itu yang membuat Dewa resah.


"Kamu engga ada topik pembicaraan lain gitu Lan?"


Wulan tertawa. "Serius aku nanya."


"Kamu yang pinter masa engga tahu."


"Kalau aku tahu engga akan nanya."


"Yaudah engga perlu tahu."


Perempuan itu mencubit pinggang suaminya. "Aku serius Dewa."


"Aku 'kan engga tahu."


"Masa kamu engga bisa kepikiran apapun?"


Dewa mengeluarkan ponselnya dan menaruh di jarak keduanya. "Ada google! Tanya aja!"


"Curang ih! Aku maunya jawaban kamu Dewa."

__ADS_1


Dewa menyalakan data ponselnya namun sebelum menekan voice di aplikasi pencarian sebuah notifikasi pop up menarik perhatian keduanya hingga suasana yang tadinya menyenangkan berakhir menegangkan.


[Selena: Wa sibuk engga? Aku mau bicarain sesuatu. Kalau luang tolong telepon ya]


__ADS_2