
"Besok kami kesana."
Tut!
Panggilan diputuskan sepihak, mendengar itu Wulan panik sekaligus takut menghadapi kemarahan mertuanya.
"Wa sudah aku bilang," tangisnya.
Melihat istrinya terpuruk Dewa berinisiatif memeluk, mengusap punggung Wulan berharap menenangkan batin yang bergejolak.
"Ada aku Lan, apapun akhirnya kita harus terus bersama. Kita hadapi semuanya berdua. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Wulan tidak tahu harus merespon apa, ia hanyut dalam tangis sembari memeluk Dewa erat.
"Aku ada disini, aku suamimu."
Ketakutan Wulan membuat perempuan yang tengah berbadan dua itu baru bisa mengistirahatkan badan saat adzan subuh berkumandang.
Getaran ponsel di nakas menarik perhatian Dewa, karena takut membangunkan istrinya lelaki yang semula mengusap lembut kepala Wulan segera turun dari ranjang dan keluar kamar.
"Iya Sel ada apa?"
"Lo dimana? Gue disini kayak anak itik yang kehilangan induk ******."
"Astaghfirullah!" Menepuk jidad. "Gue lupa, duh gue siap-siap dulu.
"Iya, sampai ketemu Dewa!"
Meski tak tega meninggalkan istrinya, Dewa harus tetap mengikuti ospek karena semalam Ibunya mengirim pesan singkat yang berisi wejangan perkuliahan, jika tidak dituruti lelaki itu takut Wulan yang akan menjadi sasaran.
"Maaf Lan."
Dewa menghembuskan nafas berat saat lampu merah, pikirannya melayang memikirkan sang istri yang ditinggal begitu saja. Batinnya ingin berteriak karena merasa bersalah.
"Ah akhirnya lo dateng juga!" Selena yang sengaja menunggu tersenyum.
"Untung belum mulai, yuk kita masuk!"
Keduanya memasuki Perguruan itu sembari bergandengan tangan, berlari seraya tertawa meski waktu tinggal beberapa menit.
Sementara Dewa sibuk dengan pendidikannya, Wulan yang baru bangun merasa kepalanya sangat berat.
"Wa!" panggilnya sembari menutup mata.
"Dewa!"
"Dewa!"
Karena tidak ada jawaban, perempuan itu mengecek jam yang tergantung di dinding lalu menghembuskan nafas berat menyadari dia bangun disaat mentari tergelincir ke arah barat.
__ADS_1
Mengingat adanya nyawa lain di perut, meski enggan memaksakan diri ke dapur dan mengambil susu UHT dalam kulkas.
Melihat sekeliling rumah yang kotor, stok makanan yang sedikit membuat kemarahan Wulan muncul.
"Astaga Dewa benar-benar engga bisa diajak bekerjasama, harusnya dia tahu keadaanku bagaimana."
Sembari menahan pusing Wulan memilih memasak mie instan untuk mengganjal perut sebelum beberes, jika mertuanya sampai melihat rumah seperti kapal pecah Wulan juga yang akan kena.
Langit mulai menggelap, sebagai perempuan desa tentu dia sangat pantang keluar ruang di waktu seperti itu namun kemarahan Desi sudah berputar layaknya sebuah film.
"Jika tidak membeli bahan masakan, pasti Mama bakal mikir aku engga urus Dewa dengan benar," gumamnya lalu meminta keselematan pada Tuhan sebelum menuju minimarket yang tak jauh dari rumah.
Baru beberapa langkah, sebuah motor menghampiri Wulan.
"Lan mau maghrib, mau kemana?"
"Sudah pulang Bell?" lega Wulan karena dengan begitu suaminya juga tak lama akan sampai. "Mau beli sayur, belum masak."
"Suami lo belum balik?"
Menggeleng sebagai jawaban.
"Yuk naik! Lo baru pingsan kemarin "
"Engga usah Bell, kamu pasti capek baru ospek, lagian engga jauh banget."
"Makasih ya Bell."
"Santai, ketimbang lo tambah sakit entar."
Keduanya kemudian membelah jalanan menuju tempat, sementara dilain tempat Dewa dengan hati yang tak karuan menikmati makanan Jepang bersama teman barunya.
"Wa kenapa lo jadi tegang gitu, ada masalah?" tanya Selena yang membuat kedua orang lainnya ikut memperhatikan.
"Engga kok."
"Wa ayolah jangan serius gitu." Pria berambut ikal menegur, tubuhnya tinggi tegap layaknya seorang Ksatria dan namanya adalah Satria.
"Bener! Setelah kita dipanggang habis-habisan sama para senior seenggaknya bisa makan enak, biar rasa kesalnya sedikit hilang." Perempuan berkulit putih yang mempunyai marga Jepang itu berkata, Xavierra Aoki namanya.
Selena tersenyum menatap Dewa lalu mengapit sebuah nasi yang digulung dengan rumput laut.
"Buka mulutnya sayang!"
"Aduh gue keduluan nih!" celetuk Vierra lalu menggelengkan kepala seraya tertawa kecil.
"Sorry ya Ra, Dewa milik gue. Iyakan?"
Sementara Dewa merasa terkejut dan hanya melihat sushi yang ditawarkan Selena.
__ADS_1
"Dewa kok diam? Lo baper sama gue apa gimana?"
Dewa merasa bodoh lalu menarik satu alisnya.
"Buka mulutnya ini tangan gue pegel!"
Akhirnya untuk menghargai Dewa menerima suapan Selena yang mendapat godaan kedua teman lain.
Selesai dengan acaranya, Dewa yang sudah tak karuan melanjutkan perjalanan dengan kecepetan penuh, meski begitu saat kakinya menginjakan lantai istrinya tidaklah menyambut membuat Dewa kebingungan.
"Lan?" tegur lelaki berambut belah tengah itu kala memasuki kamar.
"Makanan sudah siap, mandi terus makan Wa." Sembari membaca novel online Wulan berkata tanpa memandang.
Dewa menghembuskan berat sebelum memeluk tubuh istrinya erat.
"Maaf Lan."
"Kenapa Wa?"
"Karena ninggalin begitu aja."
"Kenapa?" Suara Wulan serak. "Kamu tega, kamu tahu kondisi aku harusnya kamu seenganya sedikit bebersih rumah bukan ninggalin semuanya ke aku. Kamu tahu sendiri orang tuamu mau kesini."
"Maaf, aku gugup Lan."
Wulan melepaskan pelukan itu. "Kamu harus janji, kita harus bekerja sama. Aku engga bisa sendiri dan begitu juga kamu."
"Iya aku minta maaf ya."
Wulan mengangguk. "Mandilah terus makan, kamu pasti capek."
Dewa tersenyum lalu mengecup lama dahi istrinya.
**Ketakutan** Wulan terbukti, meski waktu menunjukkan dini hari dan didetik pertama kedatangan orang tua Dewa keduanya dipaksa duduk berhadapan seolah tengah berada dimeja hijau.
"Gimana hari pertama kamu Wa? Kamu engga boloskan?" tanya Basuki.
"Engga Pak."
"Mama engga tahu harus ngomong apa, kalian benar-benar membuat beban pikiran untuk kami."
Desi meminjat keningnya. "Mama tahu kalian punya nafsu, tapi harusnya kalian mikir. Apa ini saat yang tepat punya anak?"
"Ma kita udah nikah, kemungkinan ini bakal terjadi. Tuhan kasih berarti Tuhan percaya kalau kita bisa membesarkannya disaat seperti ini."
"Dewa! Kamu pikir membesarkan anak hanya sekedar memberi makan?! Kamu engga tahu seberapa besar tanggung jawab yang menanti kalian. Hancur! Hancur sudah masa depanmu!" tangis Desi.
Tangan wanita paruh baya itu menunjuk pada Wulan. "Ini semua gara-gara kamu! Sebagai istri kamu engga becus! Seharusnya otak kamu digunakan!"
__ADS_1