Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
19. Kalah Saing


__ADS_3

Layar komputer di hadapan Dewa diacuhkan karena lelaki itu melamun dengan pikiran penuh tentang Selena.


Dari arah dapur, Wulan yang baru selesai meminum susu hamil heran melihat suaminya hingga berjalan menghampiri.


"Kalau tugasnya dipantengin terus engga bakal selesai Dewa."


Kesadaran lelaki itu kembali seraya melihat istrinya duduk di samping tubuh.


"Mana yang sulit?"


"Hidup," jawab lelaki itu tanpa ekpresi.


"Kamu ini engga bisa serius kalau belajar." Wulan mengambil alih laptop Dewa.


Menghembuskan nafas berat Dewa lakukan seraya menatap lurus ke depan. "Lan pernah engga kamu berandai-andai?"


"Jelas, aku bukan putri raja yang memiliki kisah hidup sempurna."


"Andai saja ya Lan kita engga dijodohin."


Deg!


Jantung Wulan serasa berhenti untuk bebeberapa detik, ia merasakan perasaan tak nyaman menyergap batin.


"Tapi apalah daya, mungkin memang harus begini. Suka ataupun engga kita engga bisa mengubah sekarang."


Entah apa yang merasuki Wulan tetapi batinnya merasa marah meski sendirinya tidak menerima jua hubungan keduanya.


"Bukan cuma kamu Wa, aku juga merasa sesak dengan pernikahan ini. Aku kira disini hanya aku yang berusaha menerima keadaan, aku pikir setelah janji kamu kemarin dengan perilaku kamu selama ini kepadaku hati ini bisa tenang karena menganggap kamu akan selamanya menjadi suamiku. Tapi ternyata aku salah ya Wa?"


Seabrek kalimat itu hanya mengelilingi batin Wulan, dia tidak mungkin mengatakan itu karena dikhawatirkan akan mengganggu ketenangan hubungan.


"Lan kenapa kamu diam aja?" Dewa menyentuh pundak perempuan itu.


Dengan desah nafas kasar dan tatapan yang masih terpaku pada monitor kepalanya menggeleng.


"Aku salah bicara ya?" paniknya.


Akhirnya Wulan menoleh dan menyangkalnya dengan sebuah gelengan sebelum menggenggam tangan Dewa.


"Mas Dewa capek? Kita istirahat ya."


Begitulah malam berakhir untuk pasangan yang tengah mengupayakan hubungan yang dianggap belum waktunya.

__ADS_1


Rendahnya suhu pada tengah malam menyelimuti Wulan yang tidak tenang dalam tidur, perempuan itu susah menutup mata meski sangat ingin.


Menoleh ke sebelah dan menemukan suaminya terlelap Wulan menghembuskan nafas sebelum memilih meninggalkan kamar dengan sebuah gawai di tangan.


Perempuan dengan overthinkingnya memang sukar untuk dipecahkan, dan entah mengapa bukannya menghindari rasa sakit kebanyakan kaum hawa menarik rasa tak menyegarkan hati dengan berbagai hal, contohnya mencari media sosial seseorang yang membuat overthinking dan meski hati menghentikan, otak terus mendesak hingga air mata tak terhindarkan.


@Selena_NanPloy


[Gambar]


_______


Berawal dari teman ya Wa😁


Wulan merasa hatinya sebagai seorang istri tercabik melihat foto suaminya dengan perempuan lain, dan ia ingat betul foto terbaru itu diambil saat dirinya bertengkar karena tidak mengindahkan permintaan Dewa saat di pusat perbelanjaan dilihat melalui baju yang dipakai.


"Ternyata begini ya?" gumamnya.


Namun entah mengapa hati Wulan memaklumi alasan Dewa, sekali pandang saja terlihat perempuan berdarah Thailand itu begitu menarik hati, berbanding terbalik dengan Wulan yang kesehariannya hanya mengenakkan daster bunga yang lusuh.


Suara derap langkah mendekat membuat perempuan itu segera meletakkan ponsel sembari menghapus air matanya.


"Aku kebangun terus engga ada kamu, kenapa disini sendirian?"


"Aku lapar." Sebisa mungkin Wulan bersikap seolah tak terjadi apapun.


"Setelah duduk disini selera makan aku menjadi hilang."


"Mood orang hamil ya?"


Mengangguk saja sebagai jawaban Wulan.


Entah karena kesedihan Wulan yang mengudara atau efek lainnya, dengan gerakan selembut kapas Dewa menumpukan berat pada lutut sebelum menaruh kepala di atas paha Wulan sembari tangannya melingkari perut istrinya.


"Wa kenapa?"


"Engga tahu, tapi untuk beberapa menit aku butuh seperti ini."


Tak kuasa menahan perasaan yang tak karuan Wulan mengelus kepala Dewa dengan tangisan begitu juga dengan lelaki itu.


Tanpa mengucapkan alasan, mereka saling mengeluarkan beban hati melalui darah putih yang membanjiri pipi.


___

__ADS_1


*Otot tangan mengeras guna meluruhkan noda pakean, busa yang dihasilkan mengaliri sungai bening yang dikelilingi puluhan pohon tinggi*.


"Kenapa Kakakmu mau menikah saja padahal sekolahnya sebentar lagi selesai." Gadis dengan rambut pendek yang ditaksir berumur sepuluh tahun bertanya pada temannya yang juga mencuci di sebelah.


Menghembuskan nafas lalu menggeleng menyebabkan cepol rambut gadis itu bergoyang. "Kata Bapak tidak baik menolak lamaran apalagi mereka orang terpandang."


"Selalu saja begitu."


"Mau bagaimna lagi Lan, mungkin kita juga akan berakhir sana dengan Kakakku."


Bergidik ngeri. "Aku harap itu tidak terjadi padaku."


"Aku juga tidak ingin Wulan, pengen kuat kayak Ibu Kartini tapi aku tak seberuntung beliau yang lahir di keluarga beranda. Kalau aja Bapakku punya pangkat mungkin aku bakal jadi perintis kemerdekaan perempuan di desa ini," tawa anak itu.


"Kalau begitu kita buktikan saja meski kita bukan berasal dari keluarga terpandang bisa melenyapkan kebiasaan warga desa ini." Wulan muda begitu bersemangat. "Kalau kita saja tidak berani memulai lalu bagaimana akan berubah?"


"Bicara saja memang mudah."


"Siapa yang bilang hanya bicara? Kita mulai saja dari diri sendiri, kalau nanti orang tua kita memaksa menjodohkan harus ditolak."


Lawan bicara Wulan tertawa. "Sudah bosan aku dengar anak perempuan yang menolak namun akhirnya tunduk juga bukan."


Wulan kesal dengan sikap pesimis temannya. "Kamu bakal lihat nanti Yun! Aku pasti bisa menolak perjodohan dan meraih cita-citaku sebagai seorang dokter."


__


"Wulan aku berangkat ya! Kamu hati-hati di rumah!".


Tersentak kaget karena sebuah ciuman dikening, sedang asik mengenang masa kecilnya hingga lupa tengah mengupas bawang.


"Wa siang nanti ada jadwal ketemu dokter, kamu beneran bisa?" tanya perempuan itu.


"Iyalah aku juga orang tuanya bukan, anak kita bakal merajuk nanti."


"Baiklah terimakasih ya!" Wulan menarik tangan Dewa sebelum menciumnya.


"Ya Allah Wulan sadar kenapa, kamu lagi motong bawang dan sekarang tanganku ikut bau."


"Daripada aku dianggap tidak sopan karena tidak menyalimimu sebelum pergi." Dengan cuek Wulan menjawab.


"Ah terserahlah aku pamit! Assalamu'alaikum!"


Wulan hanya melihat kepergian Dewa sebelum berucap lirih. "Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Kini ingatan Wulan masih seputar sahabat karibnya, Yuni nama gadis itu dan sekarang Wuian rindukan karena mereka terpisah sejak lima tahun lalu karena perjodohan.


Saat duduk dibangku kelas dua menengah pertama Yuni dinikahkan dan harus ikut keluarga suami, sejak pernikahan Yuni bagaikan tertelan bumi karena tidak pernah berkunjung dan kabar terakhir yang dia dengar dari para tetangga mengenai kehamilan perempuan itu empat tahun lalu.


__ADS_2