
Wajah tak percaya masih terpasang pada air muka Dewa, dia meneguk ludah kasar melihat nilai yang dia dapat.
"Ternyata lo pinter banget, gila! Dosen sekiler itu kasih lo nilai tinggi dan bahkan muji hasil tugas lo. Sebagai temen lo gue merasa bangga!" Vierra meletakkan satu tangannya di dada.
Selena, Dewa serta Vierra tengah duduk berdekatan menunggu kelas selanjutnya.
"Padahal lo tadi malem lupa sama tugas, gue iri banget karena udah merasa maksimal ngerjain bahkan jauh-jauh hari tapi cuma dapat setengah dari nilai lo." Kata gadis berambut gelombang, Selena.
Dewa menghembuskan nafas, senang karena mendapat nilai terbaik namun setelah ini jika dilaksanakan kuis lalu lelaki itu ngangong-ngangong akan jadi masalah besar, semua akan sadar jika bukan Dewalah yang mengerjakan tugas.
Melihat gebetannya tidak menanggapi Selena melambai di depan wajah lelaki itu.
"Kok bengong kenapa?"
"Engga." Dewa memaksakan senyum.
"Wa lain kali kalau ada tugas gue jokiin dong, gue berani bayar mahal deh." Vierra menambah beban pikiran Dewa.
"Kalau ada tugas kita kerjain bareng ya Wa jadinya gue bisa nanya kalau ada yang belum paham.
Keberuntungan di pihak lelaki itu karena tak lama seorang dosen yang ditunggu memasuki ruangan.
Beres dengan perkuliahan Dewa memakai helmnya menuju kafe Selena, mengingat perempuan itu Dewa menoleh ke belakang untuk memastikan pengaman kepala terpasang dengan benar.
"Sudah siap! Yuk jalan!" kata Selena.
"Mas Dewa!"
Teriakkan itu membuat pemilik nama menutup mata, malu menjadi pusat perhatian karena gadis yang kini sudah ada di hadapan.
"Aku cariin akhirnya ketemu juga." Bella berujar sembari mengatur nafas, perempuan itu berlarian untuk menemukan suami Wulan.
"Kamu siapa?" tanya Selena sedikit sensi dengan panggilan incarannya.
"Lupa? Gue Bella. Kita dulu satu sekolah waktu SMA."
Selena mengingat keseluruhan temannya namun tidak menemukan sosok di depannya familiar.
"Kita satu jurusan?"
Bella menepuk jidatnya. "Beda dan lo engga mungkin juga si kenal gue, setara tongkrongan lo sekelas serbuk berlian sedangkan gue cuma sebuk marimas."
"Langsung saja Bella, kenapa?" Dewa tak ingin berlama terjebak dengan gadis berisik itu.
__ADS_1
"Hampir lupa!" Bella menyerahkan paperbag. "Dari Wulan! Dia titip buat lo."
Dewa terkejut, terheran dengan perhatian sangat istri sebelum dengan kamu mengambil alih.
"Makasih ya."
"Santai, mungkin sekarang gue engga bisa bikin masakan kayak Wulan tapi gue titip, Mas Dewa jangan main belakang." Senyum Bella.
Baik Dewa maupun Selena terkejut dengan pertanyaan Bella.
"Yasudah gue ada kelas, sampai ketemu di rumah suamiku!" Lambai Bella sebelum meninggalkan keduanya.
Selena terlampau syok hingga terasa sesak dan menatap kepergian Bella mencemooh. "Dia gila ya? Engga punya malu manggil lo suami, amit-amit banget Wa. bisa-bisanya lo kenal sama orang sejenis itu."
"Ya gimana, orang dia tetangga gue Sel. Emang rada gesrek itu otak kali ya?"
Seketika Selena berbalik badan menatap Dewa serius. "Atau nyokap lo jodohin kalian?"
Dewa bergidik ngeri. "Mati aja deh kalau beneran. Engga mungkin Sel."
"Dia aja begitu, agresif banget."
"Dia emang orangnya kebanyakan drama."
Seketika suara Dewa hilang, dia bingung harus berkata seperti apa pada Selena lalu untuk menutupi kegugupan menggaruk lehernya.
"Ibu."
Mengerutkan kening. "Kok Bella bisa seenaknya manggil orang tua pakai nama, engga sopan banget."
"Kamu tahu sendiri dia seperti apa, ayo kita ke kafe sekarang. Kasihan yang lain pasti udah nunggu."
Meski janggal Selena tetap mengikuti sedangkan Dewa merasa aneh, dia bingung dengan alasannya menyembunyikan status pernikahan padahal dia tidak ingin hal ini.
Perhatian yang ditujukan untuk suami terasa menyayat karena begitu Dewa pulang bukan pelukan namun teguran yang diterima.
"Lain kali engga perlu titip ke Bella, kita beda fakultas. Kasihan dia harus lari-lari Lan."
"Tapi Bella saja tidak keberatan, kenapa kamu datang malem marah-marah?" tangis wanita itu melihat bekal yang sama sekali tidak disentuh.
"Jelas aku kesal kamu engga kasihan sama Bella? Udahlah engga usah drama sebagai istri disinetron ikan terbang."
Menatap tak percaya pada suaminya. "Kamu tega, aku masakin kamu karena aku perhatian ketimbang kamu harus pulang setiap kali makan siang, BBM lagi naik coba kamu mikir sampai sana engga?"
__ADS_1
Dewa menjadi merasa bersalah, seharusnya sekesal apapun dengan Wulan tidak semestinya langsung membombardir kesalahannya.
"Aku minta maaf Lan."
Wulan membuang muka. "Kamu engga makan? Terus makan siang sama Selena?"
Entah kenapa namun telinga dan hatinya selalu tidak tenang jika nama pemilik kafe disebut oleh Wulan.
"Aku engga seperti yang kamu pikirkan."
"Apa si Wa? Kamu kira aku bisa berfikir jernih? Jujur aja kalian memang lagi deketkan?"
"Iya kami harus deket karena memang partner kerja, teman kuliah juga. Apa salahnya aku bersosialisasi? Dunia itu luas Lan tolong jangan batasi pemikiran kamu."
"Sorry Wa, aku anak kampung jadi pemikiran aku sesempit itu!" ketus Wulan merasa begitu terluka.
"Jangan mulai Lan!" tegas Dewa merasa lelah.
"Kamu duluan yang mulai, kamu sebenarnya ada main apa dibelakang aku?" Ingatan Wulan seketika terlempar pada sosok Selena.
"Apa si Lan, kan udah aku jelasin tadi."
"Inget Wa kamu kesini kuliah bukan tebar pesona ke perempuan lain!"
"Tebar pesona apa si Lan, engga usah nuduh."
"Kenyataannya begitu, kamu lagi deket kan sama Selena Selena itu."
"Harus gimana aku jelasin ke kamu kalau dia cuma atasan di tempat kerja aku Lan."
"Engga ada atasan yang kasih makan siang buat keluarga bawahannya semewah itu, kamu sadar apa menikmati perasaan dia ke kamu?"
"Soal makanan ya karena dia lagi baik saja jadi kasih begitu, lagian semua orang juga kebagian." dusta Dewa.
Lelaki itu duduk di samping istrinya sebelum menautkan tangan mereka.
"Jangan cemburu, cuma kamu pendamping hidupku."
Wulan menepis tangan Dewa. "Aku engga butuh kata-kata kamu."
"Lan udahlah engga perlu diperpanjang lagi."
Wanita itu menghembuskan nafas, tidak baik pula selalu bertengkar dengan Dewa.
__ADS_1