Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
12. Sebagai Istri Harus Tahu Diri


__ADS_3

Ketakutan Wulan terbukti, meski waktu menunjukkan dini hari di detik pertama kedatangan orang tua Dewa keduanya dipaksa duduk berhadapan seolah tengah berada di meja hijau.


"Gimana hari pertama kamu Wa? Kamu engga boloskan?" tanya Basuki.


"Engga Pak."


"Mama engga tahu harus ngomong apa, kalian benar-benar membuat beban pikiran untuk kami."


Desi meminjat keningnya. "Mama tahu kalian punya nafsu, tapi harusnya kalian mikir. Apa ini saat yang tepat punya anak?"


"Ma kita udah nikah, kemungkinan ini bakal terjadi. Tuhan kasih berarti Tuhan percaya kalau kita bisa membesarkannya disaat seperti ini."


"Dewa! Kamu pikir membesarkan anak hanya sekedar memberi makan?! Kamu engga tahu seberapa besar tanggung jawab yang menanti kalian. Hancur! Hancur sudah masa depanmu!" tangis Desi.


Tangan wanita paruh baya itu menunjuk pada Wulan. "Ini semua gara-gara kamu! Sebagai istri kamu engga becus! Seharusnya otak kamu digunakan!"


"Ma jangan sudutin Wulan begini, disini bukan cuma tentang Wulan Ma."


"Tapi dia sebagai istri harusnya biasa menasehatimu, bisa membimbing kamu kalau dia engga egois hal ini engga akan terjadi Dewa."


"Iya semuanya salah Wulan." Akhirnya suara Wulan terdengar setelah lama diam, dia menatap ibu mertuanya dengan penuh kekecewaan. "Apa Mama pikir aku mau begini?!"


"Jaga sikap kamu Wulan!"


"Aku hanya meniru orang tua yang selalu berbicara seenaknya."


"Wulan!" peringatan Dewa.


"Wa aku capek terus disalahkan, aku manusia Wa. Aku punya hati, aku bukan bahan samsak."


Wulan kembali menatap Desi. "Mama perempuan bukan? Apa Mama sama sekali tidak bisa memilih hatiku? Sebelum Mama menyalahkan aku tolong lihat diri Mama sendiri, apa Mama sesempurna itu?"


"Wulan kamu jangan kurang ajar!"


"Terserah Mama mau bilang apa, aku engga perduli."


Lantas kepergian Wulan menyisakan keheningan diantara ketiga manusia itu, Dewa sendiri memilih membiarkan istrinya karena dirasa membutuhkan waktu menenangkan hati.


"Begitu ya sikap aslinya, kelihatan sekali urakan."


"Ma!" tegur kedua lelaki itu.


**Meski** tengah bersitegang, Wulan masih memiliki hati jika membiarkan seluruh orang kelaparan. Dengan mata sembab ia berkuat di dapur.


"Ya Allah Wulan, kalau masak jangan dibiasain pakai santan kemasan gini."


Entah darimana, Desi tiba-tiba muncul mengagetkan acara masak Wulan yang penuh kedamaian.


"Adanya itu Ma, lagian itu lebih murah. Nanti kalau beli yang berkualitas dikira hambur-hamburin uang suami."


Desi berkacak pinggang. "Kamu sekarang mulai berani ya?"


"Maaf Ma, tapi kenyataannya begitu."


"Udah kamu pergi ajalah biar Mama yang masak, kamu engga pernah bener kalau lakuin sesuatu."


Wulan menoleh. "Bagimana aku bisa jadi yang Mama mau kalau kesempatan aja Mama engga pernah kasih ke Wulan."


"Wulan! Omonganmu dijaga, sekarang kamu lagi mengandung. Pamali orang hamil ngomong sembarangan, kamu mau anakmu sifatnya jelek seperti kamu."

__ADS_1


"Ma udahlah engga capek dari tengah malem ngomel mulu," tegur Basuki. "Lan cepet selesaikan masakanmu, Bapak sudah lapar."


Wulan mengangguk menanggapi, sudah tidak ingin banyak bicara lagi.


Selesai sarapan niat Wulan menjemur pakean yang sudah dia cuci namun belum jua mengangkat ember sosok Dewa datang merebut.


"Biar aku aja, orang hamil engga boleh angkat yang berat."


Seteleh mengatakan itu Dewa berlalu, Wulan sendiri terkejut dengan perhatian suaminya lalu mengekor.


"Udah kamu ngobrol aja Wa sama Bapak, biar aku aja yang jemur baju." Usirnya saat Dewa hendak menjemur.


"Kamu aja yang masuk, istirahat atau apa gitu. Jemur pakean aku juga bisa lakuin."


Wulan tertawa kecil. "Dulu aja boro-boro mau bantu Wa."


Dewa menampilkan keseluruhan giginya. "Karena sekarang udah ada dede bayi."


"Kita lakuin bareng aja biar cepet selesai, lagian aku engga enak sama orang tuamu."


"Yasudah, hitung-hitung jadi kenangan kita sama dede bayi di kandungan."


Wulan tidak menanggapi dan memilih menggantung pakean dengan telaten.


"Kamu tahu hamil itu gimana Lan? Beli testpack?"


"Kemarin aku pingsan terus dianter sama Bella, dan begitulah aku tahu lagi hamil."


"Bella? Tetangga kita itu kan?" tanya Dewa memastikan dengan wajah tak yakin.


"Iya, dia ternyata engga semenyebalkan yang aku kira. Kita juga ternyata cukup nyambung buat ngobrol dan kemarin dia juga antar aku belanja, katanya kasihan aku punya suami rasa janda."


"Lagian bercandanya begitu."


Dewa mendekatkan wajah keduanya. "Cemburu ya?"


"Biasa aja."


"Ah sial! Ternyata istriku cemburu."


"Dewa!"


"Iya sayang."


Ditinggal Dewa ke kampus, rumah yang terdiri dari dua kamar tidur itu menyisakan Wulan serta mertuanya.


Mungkin sebelum menikah Wulan tidak terganggu dengan Desi, karena meski terkenal sebagai yang paling kaya. Sebagai tetangga apalagi di desa yang kental kekeluargaan tak jarang keduanya mengobrol sembari membuat rujak beramai-ramai.


Ingatan kenangan itu muncul kala Wulan tengah berjuang mengeluarkan kotoran, dan setelah rampung dengan urusannya ia ke dapur hendak membuat rujak.


"Bikin apa lagi Lan?" tanya Basuki, dia barusan meletakan cangkir ke wastafel.


"Bikin rujak Pak, siang panas gini kalau makan ginian seger banget."


"Kamu tahu saja kesukaan Mamamu, yasudah itu nanasnya yang banyak buat adem hatinya." Tawa Basuki.


"Nggih Pak."


Sesuai dugaan, Desi yang melihat disuguhi makanan itu tak mampu menolak dan mengajak Wulan duduk tanpa alas bersamanya.

__ADS_1


"Mama udah lama engga makan ginian, eh tapi kamu lagi hamil jangan makan nanasnya loh."


Wulan menjadi lega. "Iya Ma, engga Wulan makan kok."


Tok! Tok! Tok!


Ketukkkan pintu menarik perhatian ketiga orang itu.


"Biar Bapak aja, kalian lanjut makan."


Begitu pintu dibuka Basuki terkesiap melihat kedua pasangan dengan satu anak kecil digendongan.


"Loh kalian?"


Lelaki yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan Basuki menyalami yang disusul istrinya serta anak lelakinya.


"Asalamualaikum Pak."


"Ayo masuk-masuk!"


Ketiganya bergantian masuk. "Ma! Lihat siapa yang datang!"


Desi seketika berdiri lalu melebarkan tangan meminta cucunya ke dalam gendongan.


"Uluh makin berat ya Bevan."


Lantas Wulan menyalami kedua iparnya kemudian dipeluk Yessi.


"Selamat ya Lan, jaga kesehatan biar lancar pas lahiran."


Wulan tersenyum. "Iya Mba makasih ya."


Karena kedatangan tamu Wulan bergegas ke dapur menyiapkan kudapan, kehadiran Yessi sedikit membuatnya tenang karena setidaknya mertuanya akan lebih fokus pada cucunya ketimbang menyindir Wulan.


"Mama pasti ngerepotin kamu ya Lan."


Tanpa diundang Yessi berdiri di samping Wulan, berniat membantu.


"Engga usah Mba Yess, engga enak biar aku aja."


Wanita yang memiliki tubuh tinggi langsing bak model itu tertawa kecil. "Kamu ini Lan, santai aja. Aku mending bantu kamu ketimbang ngobrol sama Mama."


Wulan terkejut karena dokter kecantikan itu begitu terang-terangan.


"Mba entar Mama denger."


"Mama udah ada Bevan, engga mungkin bakal denger." Katanya dengan tawa. "Aku tahu kamu pasti tertekan banget, jangan khawatir Mama emang orangnya begitu tapi aslinya perhatian banget."


"Iya Mba, mungkin ujian aja buat aku harus menangin hati Mama."


Yessi mengusap pundak Wulan. "Semangat, jangan sedih ya. Kasihan anak kamu."


________


Hai semua!!


Makasih ya udah mampir, kalau berkenan jangan lupa tekan jempol di bawah 🤗


gratis dan cuma satu detik kok.

__ADS_1


__ADS_2