Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
18. Nikah Muda adalah Beban


__ADS_3

"Jaman sekarang serem ya?" Nilai Vierra yang matanya fokus pada gadget.


"Lagi viral itu bukan?" tanya Satria.


"Iya yang anak seumur jagung dibolehin sama orang tuanya pacaran sama lelaki yang lebih dewasa, bahkan jaraknya sampai puluhan."


"Skip pedofil! Sebenarnya ini pendapat personal tapi orang seperti itu harus dimusnahkan, meresahkan banget." kata Selena sembari menggelengkan kepala.


"Buat kalian nih para cowok kalau mau suka sama orang pikir pakai logika oke. Dan gue engga mau berteman dengan pedofil apapun itu alasannya." Vierra menekankan pada Satria serta Dewa.


"Sorry girls! Gue lebih suka wanita yang lebih tua karena lebih menantang, apalagi kalau janda," tawa Satria yang mendapat gelengan para gadis.


"Janda lebih menggoda ya kan Sat?!"


"Yoi Ra!" Keduanya beradu tangan beberapa detik.


"Engga kaget si sama selera jaman sekarang, setara sekarang banyak banget janda muda bahkan kemarin scrool toktok ada loh yang katanya nikah cuma 4 hari. Apa engga strees itu." Selena tak habis fikir.


"Paling nikah karena kebelet kawin doang, pas dibelah eh udah longgar." Vierra tertawa.


"Mending janda dah."


"Kebanyakan mereka umurnya masih belasan bahkan ada tuh yang SMP udah nikah, heran gue sama orang tuanya, otaknya ditaruh dimana? Padahal anak umur segitu harusnya lagi seneng tumbuh jadi remaja yang mencari jati diri." Selena menimpali.


"Kebanyakan orang desa si!" celetuk Satria.


Vierra menatap Dewa yang sedari tadi diam dalam makanannya. "Eh lo juga dari desakan? Disana masih marak engga pernikahan dini?"


Mendengar itu Dewa tersedak hingga membuat satu meja panik untuk menyuruhnya minum.


"Astaga saking menikmati makanan sampai kaget gitu sama pertanyaan gue."


"Ah lo tersedak gini apa jangan-jangan lo ini korban pernikahan dini?!" tebak Satria.


"Hah?" Menjeda beberapa detik. "Ya enggalah, meski gue dari desa tapi engga ada yang seperti itu."


"Huh syukur deh kalau lo belum nikah," desah Selena. "Lagian engga mungkin juga si, mana ada yang mau nikahin anaknya pas lagi kuliah gini, bukannya makin pinter nanti malah nambah beban."


"Baner banget, apalagi diumur kita itu lagi senang-senangnya bergaul. Engga asik banget harus terkekang dalam sebuah hubungan." Vierra kemudian meminum jus alpukatnya.


"Gue yakin kalaupun ada pasti rumah tangganya engga harmonis."


"Engga semua orang begitu, Bukan berarti nikah muda dinilai gampang pisah, toh banyak juga yang nikah umur mateng dengan finansial yang cukup tapi cerai. Menurut gue si balik ke diri masing-masing aja."


"Oke alasan lo cukup bikin gue setuju, tapi tetap saja menurut gue nikah muda bukan sesuatu yang bisa dibanggakan." Vierra berspekulasi.


"Setuju!" Selena serta Satria bebarengan.

__ADS_1


Sinar jingga dari mentari yang tergelincir ke arah barat terlihat begitu menyejukan mata, karena cuaca yang indah menggerakkan tubuh Wulan ke minimarket di depan komplek.


Setelah memilih beberapa barang Wulan mendorong pintu kaca namun disaat yang bersamaan lelaki yang fokus pada ponselnya tak sadar ada seseorang yang hendak melintas sehingga keduanya bertabrakan.


Kedua orang itu kaget namun yang menjadi perhatian adalah kantong putih yang sudah tergeletak, dengan perasaan tak karuan Wulan membuka dan melihat telurnya sudah tak berbentuk.


"Ya Tuhan, maaf ya gue engga sengaja."


"Gimana si masnya," Omel Wulan yang kini sudah memperlihatkan mata berkaca.


"Maaf sekali lagi maaf, gue ganti ya belanjaannya."


"Iyalah harus! Ini salah kamu jalan engga pakai mata."


"Yasudah ayo!" Lelaki tinggi itu mengulurkan tangan meminta Wulan berdiri namun tak disambut.


"Bisa sendiri mas!"


Karena canggung lelaki itu menggaruk tengkuknya lalu menghembuskan nafas sebelum mengekori Wulan.


"Gue Satria! Kayaknya kita seumuran, nama lo siapa?"


"Engga usah basa basi, lagian buat apa juga kenalan.


"Siapa tahu kita ketemu lagi."


"Aku berharap tidak akan ada pertemuan selanjutnya."


"Engga boleh gitu, siapa tahu gue gitu jodohnya." Muncullah sifat penggoda ulung lelaki itu.


"Sudah punya suami mas, makasih."


Satria melotot lalu meneliti penampilan Wulan yang sama sekali tidak terlihat seperti perempuan yang lebih tua darinya.


"Aku kira kita seumuran."


"Aku udah selesai! Sekarang bayar!"


"Iya iya."


Seluruh karyawan kafe Magenta keheranan dengan kebisuan Dewa pada Selena, sesemangat apapun perempuan itu mendekati hanya dibalas sewajarnya.


"Lagi marah sama Selena Wa?" tanya Chika yang kini berdiri bersebelahan sambil membuat kopi.


"Engga, biasa saja."


Chika yang memiliki mata sipit itu tertawa. "Semua orang juga tahu kali kalau kalian punya hubungan spesial, jangan kelamaan ngambeknya. Kasihan Selena,"

__ADS_1


Dewa menggeleng. "Engga ada hubungan lebih, cuma temen kayak gue sama lo."


"Apaan, engga mungkinlah." Berfikir beberapa menit. "Tapi emang kalian beneran engga ada hubungan?"


"Iya, buat apa juga gue bohong."


"Lo udah ada cewek atau gimana?"


Dewa menatap Chika akhirnya. "Kenapa nanya begitu? Lo suka sama gue?"


"Lo bukan tipe gue sorry." Perempuan itu menatap Dewa risih. "Gue sama yang lain mengira kalian pacaran dilihat dari kedekatan lo sama Selena, sangat disayangkan Dewa lo menyiakan perempuan sekelas Selena."


"Emang Selena mau sama orang kayak gue?" tanya Dewa tak percaya.


"Lo engga lihat tatapannya ke lo? Itu udah jelas banget kalau Selena naksir berat. Bego banget lo jadi cowok."


Dewa terdiam untuk mengingat kembali kebersamaan kedua, jika dilihat dari kacamata yang berbeda mereka memang lebih mirip seperti sepasang kekasih.


"Saran gue nih!" Chika menyiapkan gelas ke nampan. "Jangan sakiti hati Selena, soalnya lo kerja sama dia dan dapat enak. Kalau terjadi sesuatu kedepannya lo susah sendiri, kalau bisa coba lo balik cintai dia, Selena itu tulus ke lo dan susah banget menemukan orang seperti itu di dunia tipu-tipu ini."


Dewa bimbang mendengar itu, seandainya ia masih sendiri tak bisa dipungkiri lelaki itu begitu tertarik namun tanggung jawabnya berat sebagai seorang ayah serta suami.


"Dewa!"


Membalikkan badan sehabis mengantarkan minuman lelaki itu terkejut dengan kedatangan Selena dengan wajah sumringah.


"Dewa nanti malam kita kerjain tugas bareng ya."


"Lain kali ya Sel." Dewa kembali pada tempatnya meninggalkan tanda tanda pada benak Selena.


Tak menyerah begitu saja, Selena mengekori lelaki tinggi kurus itu.


"Kalau lo males keluar biar gue aja yang ke rumah."


"Engga dulu ya Sel." Sembari menyiapkan pesanan Dewa berkata.


"Ah lo engga asik, biasanya juga ayo-ayo aja. Kenapa memang Wa?"


"Aku capek Sel, pengen tenang di rumah aja."


Kekecewaan menyelimuti perasaan wanita itu, dengan tangan yang terlihat sehat dan halus itu menyentuh kening Dewa menyebabkan tatapan keduanya bersatu.


"Kenapa?"


Selena tersenyum. "Syukurlah Dewaku tidak sakit, kalau ada masalah jangan segan buat ngomong ya."


Sebagai lelaki normal Dewa mengakui visual Selena begitu memanjakan mata, mungkin karena ia masih memiliki darah Thailand dan membuatnya berbeda dengan perempuan lain yang biasa ditemui.

__ADS_1


"Iya Sel makasih perhatiannya."


__ADS_2