
Bisik suara menganggu pendengaran Wulan, perlahan perempuan itu membuka mata menyesuaikan cahaya sekeliling.
"Hai!" sapa Dewa dengan senyum, tangan yang sedari tadi saling bertaut dikecup lelaki itu penuh haru.
Tanpa bertanya seperti dalam sinetron Wulan mengetahui tempat dirinya berbaring lalu memaksakan otot bibir untuk bergerak.
"Wa anak kita baik-baik aja kan?"
Mengangguk sembari mengusap kening Wulan sayang. "Anak kita kuat, kamu juga harus begitu ya."
"Iya aku kuat."
"Aku minta maaf, untuk selanjutnya aku berjanji engga bakal ninggalin kamu sendiri. Aku menyesal sayang."
Meski lemas Wulan sebisa mungkin menjawab, tidak sopan mengabaikan niat baik Dewa meski hatinya tak yakin akan bertahan lama perubahan baik suaminya itu.
Dengan waktu yang sama namun berbeda tempat, suara benturan piring yang mengenai kaca meja menarik mata sembab yang masih mengucurkan air.
"Udah siang, gue tahu lo engga nafsu makan tapi gue engga bisa biarin lo mati karena nangisin laki orang."
Berdecak sebal Selena lakukan menanggapi cibiran Vierra. "Lo engga akan ngerti."
"Lo itu punya segalanya Sel, kehilangan orang semacam Dewa engga ada artinya, kayak buang upil aja karena engga ngaruh, buktinya lo masih bisa lakukan apapun yang lo mau, ayolah girl!"
"Dikira patah hati engga sakit."
"Orang kayak Dewa engga pantas lo tangisin gini Selena Nan Ploy!" geram Vierra. "Lupain dia ya? masih banyak cowok yang antre."
"Gue emang mau jauhin, engga bakat gue jadi pelakor soalnya."
"Nah bagus!"
"Tapi gue engga bisa lepas dari dia semudah itu, lo tahu sendiri kita kerja di tempat yang sama."
Vierra menepuk jidatnya. "Lupa? Lo itu pemiliknya dongo!"
"Masalahnya gue engga tega, kalau gue berhentiin dia terus mau kerja apa? Kasihan anak istrinya."
Tangan ringan Vierra menepuk lengan Selena geram. "Lo bukan pemerintah yang mikirin kemiskinan Sel, lo beneran deh nyebelin banget!"
"Engga tahu, tiba-tiba kepikiran aja."
Kembali pada Wulan yang kini hanya bersama mertua, Dewa yang kebetulan ada kelas siang terpaksa harus mengikuti pelajaran.
"Udah Ma, Wulan kenyang."
__ADS_1
Desi yang duduk di samping sembari memperhatikan menantunya makan berdecak.
"Biaya rumah sakit ini mahal Lan, kalau kamu dirawat di rumah sakit daerah boro-boro dapet makanan mewah kayak gini. Jangan mubazir!"
"Tapi aku bengah Ma," keluh wanita itu dengan memelas berharap Desi memahaminya.
"Makan Wulan jangan manja!"
Menghembuskan nafas lelah Wulan lakukan sebelum kembali menyentuh makanannya.
Bukan hanya makanan yang pahit dirasa Wulan, Dewa juga merasa pahit yang sama kala tiba di kampus dan mendapat tatapan tajam Vierra belum lagi keadaan canggung pada Selena.
Sesakit apapun hati Selena, dia tidak bisa menampik jika mata nakalnya beberapa kali curi pandang pada Dewa hingga mendapat pelototan Vierra.
"Fokus Sel! Udah gue bilangin juga!" bisik Vierra geram.
Mendesah kecil. "Lo engga bakal ngerti perasaan gue."
"Jangan berlagak murahan dengan godain suami orang."
Ditampar begitu Selena diam, memilih memperhatikan pembelajaran di depan yang bebarengan dengan Dewa yang menatap lekat gadis itu.
Seolah diatur semesta keempat orang yang terdiri dari Selena, Vierra, Dewa dan Satria duduk berhadapan di kantin untuk mengisi perut sekaligus membahas tugas yang sudah digarap setengah dua hari lalu.
"Dibagi aja!" tanpa membuang waktu Vierra dengan cepat berkata. "Gue sama Selena ngetik, terus kalian yang cari bahan! Entar semuanya dikirim lewat pesan aja."
Memutar bola mata asal. "Gue cuma malas aja kalau terus ketemu orang sok kegantengan."
Dewa yang disindir tak mampu berbuat banyak, sedangkan Selena mencubit pinggang Vierra yang membuat gadis itu mengaduh.
"Lo ada masalah sama gue?" Satria yang dongkol merasa dialah yang disindir, sebab lelaki itu mengakui sering tebar pesona.
"Engga!"
"Apapun masalah lo pokoknya gue mau kita bahas tuntas tugas bareng!" tegas Satria.
"Engga bisa egois dong!"
"Lo yang egois! Lo---"
Kalimat Satria dipangkas suara Dewa yang menyuruh keduanya berhenti sembari berdiri sebelum menatap Selena beberapa detik serta Vierra.
"Kalian selesaikan tugas ini, gue nanti yang bicara ke dosen buat tuker anggota biar kedepannya enak."
Keterkejutan tak bisa luput dari wajah ketiganya, terlebih Satria yang tak tahu menahu merasa kian aneh.
__ADS_1
"Bro! Ada masalah apa?" Satria menepuk pundak temannya.
"Santai!" Dewa menggeleng lalu menarik ranselnya. "Gue pamit duluan ya sekalian ngomong sama dosennya."
"WA! Yang bener aja jangan seenaknya gini." Satria hendak menyusul Dewa yang dihentikan Vierra.
Menyentak tangan gadis rambut pendek itu dan menatap tajam. "Kita ini temenkan? Lo kok tega gituin Dewa."
"Salah dia sendiri." Entengnya. "Udahlah engga penting banget belain cowok brengsek kayak Dewa."
Tanpa kedua orang berbeda kelamin itu sadari, Selena yang berdiri di belakang mereka tanpa kata mengetik diatas keyboard yang dikirimkan pada Dewa.
Mengambil ransel yang menarik perhatian. "Gue duluan ya kafe ada masalah! Sampai nanti!"
"Sel!" panggilan Vierra tak digubris.
Sesuai dengan pesan Selena serta Dewa duduk di kantin fakultas hukum yang tidak mungkin diinjak anak satu fakultas keduanya.
"Kenapa lo minta gue ke sini?" tanya Selena dengan suara tenang dan dingin, begitu berbeda dengan keperibadian yang sebelumnya Dewa kenal.
"Gue mau minta izin buat pamit ke karyawan lain, dan meminta maaf buat semua kekacauan."
Menutup mata beberapa detik untuk menyakinkan keputusannya. "Soal lo bohongin semua orang dengan pernikahan mungkin sedikit berat Wa, kita cuma butuh waktu aja tapi pasti kita maafin, gue sama Vierra juga minta maaf kalau menyakiti perasaan lo."
"Engga! Jangan bilang begitu, disini murni kesalahan gue. Sekali lagi maaf,"
"Gue boleh tanya sesuatu?"
"Iya silakan."
"Kenapa harus lo tutupin?"
Pertanyaan itu membekukan tubuh Dewa, dia pun mulai bertanya pada dirinya alasan jelas menyembunyikan hubungan itu.
"Gue engga tahu pastinya karena semuanya terjadi begitu saja dan gue sama sekali engga berniat menyembunyikan apapun."
Selena tersenyum. "Tapi kenyataannya lo udah menyembunyikan itu Wa, gue berdo'a supaya lo engga memiliki rasa sakit yang sama kayak gue."
"Maaf."
Tundukkan kepala Dewa mengisyaratkan sesuatu untuk hati Selena, luka yang masih menganga ditaburi garam kasar tanpa ampun.
"Gue malu Wa, sumpah."
_____
__ADS_1
Hai semua! Maaf baru update akunya lagi kurang enak badan jadi seharian cuma netplixan hehe. (okey engga penting)
Jadi bagaimana part ini? Kalau kalian jadi Selena bakal diapain itu si Dewa, tinggalkan jejak dengan like atau komen ya babay love you☺