Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
6. Jadikan Aku Istri Keduamu


__ADS_3

Siang hari pertama di kota terasa begitu panas, untung pendingin ruangan berfungsi dengan baik, serta ocehan pedas mertua telah berakhir saat jam sembilan keduanya kembali ke kampung halaman.


"Lan kita jalan yuk! Waktu tes masuk aku sempet lihat-lihat dan ada tempat bagus. Kamu pasti suka."


Sekedar informasi, sebelum Wulan diboyong suaminya itu lebih dahulu menempati rumah untuk melengkapi pendaftaran, waktu itu hanya berdua dengan Basuki.


"Tempat apa memang?"


"Perpusatakaan kota, fasilitasnya bagus banget terus lengkap, beda sama perpustakaan daerah kita."


Mendengar itu Wulan yang gemar membaca tentu tertarik. "Serius? Kalau gitu aku mau Wa."


"Ayo! Kamu siap-siap gih aku panasin motor di luar ya."


"Iya sebentar!"


Melihat itu Dewa mengembangkan senyum sebelum mengambil kunci dan mengeluarkan motor di halaman.


Rumah yang hanya dibatasi tembok memudahkan para tetangga untuk saling berinteraksi seperti saat ini, sosok perempuan berambut panjang menyembulkan kepala dan melihat suami Wulan.


"Dewa! Hai kapan sampai?"


Menoleh ke belakang lalu tersenyum sopan. "Tadi malam."


"Mau kemana?" tanyanya lagi.


"Cari angin aja."


"Eh kebetulan, gue juga engga ada kegiatan. Kalau ikut engga masalahkan? Daripada lo pergi sendirian, ketara banget jomblonya," tawanya.


"Lain kali ya, aku mau pergi sama istriku."


Bak disambar petir gadis itu terkaget dengan pengakuan Dewa.


"Hah?!"


"Wa udah?"


Suara Wulan yang baru melewati pintu menarik perhatian kedua manusia itu, sedangkan istri Dewa itu merasa canggung.


"Dia siapa Wa?"


"Namaku Wulan mba penghuni baru." Perkenalannya sembari tersenyum manis. "Mbanya sendiri?"


"Bella!" Tak bisa disembunyikan jika gadis itu diterpa kekecewaan. "Kalian nikah muda? Kenapa mutusin nikah muda?"


"Kami dijodohin." Dewa menjawab.


Wajah ceria kembali menghiasi. "Wulan! Gue mau daftar jadi istri keduanya Dewa, apa aja syaratnya?"


Baik Wulan yang disodori pertanyaan begitu maupun Dewa yang mendengar syok, merasa ngeri dengan kalimat yang dikeluarkan barusan.


Dewa berdehem. "Bella kamu bercandanya kebangetan."


"Gue serius! Suka sama lo Wa! Karena lo udah ada istri, bolehlah gue adi yang kedua, lagian Wulan kan baru disini, gue bisa jadi madu sekaligus teman yang baik."


"Gila!" ucap pasangan itu serempak.


"Iya gila, cinta kan memang gila."


Wulan menepuk dahinya, dia merasa bingung dengan yang hendak ia katakan.


"Duluan ya Bella!"

__ADS_1


Akhirnya Dewa lebih memilihmu menarik tangan untuk menaiki motor matic yang dibeli beberapa minggu lalu.


"Gue erius Wulan! Tolong pikirkan syaratnya nanti gue mencoba memantaskan diri."


"Kami duluan Bella!" pamit keduanya sebelum meninggalkan rumah.


Sepanjang perjalanan Dewa mengajak bercerita tak dihiraukan Wulan, ia merasa dongkol sendiri. Meski tidak mencintai suaminya dan terpaksa menjalani pernikahan Wulan masih waras untuk memperbolehkan poligami, dia sadar tidak sekuat itu.


"Marah?" tanya Dewa saat keduanya tiba di parkiran perpustakaan.


"Engga!"


Tertawa kecil melihat ekpresi ketus Wulan.


"Gemes banget, jangan ngambek ya aku engga akan cari perempuan lain kok."


Memutar bola mata. "Ada buaya lepas dari kandang."


Keduanya berjalan beriringan, mengisi daftar sebelum memasuki tempat luas yang penuh dengan buku, membuat Wulan menjerit kesenangan tertahan karena ada peringatan besar untuk tidak berisik.


Karena Dewa yang tidak menyukai buku, ia hanya mengekori Wulan yang menarik beberapa buku untuk dibaca.


"Ini cocok buat kamu!"


Lelaki usia delapan belas tahun itu hampir saja tertawa lepas melihat buku apa yang direkomendasikan istrinya.


"Cara menahan hawa nafsu."


"Kalau aku baca ini kamu engga dapat nafkah batin dong Lan."


"Daripada dipikiran kamu cuma dua puluh satu plus, sekalian supaya bisa jaga mata biar engga jelalatan kemana-mana."


"Aku cuma jelalatan ke kamu sayang."


Dewa tersenyum penuh arti sebelum mengungkung Wulan yang membuat perempuan itu melotot, takut ada yang memergokinya.


"Dewa minggir engga?!"


Menggeleng. "Sebelum istriku engga cemburu lagi."


"Siapa yang cemburu?"


"Kamulah, sama Bella."


Memutar bola mata. "Engga ya Dewa! Aku ketus karena kesal. Perempuan mana yang suka dikasih pertanyaan begitu. Mengurus satu pernikahan saja aku belum sepenuhnya lalu apa kabar kalau ada madu?"


"Manis sekali istriku lagi cemburu."


Mendengus sebelum menundukkan badan dan melewati kungkungan suaminya sebelum duduk di salah satu bangku.


"Wa jangan ganggu, aku mau baca."


Peringatan itu membuat tangan Dewa yang hendak merangkul diurungkan.


"Kalau kamu lagi serius gini kadang aku ngeri, merasa mau dimakan kamu."


"Kalau bisa aku memang ingin memakanmu."


"Makan yang di ************ aja ya Lan."


"Bicara sekali lagi aku timpuk."


"Kalau ditimpuk pakai bibir aku rela!"

__ADS_1


Puk!


"Kena kamu!"


Dewa mengelus kepalanya yang baru berbenturan dengan buku tebal Wulan.


"Jahat banget jadi istri, nanti aku cari perempuan lain gimana tuh."


"Diamlah Dewa aku ingin serius membaca buku."


Merasa tak enak akhirnya Dewa membiarkan Wulan menyelesaikan bukunya.


Suara peralatan makan beradu menyebabkan deting yang menghiasi makan malam pasangan baru itu.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu menarik atensi keduanya, dengan malas Wulan berjalan menghampiri pintu sebelum menariknya.


"Selama malam istri pertama!"


Wulan meneliti penampilan gadis centil itu yang mengenakkan sweater kebesaran dengan celana selutut lalu di tangannya terlihat mangkuk lengkap dengan tutup di atasnya.


"Suami kita di dalam? Gue masuk ya?!"


Belum sempat berkata wanita itu terlebih dahulu memasuki rumah yang membuat Wulan mengerang tertahan sebelum menutup pintu.


"Selamat malam suami! Wah kebetulan banget lagi mau makan."


Dewa yang tengah meminum air hampir tersedak dengan kedatangan gadis ceria itu.


"Sebagai istri kedua yang baik, gue juga memasak makanan. Gue tambahin lauk ya, jadi suami harus adil."


"Mohon maaf Mba tapi aku harus ngomong begini."


"Kenapa?"


"Apa mba engga punya malu? Posisinya hubungan pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan mba."


Bella sedikit tertampar namun tetap tertawa kecil. "Ini kan tantangan, gue yakin sejak pulang bareng Dewa dia pun punya rasa yang sama. Lagipula gue engga menggodanya diam-diam atau menjadi pelakor, gue mau aja dijadikan yang kedua."


"Kamu sepertinya salah paham Bell."


"Salah paham bagaimana? Semuanya sudah jelas kalau kamu suami Wulan dan juga---"


"Hanya Wulan!" tegasnya. "Istriku hanya Wulan."


Hati Bella terluka diperlakukan kasar begitu, matanya berkaca sebelum pergi tanpa meninggalkan pasangan itu.


"Astaga, gadis kota sangat berani."


"Pantes dia baper, ternyata ada yang kasih harapan duluan!" sindir Wulan.


"Kamu ngomong apa?"


"Kurang jelas? Bella engga akan seperti ini kalau kamu engga baperin dia."


"Aku engga bermaksud begitu, aku baik apa salah? Apa aku tahu kalau kebaikanku akan disalah artikan?"


"Terserah!"


Wulan meninggalkan suaminya menuju kamar, dia kesal dengan sikap Dewa, pemikiran buruk mulai menghinggapi perempuan itu.


________

__ADS_1


Kalian pernh engga si ketemu orang sejenis Bella?


__ADS_2