
**Dua** menit pertama kedua perempuan itu hanya saling memandang, Wulan yang mencoba menyusun kata dengan Selena yang perasaannya tak karuan.
"Aku minta maaf kalau ada salah sama kamu Lan." Selena berkata tulus.
"Aku sebenernya engga tahu harus ngomong apa Sel. Tapi sebenarnya aku seneng akhirnya bisa ketemu kamu secara langsung." Menjeda. "Engga munafik kalau aku cemburu sama kamu."
"Aku sebelumnya engga tahu kalau Dewa udah punya istri Lan, aku minta maaf bikin kamu sakit hati. Demi Tuhan aku engga pernah berfikir menyakiti perempuan lain."
"Nasi udah jadi bubur, aku mau larang kamu deketin Mas Dewa apa boleh?"
Selena terkejut. "Maksudnya?"
"Untuk pernikahan kami, kita sama-sama perempuan tentu aku tahu kamu suka sama suamiku, aku hanya ingin mengamankan apa yang bisa aku selamatkan."
"Kamu salah paham Lan, aku engga keberatan sama sekali buat jauhin Dewa bahkan aku udah kepikiran, justru kenapa kamu minta izin buat aku jauhin Dewa? Itu hak kamu buat pertahanin pernikahan."
Wulan hanya tersenyum menanggapi, tidak mungkin dia membeberkan pada orang yang hendak merebut miliknya jika pernikahan mereka tidak dilandasi cinta bahkan sejauh ini kata sakral itu belum jua terucap.
"Kamu tenang aja, aku engga akan menganggu hubungan kalian." Selena memamerkan jemarinya yang dililit cincin. "Aku sudah diikat."
Keterkejutan mendekap Wulan hingga akhirnya kelegaan mencuat seolah beban yang dipanggul hilang begitu saja.
"Ah begitu, selamat ya Sel."
Selena tersenyum tulus. "Do'ain ya Lan semoga langgeng seperti kalian."
"Tentu."
Kedua wanita yang saling melempar senyum memandang bersamaan hingga tiga detik kemudian memecahkan tawa bahkan Selena sampai menepuk pundak Wulan karena terasa begitu lemas.
"Aku sebenarnya gerogi banget di depan kamu gila." Selena berkata jujur.
"Aku saja begitu, rasanya aneh banget bersikap seperti ini."
"Percaya engga? Ini kali pertama aku bicara aku-kamu ke perempuan selain orang yang lebih tua."
Wulan berfikir sejenak sebelum mengangguk. "Jadi bertemu aku buat kepribadian berubah drastis ya?"
Selena mengambil oksigen sebelum menghentikan tawa untuk fokus menatap Wulan. "Makasih ya Lan, aku senang bertemu orang seperti kamu."
"Aku juga."
"Aku jauhin Dewa bukan berarti harus jauhin kamu juga bukan?" tanya Selena. "Jujur aku merasa nyaman, padahal baru ketemu, aku pengen kita jadi temen atau sahabat?"
__ADS_1
"Tentu saja."
"Boleh peluk?"
Entah apa yang semesta takdirkan dari persahabatan yang coba keduanya bangun, dalam benak mereka hanya ada doa tulus yang tidak akan menganggu apapun dan semoga Tuhan mengaminkan.
Selesai dengan urusan Selena, Wulan yang sudah menidurkan Nolan bertatapan dengan Dewa yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak yang tubuhnya ciptakan.
"Ada yang dibicarakan?"
Dewa menghembus nafas, begitu banyak beban dihati serta pikirannya. "Kamu lebih tahu itu."
"Aku tidak membuat masalah dengan Selena jika itu yang kamu kuatirkan."
"Wulan aku kuatir kamu bukan orang lain."
Wulan tahu tak selamanya dia bisa lari, sekarang sudah ada Nolan dan jika ada kerenggangan antaranya dengan sang suami akan sangat memengaruhi anak itu, demi keutuhan rumah untuk Nolan, Wulan menyampingkan ego dan perasaan sakit yang selama ini dia rasa untuk sebuah perubahan hubungan.
"Apa kamu mencintaiku?"
Tutur tanya Wulan mengagetkan Dewa, dia pun bingung hendak berucap seperti apa pertanyaan tak terbayangkan itu.
Tak kunjung mendapat balasan hembusan nafas terdengar pelan dari mulut Wulan. "Bodoh ya aku bertanya begitu? Kita menikah karena perjodohan, kita juga melakukan hubungan seksual karena nafsu entah ada atau tidaknya cinta."
"Jangan membohongi diri sendiri Wa, kenyataannya memang begitu tapi." Menoleh ke belakang tepatnya dimana Nolan tertidur sembari mengulas senyum getir. "Aku engga mau menghancurkan rumah Nolan."
Dewa melakukan hal yang sama dengan Wulan sebelum akhirnya dia bersimpuh di pangkuan Wulan dengan bahu bergetar yang menandakan tangisan.
"Aku minta maaf Lan, aku akui aku mencintai Selena."
Seharusnya tidak ada rasa sakit karena Wulan sudah mengetahui segalanya tapi dia sungguh tidak bisa mengontrol hatinya untuk teriris.
"Tapi aku engga mau kehilangan kamu, aku engga mau ninggalin kamu dan anak kita hanya untuk sebuah ego sesaat." Dewa menatap istrinya dengan mata berkaca. "Demi apapun Lan aku udah engga berfikian ke arah sana, aku selalu ingat kalian."
Wulan mengusap matanya. "Engga apa, aku memaklumi sikapmu Wa, kita berawal dari perjodohan dan sulit untuk kita beradaptasi apalagi jatuh cinta tapi apa boleh aku meminta sesuatu?"
"Apapun."
"Aku ingin kita mulai melakukan hal intens lagi, memulai saling meluangkan banyak waktu bersama dan mencoba saling mencintai. Kita sungguh membutuhkan pondasi yang lebih kuat Wa."
"Kamu benar, aku minta maaf ya Lan belum bisa jadi suami yang baik buat kamu."
Menggeleng. "Aku juga salah, boleh kita saling jujur supaya kedepannya kita lebih mudah karena terbuka?"
__ADS_1
"Tentu."
"Aku ingin nanya."
"Tentang apa Lan?"
"Apa yang membuat kamu jatuh cinta pada Selena?" Selancar apapun mulut berucap, tak ada yang tahu bagaimana sisi tersembunyi Wulan yang mungkin terasa pedih.
Terdiam guna membiarkan otak menemukan jawabannya. "Mungkin kebersamaan, aku juga tidak terlalu paham Lan."
"Apa yang paling kamu suka dari Selena?"
"Dia orang yang sangat positif."
"Apa yang kamu engga suka dari aku?"
Dewa gelisah tidak menyukai pertanyaan jebakan seperti itu, dia tidak ingin melukai perasaan Wulan lebih dalam.
"Pertanyaan lain?"
Menggeleng. "Aku mohon, kira harus cari solusi untuk masalah kita. Dimulai dari sini, aku ingin tahu apa yang membuatku kurang dimata kamu Wa, nanti aku bisa memperbaikinya untuk kita."
"Kalau begitu aku bisa mengajukan pertanyaan yang sama?" tanya Dewa yang menyebabkan keterdiaman Wulan beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Aku akan jujur, begitupun kamu."
"Demi kita."
Keempat manik mereka bertaut saling menyakinkan satu sama lain.
"Aku kadang merasa kamu engga bisa menghargai aku Lan, aku selalu merasa disini aku yang mencoba mencintaimu tapi kamu enggan melakukan yang sama, kamu sangat dingin dan meski engga bilang aku tahu kamu sebenernya tertekan. Aku ingin mengeluarkanmu tapi melihat penolakan aku merasa kacau, aku bodoh memang karena aku melihat Selena yang selalu bisa mengerti dan selalu lari padanya ketimbang memperbaiki denganmu."
"Ego-mu, tapi kamu benar aku salah karena secara tidak langsung memupus harapan yang coba kamu bangun, aku minta maaf ya Wa."
Wulan menangis, dia memeluk suaminya dengan begitu erat karena menyadari sikapnya yang kurang menghargai menyebabkan masalah yang membuatnya lelah sendiri.
______
Aku engga nyangka ternyata ada beberapa yang nungguin, aku kira cerita ini cuma serpihan debu yang engga akan dilirik, aku memang bukan penulis profesional karena masih banyak ngaretnya, gaya penulisan dan ide cerita yang mungkin membosankan selain itu, aku juga banyak pekerjaan di real life apalagi tanggal tua jadi aku minta maaf buat yang mungkin kesel.
But, makasih yang mampir ke cerita yang recehan ini. Semoga setiap kata yang aku rangkai bisa menghibur kalian:)
Salam Manis
Aku
__ADS_1