Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
31. Namanya Nolan


__ADS_3

Desis lara yang keluar dari mulut berbeda dengan alasan guyuran air mata yang dikeluarkan Wulan sembari menyusui putranya.


"Aku mau sendirian Bu," berkata lirih tanpa menatap wanita paruh baya yang ikut merasa sesak seperti sang anak.


Tanpa berucap apapun ibunda Wulan memilih mengikuti kemauan untuk meninggalkan dirinya sendiri di kamar meskipun perasaan campur aduk mengusai melihat tangisan perempuan itu.


Hati anak mana yang bisa baik-baik saja mendengar kematian orang tua, terlebih tidak mendapat kesempatan untuk mendekap tuk terakhir kali akan tetapi, marahpun tak ada guananya kini.


Usai menidurkan putranya yang baru berusia seminggu Dewa dengan langkah pelan memasuki kamar setelah baru selesai dari kuliahnya seraya membawa nampan yang berisi makanan.


"Lan kata Mama kamu belum makan, yuk diisi dulu perutnya."


Wulan yang tiduran membelakangi Dewa menghapus jejak air mata. "Aku lagi engga pengen makan Wa."


"Aku engga akan ganggu kamu Lan tapi kasihan tubuh kamu, kasihan anak kita yang masih bergantung sama kamu. Jangan egois ya."


Dengan sangat terpaksa Wulan bangun, begitu juga dengan Dewa yang duduk sebelah isterinya dengan maksud ingin menyuapi.


"Aku engga pengen makan itu Wa, bosen. Apa engga ada makanan lain di dapur?" tunjuknya begitu malas melihat sayur bening daun katuk.


"Ini baik buat asi kamu Lan makannya harus makan ini, buka mulut kamu!" Dewa mencoba menghibur dengan tersenyum manis.


Berdecak. "Dikira aku kambing kali harus makan rerumputan kayak gitu."


Dewa mengusap bahu Wulan. "Demi anak kita Lan, tolong makan ya. Aku janji nanti kamu boleh makan apapun yang kamu mau."


"Aku engga butuh janji kamu, aku itu capek kenapa engga ada yang bisa ngertiin aku."


"Sayang."


"Jangan panggil aku begitu!" tegas Wulan sembari menutup mata.


Keburu kesal Dewa menaruh makanan itu. "Lan aku tahu kamu capek harus ini itu, tapi apa salahnya? Ini buat anak kita. Aku mohonlah kamu jangan egois. Kalau bukan kamu siapa lagi"


"Kamu berbicara seolah aku ini orang tua tunggal." Menatap sengit. "Ouh iya, kamu memang engga ada konstribusi apapun buat anak kita selain numpang benih."


"Jaga omongan kamu ya!"


"Buktinya aku selama mengandung kemana-mana sendiri, hanya saat ada orang tua aja kamu perhatian padahal aslinya kamu engga perduli bukan? Terus saat aku baru lahiran kamu kemana? Aku butuh kamu tapi kamu milih keras kepala ninggalin aku."


"Saat itu banyak orang Wulan, kalau aku tinggal akan akan merubah apapun."


"Gampang ya kamu ngomong, engga sadar aku kehilangan sosok suami buat aku dan ayah buat anak kita saat itu."

__ADS_1


"Maaf," sesal Dewa menatap penuh luka.


Wulan membuang muka lalu menangis tersedu, dia merasa begitu lelah menjalani hubungan pernikahan yang begitu abu dimatanya meski kini ada pengikat.


"Aku bakal selalu ada buat kamu sama anak kita, aku janji. Maafkan aku yang kemarin."


Seperti sebuah kebiasaan yang menggunakan pelukan sebagai sebuah kesepakatan berbaikan diantara mereka.


Hangatnya semesta mendukung kebahagiaan orang tua baru yang tengah mengadakan acara syukuran sekaligus menamai putra putra pertama yang baru lahir dengan sembelihan kambing.


Halaman rumah yang tak seberapa didekorasi menjadi tempat untuk berbagi tawa dan canda, saling merangkul berbagi kebahagiaan satu sama lain.


Kedatangan tiga orang menghentikan canda Wulan bersama Bella, dia kemudian tersenyum menyambut sembari menilai begitu berbeda dengan degupan jantung keras Dewa melihat mereka.


"Hai Lan! Selamat ya!" Satria mengulurkan tangan yang dibalas perempuan itu mantap.


"Makasih udah datang."


"Hai bro yang udah jadi Bokap!" Satria menepuk pundak Dewa yang dibalas senyum.


Kini tatapan Wulan jatuh pada wanita berdarah Thailand yang merasa begitu canggung di tengah kebahagiaan pasangan itu.


"Hai! Kamu Selena ya? Makasih udah datang."


"Selamat ya! Ummmm gu--" Selena menggeleng, entah mengapa dia merasa gugup berhadapan dengan istri Dewa. "Maksudnya aku, aku bisa manggil kamu siapa?"


Vierra menatap Selena aneh, dia tahu perisis seperti apa peringanya tetapi hanya berhadapan dengan Wulan begitu mengubah.


"Panggil aja Wulan! Udahlah engga usah basa-basi, gue eneg banget lihat lo."


Semua orang membolakan mata, suara itu berasal dari Bella yang berdiri di sebelah Wulan seraya bersedekap dada.


"Stttt Bela," ingat Wulan merasa tak enak karena air muka Selena berubah begitu tak mengenakkan. "Kenalin aku Wulan!"


"Gue Vierra! Salam kenal ya Wulan." Menyelamatkan keadaan yang bisa menjadi perang Vierra berkata sebelum sedikit mencondongkan tubuh melihat bayi digendongan ibundanya."Hai baby boy! Nama kamu siapa nih."


"Nolan Euko Asmaralaya Tante, dipanggil Nolan." Wulan berkata mewakili anaknya.


"Manis sekali, boleh gendong engga Lan?" pintanya yang diangguki.


Sementara semua orang sibuk memperhatikan kegemasan Nolan, Selena dan Dewa saling bermain mata dengan pikiran yang hanya mereka yang paham.


Acara yang paling ditunggu memang adalah mengisi perut dengan banyak makanan enak siap santap, meski orang yang diundang tidak lebih dari dua puluh orang namun keramaian itu terlihat begitu indah.

__ADS_1


Selena yang telah menyelesaikan makannya berdiri untuk memilih minuman yang telah tandas, hal yang dilihat Dewa membuatnya segera menyusul tanpa menyadari bila sedari tadi gerakan keduanya telah dipantau Wulan, Bella, Vierra serta Satria.


"Kemana tuh lelaki gatel itu, gue mau susulin ya."


Tubuh Bella yang hendak berdiri dihentikan Wulan, keduanya bertatapan beberapa detik sebelum istri Dewa menggeleng.


"Biar aku aja, minta tolong buat semua orang fokus ke acara ya Bell."


"Gue engga mau lo sakit hati."


Menguatkan tekad. "Jangan kuatir, aku minta tolong banget Bel bantu aku ya?"


Hanya bisa pasrah Bella dibuat Wulan dan tak lama dia mengikuti manusia yang telah diincar sepanjang acara.


"Kenapa kamu kesini?" Dewa sengaja berdiri disamping Selena, agar jika ada yang melihat berfikir keduanya hanya mengambil minuman.


"Satria yang maksa."


"Lo kan bisa nolak, lo engga lihat tadi hampir aja bersitegang? Ini cara sakral, gue engga mau kalau kacau."


Selena mendesis. "Lo kok jadi salahin gue? Please deh, jangan gini. Gue engga lakuin hal salah Dewa."


"Salah karena ke acar---"


"Kenapa kamu marahin Selena Mas?"


Suara Wulan membuat mereka berpandangan kaget sebelum membalik badan bebarengan.


"Kamu sudah selesai makannya sayang?" tanya Dewa spontan.


"Aku ingin minum jadi kesini, ternyata ada kalian."


"Ini engga seperti yang kamu kira Lan." Selena mencoba menjelaskan.


"Bisa kira bicara?"


"Sama aku?" tunjuk Selena pada dadanya.


"Iya berdua."


Kedua wanita itu melirik Dewa yang membuat lelaki itu resah. "Lan please kita engga seperti yang kamu kira."


"Aku cuma mau bicara Mas, sebentar."

__ADS_1


Menghela nafas berat sebelum mendekati Wulan untuk mencium puncak kepalanya dan meninggalkan kedua wanita itu.


__ADS_2