
Dewa menyalakan data ponselnya namun sebelum menekan voice di aplikasi pencarian sebuah notifikasi pop up menarik perhatian keduanya hingga suasana yang tadinya menyenangkan berakhir menegangkan.
[Selena: Wa sibuk engga? Aku mau bicarain sesuatu. Kalau luang tolong telepon ya]
Serentak insan berbeda kelamin itu membuang muka selama beberapa detik sebelum Dewa melirik takut pada Wulan.
"Maaf."
Wulan menerbitkan senyum paksa. "Telepon aja mungkin penting Wa."
Mematikkan data seluler sebelum kembali pada sate yang sudah tak enak lagi dinikmati.
"Makan Lan, dihabisin."
"Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan?"
"Bisa nanti sekarang waktunya kita."
"Jadi ada juga waktunya kalian?" Satu alis Wulan terangkat.
"Engga gitu," Mengontrol emosi. "Jangan salah paham."
"Lalu apa?" tawanya mengangkat bahu. "Emang apa salahnya telepon Selena? Kalian cuma temen dan aku ini istri kamu Wa engga mungkin membocorkan apapun ataupun berperilaku aneh."
"Tapi kamu bersikap gini udah bikin aku aneh, seolah-olah aku dan Selena ada hubungan padahal semua itu cuma ada dipikiran kamu." Dewa menatap Wulan.
"Dipikiran kamu!" tak terima.
"Lan udah, malu kita ditempat umum."
Wulan membuang muka kembali sebelum mengaduk es tehnya menggunakan sedotan dengan kesal.
Melihat kemarahan Wulan yang tertera diwajah membuat Dewa tercubit.
"Aku minta maaf Lan, aku cuma engga mau bertengkar. Udah cukuplah kita selama ini bersitegang karena masalah yang sama, aku sengaja ajak kamu pergi, meluangkan banyak waktu semuanya aku lakukan buat kamu, buat hubungan kita, aku mungkin salah tapi apa engga bisa kamu lihat perjuangan aku buat memperbaiki semuanya?"
"Memperbaiki yang mana Wa?" serak Wulan. "Dari kalimat kamu saja sudah terbaca kalau kamu sendiri tidak bisa membaca titik permasalahan lalu bagaimana cara kamu memperbaiki?"
Netra Wulan yang sarat akan kesakitan diperlihatkan menyebabkan perasaan tergores pada hati Dewa.
"Apa dengan membuat aku senang dan tertawa semua akan selesai? Engga Wa, sebelum itu coba kamu intropeksi diri salah kamu, kamu aja engga tahu pasti salah kamu dimana bagaimana mau memperbaiki."
__ADS_1
"Aku engga selingkuh kalau itu yang kamu maksud," tegasnya. "Aku engga menjalin hubungan lebih dari teman dan aku cuma milik kamu Lan."
"Definisi selingkuh itu bukan tentang hubungan, bukan tentang kamu bilang cinta ke perempuan lain tapi selingkuh itu kesempatan." Mengambil nafas. "Kesempatan buat kamu memperbolehkan orang ketiga masuk, dengan memikirkannya secara lebih daripasa pasanganmu saja itu udah termasuk selingkuh."
"Pemikiran kamu kayak anak kecil Lan, kayak anak SMP yang baru pacaran sampai sebegitu posesifnya ke pasangan."
Wulan menatap tak percaya. "Terserah, aku udah jelasin yang ada dipikiran aku dan seharusnya kamu bisa menilai sendiri harus bagaimana selanjutnya."
"Kita pulang!"
Karena tak bisa berkutik Dewa akhirnya memutuskan meninggalkan tempat itu, Wulan yang menangis sepanjang perjalanan dengan Dewa yang berkecamuk dalam pikirannya.
**Resah** dan gelisah menyergap batin Selena meski dari gerakan tubuh gadis itu terlihat begitu santai dengan sesekali menyeruput minuman.
"Sorry ya nunggu lama Sel."
Mengangguk sembari memperhatikan tiap gerakan Dewa yang duduk di depannya, kantin fakultas hukum menjadi pilihan bagi keduanya seperti tempo lalu.
"Gue yang minta maaaf maksa lo datang." Selena ingat betul penolakan Dewa. "Tapi sungguh gue butuh lo."
"Jadi apa yang bisa gue bantu?"
"Lo inget Almo mantan gue yang waktu itu nyamperin?" Dewa mengangguk. "Ada pesta tiga hari lagi di rumah, buat rayain tunangan Kakak gue sekaligus pengumuman perjodohan gue sama Almo."
Dewa menyatukan alisnya. "Lo minta gue jadi pasangan lo lagi supaya perjodohan kalian batal?"
"Dari seminggu lalu saat tahu kabar ini gue udah pusing Wa, engga tahu lagi harus minta tolong ke siapa. Cuma lo yang bisa gue percaya." Selena menunjukkan wajah memelas.
"Lo cantik Sel dan kaya, engga mungkin lo engga bisa sewa jasa seseorang."
"Privasi Wa, gue engga bisa sembarangan narik seseorang karena keluarga gue termasuk jajaran orang penting di negara ini, kita engga tahu asal muasal seseorang kalau menyewa jasa, bisa jadi itu mata-mata lawannya Bokap atau Om gue, gue engga bisa mengorbankan banyak orang. Selain lo gue engga tahu lagi harus minta tolong kemana."
"Tanpa gue cerita kayaknya lo juga bisa menebak gimana keadaan rumah tangga gue."
Selena terdiam sejenak. "Gue minta maaf soal itu tapi gue beneran butuh bantuan lo Wa."
Melihat mata Selena yang berkaca membuat Dewa tak berkutik. "Gue engga mau punya pasangan seorang bajingan kayak Almo. Tolong Wa, gue bisa kasih apapun sebagai imbalan."
"Engga Sel, gue beneran engga pengen rumah tangga gue berantakan."
"Kalau gue minta izin sama istri lo gimana?" Dewa melotot tak percaya dengan ide gila Selena. "Supaya kalian engga salah paham."
__ADS_1
"Sel tolonglah gue beneran engga bisa, jangan bawa istri gue juga ke masalah ini. Kasihan dia bentar lagi mau lahiran,"
Selena merasa lemas. "Astaga Wa, cuma sehari. Gue minta bantuan lo sehari aja sesusah itu?"
"Lo bisa minta tolong Satria."
"Bokap gue kenal Satria, soalnya Bokapnya rekan bisnis Mama gue."
"Jadi harapan lo beneran cuma gue? Temen SMA? SMP?"
"Semuanya! Bokap gue kenal karena mereka sejenislah kayak Satria. Gue mohon Wa," memelas.
"Baiklah tapi janji ya hanya sehari?" ingat Dewa.
Senyum kelegaan terpatri indah di wajah cantik itu. "Gue makasih banyak ya Wa, bersyukur banget lo bisa bantu, berapapun uang yang lo mau pasti gue kasih."
"Engga perlu Sel, mau gimanapun lo adalah temen gue. Engga bakal lupa kebaikan lo selama ini."
"Iya Wa, sekali lagi terimakasih."
**Berkenalan** dengan keluarga seorang gadis menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar lelaki, perasaan tak beraturan kadang menghancurkan skenario yang telah disusun matang.
Lelaki dengan banyak persiapan saja masih terkena mental jika berhadapan langsung dengan keluarga gadis apalah daya Dewa yang kini lebih mirip anak ayam yang tercebur got dihadapan Ayah Selena yang begitu berwibawa.
"Jadi kamu pacarnya Selena?" tanya lelaki paruh baya itu penuh selidik.
"Iya Om, saya Dewa pacarnya Selena."
"Kenal Selena darimana?" Suara lembut mengalun dari bibir wanita cantik yang mirip dengan Selena, ibunya yang seorang pengusaha batu bara.
"Awalnya karena saya melamar kerja di kafe Magenta dan berlanjut saat tahu satu kampus."
Lelaki bernama Jonathan tertawa kecil. "Ini udah kayak judul sinetron ya, awalnya melamar kerja sampai akhirnya ke KUA."
"Pa!" tegur Selena, dia duduk di sebelah Dewa.
"Papa kamu bener sweetie, kami kira kamu menolak Almo karena sosok pacar yang kamu miliki adalah seseorang yang luar biasa, ternyata hanya," Menjeda sembari menatap Dewa remeh. "Barista di kafe kamu? Yang benar saja."
Ini memang bukan acara sungguhan seorang Dewa melamar Selena tetapi, dibicarakan seperti itu hati manusia mana yang bisa tetap dingin.
"Mama jangan hina Dewa begitu, lebih baik Dewa yang engga punya apapun tapi dia punya rasa tanggung jawab yang tinggi ketimbang memiliki harta tapi celup sana sini."
__ADS_1
"Tanggung jawab itu banyak macamnya Selena, kamu itu masih muda Mama maklum tapi untuk merestui hubungan kalian kami engga bisa."
"Mohon maaf sebelumnya, tapi saya tidak bisa melepaskan Selena."