
Selesai bertugas Dewa bersiap untuk pulang, tersisa waktu empat puluh lima menit dan itu cukup untuk makan bersama Wulan sebelum menghadiri kelas.
"Nih buat lo!"
Dewa menaikkan satu alisnya melihat bungkusan yang ditawarkan Selena.
"Buat gue? Dalam rangka apa?"
"Anggap aja ini hari keberuntungan lo."
"Eh engga perlu!" Dewa merasa tidak enak, melihat dari bungkusnya saja sudah terlihat betapa berkelas harga makanan itu.
Selena menarik tangan Dewa lalu meletakkan paksa. "Udah sana makan entar kalau lama debat bakal ketinggalan kelas."
"Ini beneran? Sumpah gue engga enak."
"Iyalah gue bukan youtuber yang suka bikin acara prank."
"Oke makasih ya Sel."
Selena mengangguk. "Udah gih sana pulang!"
"Iya, makasih sekali lagi. Gue duluan!"
"Hati-hati!" Senyum Selena.
Dalam perjalanan Dewa tak hentinya memikirkan ekpresi Wulan, dia merasa istrinya akan senang karena bisa mengecap makanan kelas atas.
"Assalamu'alaikum!"
Wulan yang hendak menyantap makan siang menatap suami yang datang dengan senyuman lebar.
"Aku bawa sesuatu!"
Memperhatikan Dewa menyiapkan makanan laku meletakan tepat di depan istrinya.
"Wa aku udah masak loh kok kamu malah beli makan, kalau tahu gini aku engga masak aja tadi."
"Engga apa, ini masih bisa buat nanti malam. Sekarang coba makanan ini ya."
Masih dengan semangat yang sama Dewa duduk di samping Wulan lalu menggantungkan sendok berisi makanan itu di depan mulut istrinya.
"Buka mulutnya!"
Meski merasa aneh Wulan tetep menurut, mengunyah sembari mengangguk.
"Enak, pasti mahal ya? Jangan dibiasain Wa, entar kalau uangnya kurang engga enak sama orang tuamu."
"Tenang, ini rezeki kita karena dikasih sama bos aku."
Seenak apapun makanan dimulut Wulan mendengar itu seketika nafsunya menghilang karena teringat cerita Bella.
"Udah Wa!"
Mengerutkan kening karena istrinya menyingkirkan makanan itu.
"Kenapa? Tadi kamu senang sekali, habisin ya sayang."
"Anakku engga suka."
"Kok gitu, masa selera anak kita buruk banget."
__ADS_1
Wulan menatap sinis. "Jahat banget."
"Lagian ini makanan mahal." Dewa memasukkan ke dalam mulut dan menelannya. "Enak gini kok, habisin ya sayang."
"Aku bilang engga berarti engga Dewa, jangan maksa deh."
"Kamu baru makan dua suap, kasihan dede bayi engga dapet asupan."
"Anakku engga mau makan makanan dari perempuan yang lagi deket sama Papanya."
"Sel--" Ucapan Dewa terhenti karena menyadari sesuatu lalu menatap istrinya.
"Udah buang ajalah makanannya Wa aku jadi pengen muntah." Menutupi mulut dan hidung sembari pergi dari meja makan.
Menghembuskan nafas lalu memilih menghabiskan makanan dari Selena seorang diri.
Kelas akan dimulai dua puluh menit lagi, Dewa bergegas mendekati Wulan yang tengah menyiapkan perlengkapannya ke kampus.
"Mau berangkat Wa?" Senyum Wulan membuat Dewa takjub, karena baru beberapa menit lalu istrinya merajuk.
"Iya sayang, terimakasih ya." Dewa mengambil ranselnya.
Sebagai istri yang baik Wulan menyalami suaminya "Belajar yang bener."
"Siap istriku, kamu engga ngidam apapun?"
Wulan berfikir sejenak lalu menggeleng.
"Baiklah, aku duluan ya sampai nanti!"
"Hati-hati!"
Selena tersenyum melihat kedatangan Dewa lalu menyingkirkan tas yang tadinya mengisi kursi kosong di sebelah, ia memang selalu menyedikan tempat untuk lelaki itu agar selalu berada di sampingnya.
"Enak, sekali lagi makasih ya Sel."
Selena mengangguk. "Terus orang rumah gimana?"
Dewa diam, tidak mungkin mengatakan Wulan tidak menyukainya karena takut melukai perasaan Selena.
"Suka, suka sekali. Dia juga titip salam buat kamu."
Hati Selena kegirangan mendengar itu. "Wah aku senang. Syukur deh kalau suka."
Percakapan keduanya terpangkas karena dosen memasuki ruangan, sementara seluruh penghuni fokus pada pelajaran, Selena setengah melirik pada Dewa sembari tersenyum malu.
Kegelapan yang menguasai alam menghantarkan hampir keseluruhan populasinya mengarungi mimpi, seperti halnya Wulan sedangkan beberapa lainnya tetap terjaga dengan puluhan alasan beragam seperti Dewa, memaksa otak berfikir akan tugas yang harus dikumpulkan besok.
"Astaga kenapa kebiasaan gue engga bisa hilang, jadinya semua serba dadakan." gumamnya.
Getaran ponsel menarik perhatian, melihat orang yang memanggil membuat Dewa tanpa pikir panjang mengangkat lalu terpampanglah wajah Selena.
"Gimana Wa tugas lo udah kelar belum?"
"Tinggal separuh, gila untung aja gue buka chat lo tadi. Kalau engga bisa disemprot habis."
"Gue bantu ya?"
Dewa menggeleng. "Udah malem lo tidur aja."
"Lo aja belum tidur, kalau engga mau dibantu gue temanin ya?"
__ADS_1
Bukan ide yang bagus bagi Dewa namun tak enak harus secara terang-terangan menolak.
"Kalau ada lo gue engga fokus."
Selena terseyum, mengartikan Dewa yang gagal fokus bila berada di dekatnya.
"Ah Dewa lo bisa aja."
"Gue serius."
Sayup suara keduanya mengusik tidur Wulan, dengan mata terpejam meraba bagian belakang kasur lalu membalikkan badan dan tak menemukan Dewa ditempat.
"Dimana dia?"
Karena suara tadi Wulan kepikiran, takut ada maling dan suaminya ditawan, karenanya dia bergegas kelaur kamar.
Sementara suara kamar yang terbuka mengagetkan Dewa yang ada di ruang tamu, ia panik lalu memutus panggilan begitu saja.
"Dewa? Kamu engga apa?"
Menoleh ke segala sisi sebelum mengangkat bahu. "Kenapa? Kok bangun?"
Wulan menggaruk kepalanya. "Tadi kayak denger orang bicara, aku kira ada maling."
"Kamu kebawa mimpi kali." Dewa meyakinkan.
"Mungkin, terus kamu lagi ngapain tengah malem gini?"
Menunjukkan seluruh giginya. "Baru inget ada tugas."
Geram dengan sikap Dewa, perempuan itu memilih duduk di sampingnya.
"Jadi gini ya, pantes dari kelas satu kamu sering dihukum guru karena lupa PR."
"Itukan karena kamu juga Lan."
Mengerutkan kening tak Terima. "Apa hubungannya."
"Pelit banget, masa engga boleh nyontek."
"Entar kamunya jadi kebiasaan, keenakan yang ada."
"Ya engga apa, toh sama aja berbakti sama suami."
"Udah-udah, lebih baik selesaikan ini." Wulan mengambil alih laptop Wulan lalu meminta buku.
"Kamu mau ngerjain?"
Menggeser laptop kembali pada suaminya. "Cepet tulis yang aku omongin, nanti cepet selesai."
"Siap bu guru!"
Keduanya saling bahu membahu menyelesaikan tugas, meski meyebalkan karena tindak ketidaksiplinan suaminya, Wulan tetap merasa senang karena seakan ikut menjadi seorang mahasiswa.
__________
Hai semua!
Sebelumnya mau curcol nih, kemarin aku engga update karena merasa sedih. Mungkin ini lebay tapi bagi aku ini cukup menganggu, alasannya karena pembaca cerita ini dua hari lalu sampai limapuluh orang lebih tapi yang like hanya satu orang, gimana ya aku sedih aja. Maaf sebelumnya aku bicara seperti ini bukannya menyalahkan kalian, baiklah like itu hak kalian, mungkin karena cerita yang aku buat kurang menarik? jika memang seperti itu aku ingin sekali mendengar kritik saran kalian. Tapi aku makasih juga kok yang mau mampir di cerita receh ini. Mohon maaf banget cerita ini tidak memenuhi ekspetasi kalian.
Salam Kasih.
__ADS_1
Diriku❤