
"Makasih ya Wa, gue kepikiran kejadian tadi siang jadi engga bisa tidur."
Keasikan mereka dilihat jelas oleh Wulan yang berdiri di balik tembok, perasaannya begitu tercabik ingin melakukan sesuatu untuk menghentikannya Wulan merasa tak sanggup.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dengan mata berkaca. "Aku engga mencintai Dewa begitupun dia."
Detik jarum jam menghiasi ruang makan dimana pasangan muda tengah menikmati sarapan dengan Dewa yang fokus pada ponselnya.
Wulan menghembuskan nafas, merasa begitu sesak dengan kegiatan Dewa. Hendak menegur namun lidah terasa kelu untuk bercakap.
Menyadari ketidaknyamanan Wulan, Dewa lantas menaruh ponselnya sebelum mengusap punggung tangan perempuan itu.
"Kenapa diem? Engga selera makan?"
Netra hitam Wulan terpaku pada sosok Dewa, sekarang otaknya mulai berdiskusi menyusun kata yang sejak tadi terkurung dalam jiwa.
"Engga apa."
Entah ini memang sebuah kutukan atau sejenisnya, namun sebagaian perempuan kadang merasa susah mendeskripsikan perasaan hingga memilih memendam meski akhirnya menyulitkan.
"Benar?" tanya Dewa memastikan. "Engga ada yang salah? Kalau mau sesuatu bilang aja Lan."
Meneguk ludah lalu menggeleng. "Engga ada Wa, udah selesaiin sarapan kamu aja."
"Kamu juga Lan, kasihan dede bayi kalau engga makan."
Tanpa persetujuan Dewa langsung menyuapi Wulan, dengan sedikit paksaan hingga akhirnya perempuan itu menghabiskan makanannya.
Seperti sarapan yang penuh topeng, puluhan minggu telah dilalaui seperti tidak terjadi sesuatu akan tetapi sebenernya pondasi hubungan mereka tengah digerogoti perlahan dengan kebungkaman.
Pendingin ruangan minimarket kian membuat kepala Wulan berputar, tangan yang semula memegang gula dia kembalikan karena merasa begitu tak karuan.
"Astaga jangan sekarang!"
Tak jauh dari tempat perempuan itu seorang lelaki ikut panik melihat gestur perempuan hamil yang terlihat kehilangan keseimbangan.
"Hati-hati!"
Tanpa bisa melihat jelas Wulan berujar maaf dengan tubuh yang masih disanggah lelaki tak dikenal.
"Tolong bantu saya duduk, rasanya tidak karuan sekali."
Rasa kasian tercetak menyadari wajah Wulan begitu pucat, dengan penuh kehatian membawanya keluar untuk duduk di kursi depan teras toko.
"Minum dulu!"
Menarik air mineral yang ditawarkan Wulan merasa lebih baik meski tak dipungkiri pusing itu masih menyerap.
"Engga jauh darisini ada klinik, mau gue anter?"
__ADS_1
Wulan menatap lelaki yang masih berdiri itu sembari mengingat wajah yang tidak asing lalu menggeleng.
"Makasih ya udah bantu tapi engga perlu."
Satria mengangguk lalu tatapannya jatuh kepada perut besar Wulan, ia merasa iba melihat tubuh kurus yang harus menopang beban lain.
"Rumah lo dimana? Buat gue entar ya?"
"Makasih banget tapi engga perlu."
"Lo naik apa kesini? Motor? Apa lo hubungin suami biar aman."
Mengingat Dewa, tidak mungkin pula bagi Wulan menghubungi lelaki yang yang sedang bekerja.
"Aku bisa sendiri, perempuan tidak harus selamanya bergantung dengan lelaki."
Satria mendengar itu menjadi merasa tak enak dan kian melihat Wulan iba. "Maaf ya gue engga tahu kala---"
"Aduh!"
Perkataan lelaki itu terpotong dengan eluhan Wulan dan seketika berjongkok mensejajarkan kepala perempuan itu yang ke bawah merasakan perutnya nyeri.
"Eh seriusan ini lo kenapa?!" panik lelaki itu, ini pengalaman pertama berhadapan dengan perempuan hamil.
Wulan yang mendengar itu tertawa lucu menyebabkan keheranan diwajah Satria.
"Lagian kamu lucu, aku engga apa. Ini udah biasa kok bayinya nendang."
Mengangguk paham sembari bibir membentuk huruf vokal terakhir. "Ternyata mengandung engga sesederhana yang gue kira. Apa sakit banget?"
"Jangan tanya deh."
"Kenapa?"
"Kamu engga akan paham."
"Ya kalau engga dikasih tahu gimana bisa paham."
"Engga cukup, karena yang merasakan jauh lebih bisa mengerti. Menjelaskan dengan lelaki hanya membuang tenaga."
"Kenapa lo sensi banget sama gue, perasaan engga ada tuh gue lakuin kesalahan. Justru 'kan gue yang selamatin lo."
Wulan hanya diam tanpa menanggapi lagi, sedangkan Satria yang keras diabaikan memilih masuk ke dalam guna menyelesaikan keperluannya.
Tak jauh dari tempat Wulan, perempuan itu melihat lima orang gadis berseragam children nampak begitu semangat sembari bercengkrama keluar dari studio foto, dimata Wulan mereka begitu sempurna dengan tubuh indah hingga tanpa sadar melirik kakinya yang membengkak karena menopang berat badan.
"Karena hamil sekarang aku begitu menjijikan," gumamnya sedih.
"Hei! Gue mau pulang! Lo bener engga mau gue anterin?"
__ADS_1
Atensi Wulan teralihkan lalu menggeleng. "Makasih tawarannya aku bisa sendiri."
"Lo udah engga apakan? Gue merasa sedikit berat ninggalin lo."
Mendengar itu Wulan tergenang. "Kita orang asing, santai saja. Makasih untuk perhatiannya, meski sedang hamil besar aku masih kuat kok."
Menghembuskan nafas sebelum Satria mengeluarkan dua lembar uang merah. "Gue bukan milyader tapi tolong terima buat lo pesen ojek online."
Wulan mendorong alat tukar tersebut. "Engga perlu, makasih banget ya."
"Yakin? Lo engga bawa kendaraan dan rumah lo dimana?"
"Engga jauh cuma beberapa menit darisini."
"Yakin? Kalau gitu telepon orang rumah buat jemput. Sekarang matahari lagi panas banget, takutnya lo pingsan di jalan."
Tangan Wulan mengepal. "Aku itu hamil bukan sakit."
"Tap---"
Wulan berdiri menatap Satria yang jauh lebih tinggi. "Kita hanya orang asing, berhenti mencampuri kehidupanku. Aku permisi! Terimakasih bantuannya!"
Satria menatap kepergian Wulan dengan kesal, menganggap perempuan itu begitu menyebalkan.
"Sial! Gue baikan malah ngelunjak, pantesan cowoknya engga mau tanggungjawab."
Kemalangan hari ini menjadi cerita tersendiri bagi Wulan, sekarang dia membaringkan tubuh hendak menutup waktu dengan tenang untuk menyambut hari esok yang masih abu.
"Lan!"
Selimut yang baru ditarik sepanjang lutut tertahan kala Dewa tiba-tiba memasuki kamar.
"Udah main gamesnya Wa? Mau tidur?"
"Ada tugas, baru inget."
"Iya 'kan harus diinget pacarnya," gumam Wulan sebelum menetralkan wajah menatap suaminya. "Kebiasaan! Perlu aku bantu engga?"
"Ini mudah cuma butuh kopi, kok aku engga nemu Lan, bisa cariin sebentar?"
Ingatan terlempar kejadian tadi saat belanja. "Aku lupa bilang, tadi engga jadi belanja karena aku engga karuan. Besok ya Wa."
Dewa menjadi merasa kehilangan moodnya. "Gimana si Lan, 'kan kamu tahu aku gampang ngantuk kalau belajar. Kamu jadi istri apa engga bisa mengerti kebutuhan suami."
Perkataan tak mengenakan itu memancing emosi Wulan. "Ya harusnya kamu yang jadi suami lebih ngerti! Apa pern----"
Tidak ingin terjadi pertengkaran, Wulan mengalah dengan mengatur pernafasan.
"Maaf Wa, lain kali aku lebih teliti."
__ADS_1