
Ospek hari kedua telah usai, Dewa yang mendapat foto keadaan rumah yang ramai membuatnya tak sabar pulang.
"Wa!"
Panggilan itu menghentikan Dewa yang semula hendak memakai helm dan menatap Selena serta Vierra.
"Ada apa?"
"Nongkrong yuk!" Ajak Vierra. "Satria juga ikut, dia duluan karena harus jemput ceweknya. Nanti bukan cuma kita berempat kayak kemarin, banyak anak kedokteran yang gabung, mereka tampangnya oke banget, cocoklah buat gandengan ke kondangan."
"Lain kali ya, gue harus pulang sekarang."
Selena mengapit tangan Dewa. "Ayolah Wa, kalau udah masuk kuliah nanti lo harus bagi waktu sama kafe dan bakal jarang nongkrong, sekali ada waktu kenapa engga dimanfaatkan?"
"Nah bener banget, emang lo mau Selena diembat cowok lain?" Kompor Vierra.
Dewa melepaskan diri dari Selena. "Maaf banget tapi sekarang di rumah lagi ada acara, engga mungkin banget gue engga hadir."
Selena menatap Dewa takjub, dimatanya lelaki yang mementingkan keluarga seperti ini sangat langka.
"Oke lain kali ya Wa, hati-hati dijalan. Salam buat orang rumah."
"Iya Sel, makasih ya." Dewa memakai helm lalu menaiki motornya. "Duluan ya Ra! Sel!"
Selepas kepergian Dewa, Vierra menatap aneh Selena yang melambaikan tangan dengan senyum lebar.
"Gebetan lo pergi ****** malah seyum-senyum engga jelas."
Selena memutar bola matanya. "Lo engga bakal paham, astaga kayaknya gue dimabuk cinta."
"Gila lo!"
"Ra gue jadi menghayal, dia kan tipe love family. Nanti kalau gue udah jadi pacarnya bisa kali ya langsung dikenalin sama orang tuanya? Astagaa!" heboh Selena.
"Mungkin dilamar langsung."
"Ah nikah pun gue siap."
**Kesibukan** Wulan pagi ini begitu padat, dia terburu menyiapkan sarapan dan keperluan Dewa serta membantu mertuanya bersiap pulang.
"Dewa kamu belajar yang bener, meski istrimu lagi mengandung bukan berarti kamu bisa lebih prioritasin dia."
Ketimbang melawan dan berakhir perdebatan panjang Dewa hanya mengiyakan saja.
"Wulan kamu jaga kesehatan, meski lagi hamil kamu engga boleh manja. Harus ngerti kondisi Dewa."
"Iya Ma, hati-hati." Wulan mencium tangan mertuanya.
"Yasudah, kami pamit ya. Dewa jaga diri dan istrimu. Assalamu'alaikum!" Suara Basuki menutup pertemuan mereka.
"Hati-hati!" Lambai Dewa saat mobil orang tuanya meninggalkan halaman.
__ADS_1
"Sekarang giliran aku."
Dengan senyuman Dewa berjongkok di depan perut Wulan, awalnya perempuan itu merasa aneh dan juga geli namun semua berlalu diganti perasaan hangat.
"Sayang, Papa kuliah dulu. Jangan bikin mama repot ya."
"Dewa!" tawa Wulan saat perutnya dicium, ini pengalaman pertama dan rasanya begitu asing.
Suami Wulan kembali mensejajarkan tinggi keduanya lalu mencium kening perempuan manis itu.
"Aku pamit ya Lan, jangan kecapean. Aku kuliah jadi HP bisa bebas, kalau perlu apapun tolong telepon aku."
"Iya Wa, kamu hati-hati, belajar yang benar dan buat orang tuamu bangga."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam!"
Menjadi ibu rumah tangga pekerjaan memang hanya seperti itu saja setiap hari tetapi, kegiatan Wulan seolah tidak ada habisnya meskipun dia akui waktu luangnya begitu banyak dan menyebabkan perasaan sepi menghampiri.
Ospek yang menguras tenaga telah usai dua hari lalu, kini Dewa memiliki kegiatan yang cukup padat, membantu perkerjaan Wulan, kuliah serta kerja.
Sementara itu Wulan yang sudah menyelesaikan pekerjaan biasanya membuka beberapa buku milik Dewa, meski tidak kuliah wanita itu tetap belajar bahkan mungkin Wulan lebih menguasai materi ketimbang Dewa sendiri.
"Wulan!"
Suara dari depan pintu membuat tuan rumah mendekat untuk mempersilakan Bella masuk.
Wulan bergegas merapihkan kembali, merasa tak enak jika tamunya tidak nyaman karena berantakan.
"Engga, ini punya Mas Dewa. Karena aku engga ada pekerjaan lain ketimbang bengong jadi lebih baik belajar hal baru."
"Keren!" decak Bella yang kini sudah nyaman tiduran di sofa. "Tapi kenapa engga kuliah aja? Lagian kehamilan lo kelihatannya bukan yang rawan."
Mendengar itu Wulan hanya tersenyum. "Mau minum apa?"
"Ah lo ini, santai ajalah kalau gue mau bakal langsung ambil ketimbang lo bolak-balik."
"Oke, eh bukannya kamu kuliah pagi?" tanya Wulan heran, pasalnya kemarin sempat mengobrol rencana Bella.
"Iya tapi dosennya mager kali, ah kesel banget."
Wulan tertawa kecil. "Ternyata dosen yang kayak jalangkung bener ada ya?"
"Lah emang suami lo engga pernah cerita ketemu dosen begitu?"
"Engga, mungkin karena Dewa kerja paruh waktu juga jadi kalau engga ada kelas milih ke kafe."
"Baru tahu gue Dewa kerja, emang kerja dimana?"
"Megenta kafe."
__ADS_1
Bella membulatkan mulutnya. "Pantesan deket banget sama Selena, ternyata karyawannya. Astaga! Gue sempet salah paham ngira Dewa selingkuh."
Dari sekian banyaknya kalimat Bella yang menjadi fokus Wulan ialah nama perempuan lain yang dianggap dekat dengan suaminya.
"Jadi Mas Dewa sering sama orang itu?"
Mengangguk. "Beberapa kali gue lihat waktu mau pulang, setiap kali mau gue samperin tuh susah banget mungkin karena gedung kita jauhan juga."
"Ah begitu ya?" Air muka Wulan sudah tak mengenakan.
Suara Wulan yang lesu membuat Bella panik. "Jangan negatif thinking Lan, inget lagi hamil. Lagian wajar mereka deket setara partner kerja. Jangan jadi beban pikiran."
"Engga gitu, cuma kalau kamu sampai kepikiran Mas Dewa selingkuh sebelumnya berarti interaksi mereka bukan cuma sekedar orang ngobrol biasakan."
Bella skakmat dicerca seperti itu, salahnya juga asal berbicara jadi sekarang perasaan tak enak menghampiri, hormon ibu hamil begitu menakutkan.
"Selena dulu satu sekolah sama gue, dia bukan tipe perebut kok. Pasti sudah tahulah kalau Dewa udah punya lo sebagai istri."
"Semoga yang kamu katakan benar."
Bella menyuruh otak tumpulnya bekerja, dia harus menghibur Wulan agar moodnya kembali.
"Lan di rumah gue ada kucing, mau main engga?"
Karena tidak ada pekerjaan dan harus mengalihkan perhatian tentang perempuan asing itu Wulan mengiyakan ajakan Bella.
Di tempat perempuan yang Wulan curigai, dia dengan senyum penuh berdiri di samping Dewa yang tengah meracik kopi pesanan.
"Baik tunggu sebentar ya Kak." Selena berujar ramah pada pelanggan yang baru saja memesan.
"Wa sebelum masuk kelas, makan siang bareng?" tawar Selena.
"Engga dulu, gue harus ngirit."
"Gue traktir!" tawar Selena cepat, tidak ingin menyiakan kesempatan.
"Enggalah, engga enak kalau keterusan makan diluar. Bawaannya gimana gitu karena kepikiran yang di rumah cuma makan apa adanya."
Senyum Selena mengembang, dia merasa takjub karena jarang sekali anak lelaki jaman sekarang begitu memperhatikan keluarganya sampai seteliti itu.
"Lo perhatian banget, emang orang rumah ada berapa?"
"Dua orang, makanya gue merasa engga nyaman kalau makan diluar. Rasanya engga adil."
Selena merasa perhatian, paham sekarang kenapa Dewa begitu memperhatikan keluarganya karena yang tinggal bersama hanyalah ibunya.
"Oke."
__________________
Hai semua!
__ADS_1
Makasih yang udah mampir, jangan lupa jadikan cerita ini favorit ya dan tekan jempol dibawah yang engga menghabiskan waktu lebih dari dua detik kok🤗