Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
22. Beban Negara


__ADS_3

"Maaf Wa, lain kali aku lebih teliti."


Sudah terlanjur merasa kesal Dewa tak menghiraukan dan pergi begitu saja meninggalkan Wulan yang perlahan menurunkan cairan mata.


Berbeda dengan istri, sang suami justru menelepon Selena karena merasa hanya perempuan itu yang bisa memperbaiki perasaan.


"Sel kerjain tugas bareng yuk!"


Selena terlampau kaget hingga diam beberapa detik memastikan yang barusan menelepon adalah Dewa.


"Sekarang? Ini udah jam sebelas. Yakin? Perasaan waktu itu lo bilang engga bisa pulang lebih dari jam itu."


"Santai, gue butuh lo."


Senyum Selena kian muncul, dia merasa Dewa juga merasakan perasaan yang sama. Tak sia-sia dia jatuh cinta.


"Ke kafe gue aja gimana?"


"Ayo ajalah."


"Oke! Gue kesana sekarang!"


Entah kebaikan apa yang telah dilakukan Selena tetapi perempuan itu merasa begitu beruntung hingga tak kuasa menahan teriakan bahagia.


Jarak diantara kedua insan itu lebih jauh Selena maka, Dewa yang lebih dulu sampai memilih duduk di depan kafe sembari merapatkan jaket karena dinginnya malam begitu menusuk.


"Hai! Nunggu lama ya!"


Dengan setelah sweeter serta celana jins Selena menghampiri Dewa dengan senyum, keduanya kemudian bergantian memasuki kafe sebelum duduk di sofa ruang kerja Selena.


"Kita kayaknya buat kopi atau apa untuk menghangatkan tubuh. Dingin sekali." Selena mengusulkan.


"Boleh, gue juga kedinginan."


Selena menatap Dewa degan senyum lebar. "Nanti gue hangatkan."


Dewa membola dan menatap Selana penuh tanda tanya yang menyebabkan tawa kecil gadis keturunan Thailand itu.


"Otak lo kemana-mana ya karena berdua sama gue ditempat sepi?" Selena menggeleng. "Maksdunya biar gue bikinin minuman hangat, lo tunggu disini oke?"


Dengan canggung Dewa menganggukan kepalanya. "Engga butuh bantuan? Disini lo yang bosnya perasaan."


Mengangkat telapak tangan. "Santai, jam kerja udah selesai. Sekarang kita hanya teman dan anggap aja lo ke rumah gue tentu saja harus disajikan sesuatu."

__ADS_1


"Baiklah Terima kasih, kalau gitu biar gue siapin bahan tugas kita biar nanti langsung ngerjain."


"Oke tunggu ya!"


Sebelum Selena melewati pintu dia berbalik badan memperhatikan Dewa. "Hey! Disini bertamu sebagai teman atau masa depan?"


Dewa balik menatap Selena, tidak mungkin seorang lelaki tak paham dengan kode keras itu tetapi Dewa tak berdaya selain melempar senyum menanggapi.


Tak berselang lama kedua insan itu telah hanyut dalam lautan keseriusan, tak ada percakapan penuh kode apapun diantaranya hingga Selena yang sudah menyelesaikan tugas melirik jam dinding.


"Engga sadar Wa kita udah belajar lama, sekarang udah jam tiga pagi aja. Gila!"


"Gila udah dini hari, kita pulang sekarang?" ajak Dewa panik.


Selena berfikir sejenak lalu menggeleng. "Lo aja, udah jam segini lebih baik engga usah pulang sekalian, rumah gue jauh Wa jadi cuma capek di jalan nanti."


Lelaki sembilan belas tahun itu menatap Selana penuh sesal. "Maaf ya karena ide gue lo jadi engga istirahat."


"Santai, tugasnya memang semenyebalkan itu sampai kita lupa waktu. Lagian seru kok bisa menghabiskan waktu sama lo."


Ini kali pertama seorang gadis begitu menghargainya, Dewa memang bukan lelaki polos yang tidak pernah menjalin kasih tetapi, sejauh ini hanya Selena yang memberi banyak warna dalam hubungan lawan jenis.


"Makasih ya, yaudah lo tidur aja disini Sel."


"Gue engga pulang, disini aja jagain lo."


Melongo mentap Dewa tak percaya. "Lo serius?!"


"Iya, santai gue di luar kok dan engga akan macem-macem kalau lo tidur."


Hati Selana menghangat. "Lo manis banget, makasih ya."


Entah setan dari sebelah mana yang merasuki Dewa hingga tangannya dengan enteng mengusap rambut Selena dan tersenyum hangat.


"Tidur ya, selamat beristirahat."


Selena mematung, berfikir jika seandainya waktu bisa berhenti selamanya untuk menikmati sentuhan penuh kasih milik Dewa.


Disaat Dewa mulai memasuki alam mimpi di kursi kafe, Wulan terjaga sembari duduk di atas sofa ruang tamu dengan tangis serta kepala menunduk.


"Kamu ini sebagai istri engga becus! Bagaimana bisa suamimu engga di rumah kamu bisa tidur tenang di dalam."


"Maaf Ma aku engga tahu Mas Dewa pergi."

__ADS_1


Basuki memijat pelipisnya. "Kamu ini bagaimana, apa ini sering terjadi Lan?"


"Iyalah pasti! Mama nyesel nikahin Dewa sama kamu!" Belum sempat membalas, Desi lebih dulu berucap.


"Lan ini semua salahmu, kamu ini dinikahi Dewa untuk mengurusnya bukan malah dibiarkan seperti ini." Basuki mencoba mengontrol emosi. "Ini di kota, kalau Dewa kenapa- kenapa diluar sana bagaimana?"


"Aku minta maaf, aku sungguh teledor. Tapi ini sungguh pertama kali Mas Dewa pergi sampai pagi."


Desi yang sudah menangis dari tadi mendekati suaminya. "Pak anak kita."


Basuki menatap Wulan. "Coba kamu hubungi teman-temannya, anak itu kenapaa harus mematikan ponsel segala."


Wulan tersadar, dia sama sekali tidak mengenal teman Dewa bagaimana bisa menghubungi.


"Lan cepetan! Kamu engga khawatir suamimu kenapa-kenapa?!"


Bentakan dari Desi mengagetkan Wulan, dia memandang ponselnya dengan bimbing. Ingin mengatakan jika dirinya tak mengenal teman Dewa pasti pasangan itu akan lebih memarahinya.


Untungnya ia melihat riwayat pesan dengan Bella, tanpa berfikir panjang mendial nomer gadis itu meski dalam hati memohon ampun karena membangunkan pada malam hari.


"Bel aku bisa minta tolong?"


Suara memelas Wulan membuat mata Bela terbuka lebar lalu tangan tanpa sadar menggeser air liur sepanjang pipi.


"Kenapa Lan?! Lo lahiran?"


Wulan melirik mertuanya yang tengah saling menguatkan, mendapat celah membuat Wulan sedikit merasa lega entah pada siapa untuknya bisa percaya selain Bella.


"Tolong susulin mas Dewa di kafe Magenta. Dia lembur,"


Semarah apapun Wulan tak mungkin membeberkan terus terang jika lelaki itu meninggalkannya sendiri, mengingat tabiat Bella yang nekat. Bukannya membantu mungkin Bella akan memberi bogem mentah pada suami Wulan.


"Lah ini tengah malam Lan, gila ya suami lo!"


Wulan menutup mata. "Please bantu aku Bell, ponsel mas Dewa mati dan sekarang mertuaku disini, tolong Bell aku engga tahu lagi harus minta tolong siapa kalau bukan kamu."


Nada yang penuh permohonan membuat Bella sukar menolak, lagipula dia tidak mungkin setega itu pada Wulan mengingat gadis baik itu sudah sering terluka selama ini oleh omongan mertuanya.


"Lo jaga diri ya, kalau mertua lo macam-macem mutilasi aja. Gue susulin beban negara itu!"


________


Hai makasih yang sudah mampir, dan engga bisa aku sebutin satu-satu yaoi melihat viwers yang naik drastis dalam sehari beneran membuat mood aku yang malas jadi semangat, kalian mood banget 😍

__ADS_1


__ADS_2