Dari TK Sampai KUA

Dari TK Sampai KUA
8. Setia itu Mahal


__ADS_3

"Satu lagi, jangan ngomong aku-kamu ya, nanti orang-orang pada baper.


"Kenapa begitu?" bingungnya.


"Ya aneh aja, kalau ngomong aku-kamu itu berarti seseorang yang spesial. Jadi normal saja pakai lo-gue."


"Baiklah a--- gue bakal berusaha. Makasih untuk kesempatan yang diberikan."


"Santai, gue suka kepribadian lo dalam sekali lihat. Selamat bergabung ya Dewa!"


"Selena kalau gue gabung sekarang bagaimana? Sebenernya kalau engga boleh juga engga apa, cuma karena aku sekarang luang jadi lebih baik memanfaatkan waktu, supaya besok juga engga terlalu kaget."


"Gue suka gaya lo!" tembak Selena menggunkan kedua jarinya. "Ayo!"


Keduannya keluar dari ruangan, Selena dengan wajah ceria menarik tangan Dewa sedangkan lelaki itu merasa kaget dengan perlakuan Selena namun tidak enak menegur.


"Semuanya! Kenalin ini Dewa patner kerja baru kita. Semoga ketampanannya bisa bikin kafe kita makin rame ya."


Orang yang tadinya sibuk menghentikan aksinya untuk melihat Dewa laku tersenyum.


"Selena curang lo! Mandang fisik!" celetuk salah sekarang lelaki yang tengah membuat kopi. "Eh bro hati-hati, bos cantik kita ular!"


"Udah abaikan aja Udin, dia emang sirik." Kata Selena yang membuat tawa semua orang kecuali Dewa tentunya.


"Hai Dewa! Selamat bergabung ya! Jangan kaget, kita memang suka bercanda." Perempuan yang memiliki potongan rambut sebahu mengulurkan tangannya. "Nama gue Chika!"


"Dewa!" balasnya menerima jabat tangan.


"Eh bro kenalin gue Alvin! Selamat bergabung ya semoga kita jadi partner yang asik."


Ucapan syukur menggaung dibatin Dewa, ia merasa beruntung dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka pada kesempatan kerja pertamanya.


Sesuai kesepakatan, berjam-jam lamanya Dewa diajari dari konsep dasar hingga beberapa tips oleh Selena, pembelajaran itu tidak semenakutkan yang ada dipikiran mengingat keramahan pemilik kafe.


Segala yang diajarkan telah dipahami baik oleh Dewa membuat Selena terkesan, dia juga merasa senang karena lelaki itu tidak sekaku kelihatannya. Gadis keturunan Aceh dan Thailand itu merasa cocok dengan Dewa.


"Terimakasih untuk kerjasamanya hari ini teman-teman!" kata Selena begitu kafe telah kosong dan dibersihkan.


Seteleh membalas kalimat Selena keseluruhan karyawan keluar menuju kendaraannya.


Ketika hendak pergi, Dewa melihat Selena yang tetep diam di depan pintu kafe sebagai memainkan ponsel.


Tin!


"Sel! Udah malem engga langsung pulang?"


"Mobil gue lagi di bengkel, lupa kabarin supir di rumah tadi jadi sekarang baru mau nunggu dijemput."

__ADS_1


"Ikut gue aja, sekarang udah malem engga baik perempuan sendirian apalagi ini sepi."


Selena terkesima, seumur hidup dia tidak pernah diperhatikan seperti itu bahkan oleh kedua orang tuanya sendiri.


"Santai aja, gue tahu lo capek. Rumah gue lumayan jauh juga."


"Engga apa ketimbang gue engga tenang karena kepikiran lo sendirian nunggu jemputan."


Perempuan mana yang tidak tersentuh dikatakan begitu, dengan senyum malu berjalan mendekati Dewa.


"Makasih ya Dewa."


"Santai saja, lo orang baik jadi engga ada alasan buat gue jahat. Sekarang naik nanti keburu tengah malem."


"Iya."


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka kecuali petunjuk arah yang Selena kerahkan, Dewa yang ingin segera sampai karena takut Wulan cemas berbanding terbalik dengan Selena yang merasa berbunga karena merasa diratukan oleh lelaki di depannya.


"Makasih ya Dewa. Kamu hati-hati."


"Iya, aku duluan ya Selena! Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Di tempat yang berbeda dengan waktu yang sama, Wulan merasa tidak tenang di kursi ruang tamu menunggu Dewa, pikiran buruk tentang begal menghantui, mengingat keduanya tinggal di kota yang rawan kejahatan.


"Assalamu'alaikum!"


"Aku mau air Lan."


Menghembuskan nafas lalu melaksanakan perintah suaminya. "Kamu habis darimana Wa? Kenapa baru pulang?"


"Aku diterima kerja, karena aku merasa engga ada kegiatan lain jadi milih mulai langsung. Maaf engga sempet ngabarin soalnya."


"Aku khawatir."


Dewa tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. "Kemari! Peluk suamimu!"


"Engga! Kamu bau, mandi saja Wa nanti tidur. Aku juga sudah ngantuk."


Berdecak lalu menurunkan tangannya. "Kamu ini engga romantis, keringat ini untukmu loh."


"Mandi Wa baru tidur, aku engga suka bau keringat."


"Iya iya kanjeng ratu."


**Tak** ada ubahnya kegiatan Wulan, meski jenuh ia tetep berdiri dengan tangan cekatan menyiapkan sarapan karena ini hari pertama suaminya bekerja.

__ADS_1


"Masak apa Lan? Wangi banget."


"Cuma tempe orek, kamu duduk aja bentar lagi selesai." Ujar Wulan yang melirik suaminya berdiri di belakang.


"Bener? Engga mau dibantu?"


"Kayak pernah aja, engga usah sok cari perhatian. Aku lagi engga mood."


Dewa berdecak lalu duduk di kursi makan yang terhubung dengan dapur.


"Lan nanti aku pulang jam empat sore."


"Iya Wa."


"Kamu hati-hati, kalau ada apa-apa hubungi aku ya."


Wulan berjalan menyiapkan makanan di hadapan Dewa. "Kemarin aku telepon kamu engga diangkat tuh."


"Itu beda, kan kemarin aku lagi belajar jadi HP aku matikan. Intinya kalau ada apapun terus terang biar kita engga sering salah paham, paham oke?"


"Iya, udah cepet habisin sarapannya terus berangkat."


"Iya Lan makasih."


Selesai sarapan Dewa bergegas menuju kafe milik Selena, hari pertama diawali dengan senyum penuh.


"Selamat pagi semua!" sapanya yang kemudian meletakkan seluruh bawaan ke dalam loker.


"Eh Wa lo maba?" tanya Kevin yang kini tengah menyiapkan makan di dapur.


Karena tidak ingin mengecewakan kepercayaan Selena, Dewa membuat pesanan sebaik mungkin.


"Iya."


"Kita disini partner kerja. Kalau di kampus jangan kaget ya," canda Kevin.


Satu alis Dewa terangkat. "Ketua BEM ta?"


Tawa lelaki berpawakan tinggi kurus itu pecah. "Bener, tapi santai ajalah. Gue engga memegang teguh yang namanya senioritas, nanti selama ospek gue engga bakal tiba-tiba hilang ingatan."


"Kalau begitu semoga gue ketemu lo terus deh."


"Yoi! Tenang nanti gue kenalin kenalan gue, banyak cewek cantik juga looo." bisiknya diempat kata akhir.


Dewa hanya menanggapi dengan tawa, baginya setia itu indah dan tidak akan mengkhianati pernikahannya meski hasil perjodohan sekalipun.


_________

__ADS_1


Setia itu mahal makanya yang pernah bilang begini bisa selingkuh:v


Yuk share cerita ini ke teman, sahabat, pacar, suami, istri, ibu, ibu tiri, ibu mertua, ayah, ayah tiri, ayah mertua, adik, adik ipar, adik tiri, kakak, kakak ipar, kakak tiri, bibi, paman, sepupu, cucu, keponakan, selingkuhan atau siapapun orang terdekat kalian. Aku ucapin makasih yang uda mampir dan banyak cinta dariku yang like, support dan share cerita ini sebanyak-banyaknya. sarangek ❤


__ADS_2