
Soleha masuk ke dalam kamar setelah kepergian David. Dia melihat buku yang semalam dibaca David usai percintaan mereka yang cukup panas di kamar itu.
Soleha mengerutkan keningnya karena dia melihat sesuatu yang menarik matanya.
Ada lembaran kertas yang berisi tulisan tangan David dengan sebuah kartu debit dan pecahan uang.
"Ini ATM milik ku, didalamnya ada saldo sekitar kurang dari satu juta. No pin nya tanggal lahir ku. kamu bisa menggunakan itu untuk membeli semua apa yang kamu butuhkan untuk dirimu sendiri. Maaf kalau hanya sedikit."
Soleha beralih pada uang pecahan seratus ribu rupiah. Ada beberapa lembar, setelah dia hitung ada dua puluh lembar. Namun terbagi menjadi dua bagian, dua belas lembar untuk dirinya dan delapan lembar untuk Uminya.
"Dan uang ini pergunakan dengan baik untuk keperluan dapur kita. Beli makan atau pun yang bisa kamu makan. Jangan sampai kamu kekurangan. Dan mohon maaf jika hanya sedikit yang mampu aku berikan pada mu."
"Alhamdulilah." Soleha mengusap wajahnya usai mengucapkan hamdalah.
"Kamu suami yang sangat bertanggung jawab, maaf jika aku sudah berprasangka buruk pada mu." Karena dari semalam David tidak ada pesan atau pun obrolan mengenai uang nafkah untuk makan dirinya selama ditinggal oleh David. Namun rupanya David sudah memperhitungkan semuanya dengan baik. Bahkan bisa memberi juga untuk Uminya.
David sudah sampai di rumahnya satu jam yang lalu. Kini dia sedang berbicara pada temannya melalui sambungan telepon mengenai balapannya nanti malam.
Dunia malam yang ingin dia coba tinggalkan karena status barunya. Meski dia jauh dari wanita dan minuman, namun dunia malam mengenai balapan liar tidak memberikan manfaat yang baik. Semuanya hanya tantang taruhan dengan mempertaruhkan nyawa. Seolah nyawa tidak ada harganya dihadapan saham senilai 5 sampai 20 persen.
Malam ini merupakan balapan yang terakhir yang akan diikutinya . Ingin David dedikasikan untuk kesenangan yang sudah menemani selama dia menjadi anak yang kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Dia juga sudah berjanji pada sang Nenek untuk meninggalkan geng motor itu dan menyerahkan jabatan ketua pada mereka yang masih aktif mengikuti geng motor tersebut.
__ADS_1
Malam pun tiba, usai berbincang sejenak dengan sang Nenek tersayang. Akhirnya David berpamitan pada Nenek Widya jika dia ada urusan di luar. Dan mungkin besok pagi baru pulang.
Tentu saja David masih berbohong tentang kepergiannya ke kawasan balap yang sudah disiapkan oleh teman satu geng motornya. Dia juga sudah memberitahukan pada Nenek Widya jika dia tidak membawa Soleha ke sini karena urusannya yang memakan waktu dan tenaga. Maka dia sengaja meninggalkan Soleha bersama Umi dan Abi nya. Supaya bisa mengajar ngaji anak-anak di sekitaran rumahnya.
Sampai di kawasan balapan liar khusus moge yang sudah dikawal ketat beberapa keamanan dari geng motor mereka. David segera mengganti pakaian rumahan menjadi pakaian kebesaran di jalanan saat mengendari motor besar.
Semua itu tidak lepas dari bantuan sang asisten yang maha saja setia padanya.
"David..." Panggil Rudi yang merupakan teman dekat David datang sambil melambaikan tangan.
"Mereka sudah menunggu di lintasan. Kau harus sangat berhati-hati. Karena ini bukan tentang hadiahnya, mereka mengincar posisi dan semua anggota geng kita.
"Balapan kali ini, kau harus melalui tujuh putaran sebelum akhirnya finis pada putaran kedelapan. Kau pasti sangat tahu resiko besar sedang menanti. Kau gunakan insting dan kemampuan untuk menaklukan jalanan."
"Iya, terima kasih kau sudah mengingatkan."
Kepulan asap membumbung tinggi dan suara bising yang berasal dari knalpot motor mereka saling bersahutan dengan begitu nyaring.
David sudah mempersiapkan diri dengan baik, setidaknya dia sudah bercinta dulu dengan sang istri sehingga memberinya semangat untuk bisa memenangkan balapan yang terakhir.
Semoga saja bukan dirinya yang harus berakhir di arena balapan liar tersebut, pikir David sambil membayangkan wajah teduh sang istri.
Balapan pun sudah di mulai, bertepatan dengan waktu yang saat ini sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ada beberapa yang ikut meramaikan arena balapan malam itu. David tidak mempedulikan itu semua, yang dia lakukan hanya tetap fokus pada jalanan yang baru dilewatinya.
__ADS_1
Kini sampailah pada putaran kelima. Posisi David selalu dibayang-bayangi oleh kedua pembalap yang sejak awal start selalu ada dibelakang David.
David yang sedari awal sudah menyadarinya, tidak ingin terprovokasi dengan adanya kedua pembalap tersebut. Hingga akhirnya dia tetap membawa aman motor gedenya.
Namun kini kedua motor yang ada dibelakangnya membuat ulah dengan mencoba menabrakkan motor mereka secara bersamaan dari samping kanan dan kiri kearah David. Namun David bisa menghindar dengan tancap gas di waktu yang tepat sesuai perhitungannya. Sehingga kedua motor tersebut oleng ke sisi kiri.
David tidak boleh membuang kesempatan untuk tiga putaran terakhirnya. Dimana di depan motornya ada tiga pembalap yang melaju dengan kecepatan yang hampir sama. Sehingga David sedikit mengalami kesulitan untuk mengambil celah diantar mereka.
Soleha yang sudah terbiasa bangun di waktu seperempat malam pun, tidak lupa dia mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat tahajud.
Usai mengambil wudhu dia membentangkan sajadahnya di dekat lemari. Dipakainya mukena yang sudah disiapkan lalu dia mulai dengan shalatnya.
Soleha begitu khusu dan tertib saat melaksanakan setiap bacaan dan gerakan shalatnya.
Hingga selesai pada rakaat terakhir, Soleha mengucap salam ke kanan dan kiri. Lalu mengusap wajahnya sambil membaca istighfar. Lalu menengadahkan kedua tangan untuk berdoa pada sang pencipta.
Sedangkan di tempat lain, David sedang menyelesaikan putaran terakhir dari balapannya malam ini. Setelah sebelumnya dia harus berjuang melewati tiga orang yang ada didepannya yang ternyata memiliki niat tidak baik terhadap dirinya.
Setelah berjibaku dengan ketiga orang itu, akhirnya David bisa lolos dengan mengendarai kembali motor nya dengan susah payah. Setelah dua kali terjatuh dari motor karena hadangan dan perlawanan yang cukup sengit dari mereka bertiga.
Akhirnya David bisa lolos dari maut dan memenangkan balapan tersebut setelah bertaruh nyawa.
Sorak sorai dan riuh tepuk tangan mengudara ketika motor David sudah sampai di harus finis dengan selamat.
__ADS_1
"Kau memang luar biasa, David. Bisa bertahan dari serangan mereka." Ucap Rudi yang melihat dari mereka banyak yang terluka. Dan semuanya mengalami luka yang cukup berat.
"Jack kau bawa David langsung ke rumah sakit, biar aku yang akan urus semua masalah yang ada di sini. Kau pastikan keadaan David aman dan baik-baik." Ucap Rudi sambil menyerahkan satu koper uang tunai sebagai hadiah selain saham 20 persen dari pihak yang kalah.