
David dan Soleha sudah sampai di depan pintu rumah kedua orang tua David.
Ketika Soleha hendak mengetuk pintu dan mengucapkan salam, terdengar teriakan Mommy Bella yang sangat nyaring dan suara pecahan sesuatu yang di banting.
David menggenggam tangan Soleha lalu menariknya untuk segera pergi dari sana.
Tanpa banyak bertanya, Soleha mengikuti langkah kaki sang suami yang ada didepannya.
David mengajak Soleha untuk menaiki taksi online yang dipesannya. Walau pun belum tahu tujuan mereka akan kemana.
Setelah berkeliling hampir satu jam, akhirnya David meminta pada supir untuk mengantarkan mereka ke hotel terdekat.
David sudah mendapatkan kamar untuk mereka bermalam malam ini. Mereka menaiki lift setelah kunci kamar ada di tangan David.
Soleha mendorong pintu setelah kuncinya terbuka. Dia langsung menurunkan tas dari pundaknya lalu ditaruhnya di dekat kursi.
"Aku bantu mandi yuk!. Supaya tubuh kamu terasa enak." Soleha berdiri di depan David yang sedang melamun memikirkan sesuatu.
Soleha menyentuh pundak David dengan lembut karena David tidak merespon ucapannya.
"Kita mandi yuk!." Ajak Soleha lagi ketika David menatapnya. David hanya mengangguk.
Soleha mendorong pelan tubuh David sampai kamar mandi. Dia membantu David melepaskan semua pakaiannya sebab David masih diam seribu bahasa dan tidak ada pergerakan dari David.
Soleha mulai menggosok punggung David hingga semua badan, lalu dia meminta David untuk menunduk supaya dirinya bisa mencuci rambut David.
Guyuran air hangat yang berasal dari shower berhasil membuyarkan lamunannya. Dia menatap Soleha yang sedang menggosok tubuh bagian depan dengan tangan lembutnya.
David menghentikan pergerakan Soleha dari atas tubuhnya. Dia melepas hijab dan semua pakaian yang melekat pada tubuh Soleha.
"Aku bantu juga kamu mandi. Kamu juga belum ada mandi setelah sampai sini 'kan?. Kamu langsung saja mengurus ku." David mengucurkan sabuk cair pada bagian dada Soleha yang dia menggosoknya dengan spons hingga merata.
David mengabaikan hasrat dan gairahnya untuk menyentuh Soleha. Karena bagaimana pun dia pria yang sangat normal, terlebih dia sudah merasakan betapa nikmatnya penyatuan. Hingga dari awal sampai sekarang mereka berdua sama-sama polos miliknya sudah sangat keras dan menegang serta minta untuk segera dituntaskan.
Selesai dengan ritual mandi. Mereka beralih mengeringkan tubuh mereka dengan handuk sampai benar-benar kering tubuh mereka dari air. Menyisakan hanya rambut saja yang agak masih basah.
"Jangan dipakai handuknya?." David menahan tangan Soleha yang hendak menutup tubuhnya dengan handuk.
__ADS_1
Soleha meletakkan handuk itu lagi di tempatnya. Lalu tanpa aba-aba David menggendongnya dalam keadaan polos. Tangan Soleha membantu David untuk membuka pintu kamar mandi lalu meraka keluar dari sana.
David merebahkan Soleha di atas tempat tidur yang disusul oleh dirinya.
"Kita rebahan sebentar sebelum waktu ashar." Soleha hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, kemudian David menarik selimut menutupi tubuh mereka supaya tidak terlalu merasa dingin karena AC.
Kedua mata mereka tidak ada yang terpejam, pikiran mereka pun tidak berada di sana. Apalagi David, entah kemana saja pikirannya karena di saat yang bersama ada hal besar yang sedang menimpanya.
Soleha hanya menyimpan apa yang diketahuinya hari ini tanpa ingin bertanya. Dia ingin supaya David yang bercerita untuk membaginya.
Setiap orang pasti memiliki masalah rumah tangganya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang ribut besar hari ini.
"Semoga saja semuanya cepat kembali membaik." Batinnya.
Telapak tangan Soleha menyentuh dada bidang David sambil mendongakkan wajah tampan suaminya.
"Kamu sudah lebih baik?."
"Hem, iya. Aku sudah lebih baik." David menundukkan kepalanya lalu mengecup kening Soleha cukup lama.
"Alhamdulillah, nanti setelah shalat ashar kamu makan dulu ya supaya bisa minum obat." David mengangguk sambil mengelus lembut pipi Soleha.
"Apa sekarang sudah waktunya shalat?." David menunjukkan jam yang ada pada layar ponselnya.
"Sepuluh menit lagi." Jawab Soleha menggoda David.
"Kamu bisa memperpanjang izin kuliah?."
"Aku sudah memperpanjang cutinya untuk satu Minggu ke depan."
"Terima kasih." Soleha mengangguk sambil menerima sebuah kecupan singkat di bibirnya. David sudah tidak tahan untuk tidak menyentuh istrinya. Hingga penyatuan pun berhasil.
Selang beberapa menit, David memberikan jeda pada mereka untuk melaksanakan shalat ashar dengan mandi kembali.
Usai melaksanakan shalat ashar, David mengajak Soleha untuk melanjutkan lagi ibadah yang lainya sampai Maghrib menjelang, sampai David lupa untuk meminum obatnya.
Sedangkan keributan kedua orang tua David baru saja selesai, itu juga karena kedatangan nenek Widya yang baru pulang menjenguk cucunya yang lain.
__ADS_1
"Kalian kalau selalu saja ribut seperti ini. Lebih baik kalian berpisah. Apa kalian tidak lelah dengan rumah tangga yang seperti ini?." Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sudah tua, biar kan aku hidup dengan tenang di sisa umur ku." Lanjutnya lagi sampai air mata itu sudah tidak bisa dibendungnya lagi.
Nenek Widya sudah tidak bisa membiarkan anak dan menantunya dalam hidup yang saling menyakiti.
"Maaf kan aku, Ma. Aku tidak bisa memberikan kedamaian di rumah ini. Jadi biar aku saja yang pergi di sini." Daddy Fahmi sangat menyadari jika dirinya sebagai kepala rumah tangga sudah sangat gagal.
Sebenarnya Daddy Fahmi juga sudah ingin mengakhiri pertikaian ini, tapi tidak untuk menceraikan sang istri. Karena memang dia sangat mencintainya.
Namun terkadang ada banyak batu kerikil yang mereka sandung. Bukannya mengobati luka itu malah mereka secara bersama-sama membiarkan luka itu tetap ada yang jadinya bisa semakin melebar kemana-mana.
"Aku juga minta maaf, Ma. Kami tidak mampu untuk mengatasi masalah-masalah yang datang pada kami. Hingga kami terus bertengkar dan saling menyakiti."
Nenek Widya tidak melarang atau pun mengiyakan keputusan yang sudah diambil Daddy Fahmi untuk meninggalkan rumah.
Nenek Widya masuk ke kamar, meninggalkan Daddy Fahmi dan Mommy Bella yang sama-sama terdiam.
Keduanya masih saling terdiam untuk beberapa lama, hingga tiba makan malam. Tapi mereka malah mengurung diri di dalam kamar masing-masing. Tidak ada yang duduk di ruang makan untuk menyantap makanan.
Bibi Elis menyiapkan nampan yang diisi oleh makanan yang biasa dimakan oleh Nenek Widya, lengkap dengan buah, air putih dan juga susu.
Tok Tok Tok
Nenek Widya membuka pintu dan melihat Bibi Elis yang berdiri di depan pintu dengan membawa nampan berisi makan malam.
"Bibi Elis ambil makanan juga. Kita makan bersama di kamar saya. Ajak Mang Maman juga."
"Tapi Nyonya..."
"Kalau tidak mau, saya juga tidak akan makan."
"Iya Nyonya. Saya akan ambil nasi dan memanggil Mang Maman dulu." Bibi Elis segera meletakkan nampannya lalu dia keluar lagi untuk mengambil makan malam untuk dirinya dan Mang Maman.
Soleha dan David baru saja menghabiskan makam mereka. Lalu mereka duduk santai di depan TV.
Soleha menyerahkan satu piring berisi potongan buah melon dan semangka, "Terima kasih." Balas David sambil menepuk kedua pahanya.
__ADS_1
"Duduk lah di sini!." Pintanya pada Soleha.
Dengan patuh Soleha duduk pangkuan David dalam posisi saling berhadapan.