David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)

David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)
Bab 7 David dan Soleha


__ADS_3

Hanya dengan satu kali tarikan nafas David mengucapkan ijab kabul atas nama Soleha Fatimah binti Firdaus.


David sudah menjadi seorang suami dari seorang wanita yang memiliki nama panggilan Soleha.


"Alhamdulillah..." Ucap mereka yang hadir di sana sambil mengusap wajah.


Ada berbagi macam perasaan yang kini menyelimuti hati Nenek Widya. Bahagia, senang, bersyukur dan haru sudah pasti, namun ada juga perasan sedih.


Nenek Widya memeluk Umi Uswatun dengan berurai air mata. "Terima kasih sudah mau menerima David di keluarga kalian."


"Tidak perlu berterima kasih, mungkin ini sudah kehendak-Nya."


Kedua wanita itu menangis terharu dan bahagia serta rasa syukur. Sampai suara Abi Firdaus terdengar di teling mereka.


"Bawa Soleha kemari?." Pinta Abi Firdaus pada Umi Uswatun. Umi Uswatun mengangguk mengiyakan dengan menggandeng Nenek Widya karena dia juga mau ikut membawa Soleha untuk menemui suaminya.


Tidak lama kemudian, Soleha sudah digandeng. Yang diapit oleh Nenek Widya dan Umi Uswatun.


Dengan tatapan sedikit tertunduk, Soleha perlahan melangkah menuju suaminya. Tidak ada hentinya dia bershalawat untuk memberikan kekuatan padanya atas situasi yang sangat menegangkan.


Wajah Soleh sedikit terangkat kala Umi Uswatun menyerahkan tangannya pada sosok pria yang sudah berdiri didepannya dengan wajah yang begitu tampan nan rupawan.


Deg


Ada desiran halus pada hati keduanya ketika tatapan mereka saling beradu, bersamaan dengan tangan mereka untuk yang pertama kalinya saling menyentuh.


Mereka terdiam sejenak dengan posisi yang begitu nyaman bagi keduanya, untuk sama-sama merasakan hal pertama yang baru saja menyapa hati keduanya.


Sampai Umi Firdaus dan Daddy Fahmi yang berdeham untuk menyadarkan keduanya.


"Astaghfirullah..." Ucap Soleha begitu lirih. Sehingga tidak ada yang akan mendengarnya.


Soleha dan David duduk berdampingan. Keduanya diminta untuk menandatangani dokumen pernikahan.


Setelahnya David di minta untuk memasangkan cincin di jari manis Soleha diiringi riuh tepuk tangan dari tamu undangan yang sudah hadir.


Begitu juga Soleha memasangkan cincin pada jari manis David yang diakhiri dengan mengecup punggung tangan David dengan begitu takzim.


David memegangi kepala Soleha lalu mengecup pucuk kepala Soleha untuk beberapa saat, yang dibantu Abi dan Umi dengan melafalkan doa. Kemudian kecupan itu berakhir pada kening Soleha.


Tamu undangan yang hadir diminta untuk bisa menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Karena David dan Soleha akan berganti pakaian sekalian makan sebelum mereka melanjutkan pada acara resepsi.

__ADS_1


"Ayo Soleha, Nenek bantu!." Soleha mengulurkan tangan pada Nenek Widya, dan tangan satunya lagi disambut oleh Mommy Bella selaku ibu mertuanya.


Sedangkan Nenek meminta David untuk berjalan di belakang mereka. Sedari tadi pikiran David mencari cacat yang dimaksud oleh sang Nenek. Tapi dia belum menemukan apa pun.


"Ah masa iya aku harus malam pertama dulu baru tahu cacatnya dimana?." Batin David sambil memegang tengkuknya.


"Terima kasih Nenek, Mommy." Ucap Soleha sambil berjalan perlahan.


"Sama-sama sayang." Balas Nenek Widya dan Mommy Bella bersamaan.


Nenek dan Mommy Bella begitu telaten dalam membantu Soleha menuju kamarnya.


Sampai di depan pintu kamar, Nenek menyerahkan tangan Soleha pada David lalu Mommy Bella membantunya membuka pintu kamar. Dan mempersilakan sepasang suami istri itu untuk masuk.


"Kalau sudah makan, kabari Nenek supaya Nenek bisa mengabari MUA nya untuk mengganti pakaian kalian." Ucap Nenek Widya sebelum menutup pintu.


"Iya Nek." Jawab David yang kemudian mengunci pintunya.


David kembali membantu Soleha untuk duduk di tepi tempat tidur yang sudah dihias oleh kelopak bunga mawar merah dan putih.


"Aku tidak mau dipanggil akang, ingat itu!." Kata pertama yang meluncur dari bibir suaminya. Sebuah perintah yang tidak bisa diganggu lagi.


"Kamu bisa memanggil ku dengan nama David atau Willi terserah pada mu." Lanjut David yang masih berdiri di hadapan Soleha.


"Aku bisa memanggil apa pada mu?."


"Kamu bisa memanggil ku, Soleha atau pun Leha."


"Baik aku akan memanggil mu dengan nama Leha."


"Iya tidak apa-apa."


"Terus kamu akan memanggil apa pada mu?."


Soleha tampak berpikir, karena bingung harus memilih nama panggilan untuk suaminya.


"Dari pada lama, kamu panggil aku dengan nama David saja. Seperti yang lain."


"Iya, itu lebih baik."


Kemudian David ikut duduk di sebelah Soleha setelah tidak menemukan hal aneh dari diri Soleha. Atau mungkin pikirannya benar, harus menelanjangi sang istri dulu baru bisa mengetahuinya.

__ADS_1


"Kamu mau makan?." Tanya Soleha menawarkan makanan yang ada di sebelah tempat tidur.


"Aku tidak lapar, kamu saja yang makan. Mau aku ambilkan?." Tawar David sambil berdiri hendak mengambil makanan untuk Soleha.


"Tidak usah David, terima kisah. Aku bisa mengambilnya sendiri." Tolak Soleha yang tidak sengaja menyentuh tangan David. Sehingga pandangan keduanya pun saling bersitatap untuk beberapa lama.


"Maaf." Ucap Soleha sambil menurunkan tangannya.


"Kenapa harus minta maaf, bukannya sekarang kita sudah sah untuk saling memiliki?."


Soleha mengangguk membenarkan. Kalau pun nanti malam harus terjadi, itu sudah menjadi kewajibannya.


"Cepat lah makan, kita masih harus berganti pakaian untuk menyambut para tamu."


"Iya."


Soleha segera mengisi piring dengan makanan yang sedikit, hanya untuk mengganjal rasa laparnya saja.


David segera memberitahu sang Nenek kalau mereka sudah selesai makan. Kemudian sang Nenek membawa mereka untuk berganti pakaian di ruangan MUA.


David meminta satu ruangan dengan Soleha ketika dia melihat ada pria lain di dalam ruangan MUA itu.


"Iya Tuan David, silahkan." Ucap MUA nya.


Soleha yang sedang dibantu melepaskan kebaya pun cukup kaget dengan kedatangan David.


"Aku yang akan membantu istri ku melepas kebayanya." David meminta mereka keluar dari ruangan tersebut yang hanya di sekat oleh gorden.


"Apa kamu bisa?." Tanya Soleha sangat grogi, bukan karena menyangsikan kemampuan suaminya.


"Membuka semuanya saja aku bisa." Balas David dengan senyum jahil yang tercetak dari bibirnya.


Soleha hanya mampu menghela nafas panjang mendengar ucapan David yang cukup berani.


Entah sejak kapan David bisa membual seperti ini. Padahal selama dia hanya mempedulikan kepulan asap kenalpot dari motornya saja.


Dengan posisi David yang sudah berada di belakang tubuh Soleha, perlahan kedua tangannya membatu melepaskan kancing yang terpasang di belakang kebaya.


Tatapan keduanya kembali saling beradu pada pantulan cermin yang ada didepannya.


Sampai pada kancing yang paling bawah, Soleha segera memegang kebaya bagian depannya.

__ADS_1


"Kamu tangan saja, aku akan memanggil MUA nya." David segera keluar untuk meminta bantuan pada MUA wanita.


Usai memanggil MUA, David tidak ikut masuk lagi. Dia menunggu di luar sambil sesekali mengintip dari celah gorden. Meski tidak terlalu jelas tapi dia bisa memastikan jika kulit Soleha cukup putih.


__ADS_2