
Untuk merayakan kemenangan mutlak David, semua anggota melakukan konvoi untuk melanjutkan perjalanan pagi ini menuju lokasi yang sudah pernah mereka datangi sebelumnya. Karena tempat itu memiliki pemandangan yang sangat cantik nan eksotik.
Sementara itu di rumah sakit, David sudah terbaring lemas dengan luka yang ternyata cukup parah. Sehingga mau tidak mau dia harus menunda kepulangannya menemui sang istri.
Jangan kan pulang ke tempat istri, pulang ke rumah menemui Nenek Widya saja David tidak bisa.
Namun Jack sudah mengirimkan pesan pada Soleha dan Nenek Widya dari ponsel David tentang David yang tidak bisa pulang karena pekerjaannya yang belum selesai.
Akhirnya David dapat membuka kedua matanya setelah dua jam tidak sadarkan diri.
"Leha..." Kata pertama yang keluar dari mulutnya. Namun David tidak melihat sosok bidadari yang sudah menyelematkan hidupnya.
"Tuan David." Jack mendekat sambil menyerahkan ponselnya. Jack menunjukkan layar ponselnya dimana ada pesan balasan dari Soleha dan Nenek Widya.
"Minta lah Rudi ke sini dan kau bisa pulang untuk mengurus yang lain." Perintah David untuk sang asisten.
"Baik Tuan David." Jack langsung pamit undur diri dari hadapan David untuk membiarkan tuannya beristirahat atau pun bekerja dengan ponsel pintarnya.
Ingin sekali David menghubungi Soleha dengan melakukan video call supaya dia bisa melihat bidadari cantiknya. Tapi dia langsung melihat wajahnya dari layar kamera, sangat tidak memungkinkan dirinya melakukan video call.
David harus puas ketika hanya bisa menelepon soleha dengan sambungan telepon biasa.
"Assalamu'alaikum..." Soleha menjawab panggilan telepon dari David dengan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam..." Balas David sambil membetulkan posisi selang infus yang melilit pergelangan tangannya.
"Maaf aku belum bisa membawa mu pulang ke rumah kontrakan kita."
"Iya tidak apa-apa. Kamu kan sudah menjelaskannya karena pekerjaan."
"Lalu kuliah mu?."
"Kalau kamu izin kan, aku akan berangkat seperti biasa dengan mengendari motor. Dan untuk tiga hari ke depan aku sudah harus mengajar les anak-anak didik aku."
David diam sejenak, karena tiba-tiba saja dadanya terasa sakit dan sesak. Sehingga Soleha mendengar David bernafas dengan cukup berat.
"David..." Panggil Soleha.
"Hem."
__ADS_1
"Kamu baik-baik 'kan?."
"Hem, nanti aku telepon lagi." David langsung saja memegangi dadanya sehingga ponselnya harus lepas dari genggamannya dan terjatuh membentur lantai hingga retak.
Untung saja Rudi datang tepat waktu, hingga bisa memanggil dokter yang ditemuinya untuk segera menolong temannya itu.
Soleha yang masih merasa khawatir atas keadaan David namun tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Bibi Elis yang bekerja di rumah David.
Karena Bibi Elis tidak mengangkat teleponnya, Soleha mencoba menghubungi Mang Maman, namun sama tidak ada jawaban.
"Bismillah, mudah-mudahan Nenek Widya bisa aku telepon." Gumam Soleha lirih sambil langsung menghubungi no Nenek Widya. Tapi sayang dia harus kecewa karena Nenek Widya pun tidak ada mengangkat teleponnya.
Soleha hanya diam di dalam kamar setelah usahanya tidak membuahkan hasil dengan gerakan bibir yang terus saja memanjatkan doa untuk sang suami.
Kenapa Soleha tidak bisa menghubungi ketiga orang tersebut?. Karena ternyata di waktu yang bersaman Nenek Widya harus ke rumah sakit karena sakitnya David sampai juga ke telinganya. Dan tentu saja Mang Maman dan Bibi Elis ikut untuk menemani Nenek Widya karena kedua orang tua David sedang berada di luar negeri. Mereka pergi tanpa ada yang membawa ponsel satu pun karena saking paniknya.
Nenek Widya yang sudah sampai di rumah sakit, langsung saja menuju kamar inap dimana David di rawat.
Air matanya tiba-tiba saja turun ketika melihat kondisi David yang cukup memprihatinkan.
"Bagaimana ini bisa terjadi?." Tanya Nenek Widya pada Rudi yang ada di sana.
Rudi sendiri kelimpungan untuk menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya ini. Kalau jujur takut nanti masalah untuk David, tapi kalau bohong juga tidak enak harus membohongi orang tua.
"Tapi bukan karena balapan 'kan?."
"Bukan, Nek."
Nenek Widya duduk di sebelah David yang kembali tidur karena obat yang diberikan oleh Dokter.
"Apa lukanya parah?."
"Tadi Dokter bilang, cukup parah. Mudah-mudahan dalam waktu satu Minggu ke depan, keadaan David sudah membaik."
"Terima kasih kau sudah menjaganya. Sekarang pulang lah karena sudah ada kami di sini." Ucap Nenek Widya sambil mengangkat wajahnya menatap Rudi. Wajah yang dikenalnya karena sudah beberapa kali Rudi mendatangi David di rumah.
"Baik, Nek. Aku pamit. Sampai salam ku kalau David sudah sadar."
"Iya."
__ADS_1
Setelah mendengarkan Nenek bicara, Rudi pun meninggalkan ruangan David.
Mang Maman dan Bibi Elis duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Keduanya baru menyadari jika dari mereka tidak ada yang membawa ponsel. Padahal pikiran mereka saat ini sedang tertuju pada Soleha, yang menjadi istri dari David, tuan mereka.
"Bibi Elis, mana ponsel ku?." Tanya Nenek Widya menoleh pada Mang Maman dan Bibi Elis.
"Maaf Nyonya, karena tadi saya terburu-buru jadi saya lupa tidak membawa ponsel atau pun tas Nyonya."
Nenek Widya hanya tersenyum atas situasi mereka saat ini. Tidak ada yang harus disalahkan untuk keteledoran ini. Karena semua orang pasti panik jika berada di posisi mereka saat ini.
"Coba aku pakai ponselnya David." Nenek Widya meraih ponsel yang sudah retak itu, berharap masih bisa digunakan. Tapi sayang ponselnya di kunci sehingga Nenek Widya tidak bisa menggunakan ponsel milik David.
Ketika mereka tidak bisa melakukan apa pun, tiba-tiba pintu terbuka dan datanglah Jack dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka.
"Jack, kau tahu cara membuka ponsel David?." Nenek Widya menyodorkan ponsel David.
Dengan cepat Jack membuka kunci ponsel David sehingga bisa terbuka. Dan Nenek Widya bisa melihat panggilan terakhir yang dilakukan oleh David adalah menghubungi Soleha.
Tanpa berlama-lama lagi Nenek Widya langsung menghubungi Soleha.
"Assalamu'alaikum Soleha...." Nenek Widya langsung mengucapkan salam saat Soleha menjawab teleponnya.
"Wa'alaikumsalam Nenek...."
Kerja detak jantungnya Soleha sangat cepat, tiba-tiba sekelebat bayangan jelek melintas di dalam benaknya.
"Leha...."
"Iya Nek."
"Mang Maman dan Bibi Elis akan menjemput mu besok. Karena David meminta ditemani oleh kamu. Pekerjaan David masih belum ada yang selesai, siapa tahu dengan adanya kamu di sini bisa membantu pekerjaannya cepat selesai."
"Iya Nek, insya Allah aku bisa ke sana."
"Ya udah nanti kamu hati-hati ya. Salam sama Umi dan Abi."
"Iya Nek."
"Assalamu'alaikum Soleha..."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Nek..."
Soleha beristighfar ratusan kali untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba gelisah dan menerka-nerka apa yang terjadi.