David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)

David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)
Bab 8 David dan Soleha


__ADS_3

David dan Soleha sudah duduk di atas pelaminan dengan pakaian yang berbeda. Keduanya sungguh seperti raja dan ratu yang ada dalam dongeng-dongeng.


Kedua orang tua dari kedua mempelai pun turut duduk mengapit pengantin baru itu. Termasuk Nenek Widya yang duduk tidak jauh dari David. Untuk selalu mengingatkan David jika ada hal yang sekiranya tidak pantas dilakukan.


Sepanjang resepsi berjalan, David dan Soleha tidak pernah berhenti untuk menebarkan senyum kebahagiaan. Sehingga mereka yang melihat sepasang pengantin itu, mereka menikah karena saling mencintai bukan karena dijodohkan.


Hampir tujuh jam David dan Soleha duduk mau pun berdiri di atas pelaminan, menerima semua tamu undangan yang datang dari semua berbagai kalangan.


Meski pun begitu Soleha tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Dia meminta bantuan pada MUA, supaya bisa melaksanakan shalat pada setiap waktunya dan kemudian di rapikan kembali riasannya.


Tamu undangan sudah tidak ada lagi saat jarum jam di Ballroom itu menunjukkan pukul 22.15 WIB.


Satu persatu keluarga mulai meninggalkan area Ballroom, termasuk Abi dan Umi, Mommy Bella dan Daddy Fahmi serta Nenek Widya.


Yang terakhir ya hanya sepasang pengantin itu.


David membantu Soleha dengan menggandeng tangannya menuju kamar mereka.


Sesampainya di sana, David segera melepaskan pakaiannya tanpa kendala apa pun. Berbeda dengan Soleha yang memerlukan bantuan orang lain untuk melepaskan gaun pengantin yang menjadi miliknya tersebut.


Namun Soleha tidak kehabisan akal, dia mulai melepaskan aksesoris yang menempel pada hijabnya. Sehingga dia bisa membersihkan wajahnya dari make up yang cukup tebal namun tidak water proof.


David tidak mengulurkan bantuan ketika melihat kesusahan yang dialami oleh Soleha. Dia malah menontonnya secara tidak langsung, karena dia hanya sesekali mengintipnya.


Karena sudah tidak mungkin untuk melepaskan gaun mahal nan cantik yang masih membalut tubuhnya. Soleha pun mengambil ponsel hendak menelepon Umi untuk meminta bantuan.


Akan tetapi hal itu terlihat oleh David sehingga David melarang Soleha untuk menelepon Umi dan sebagai gantinya dia bersedia untuk membantu Soleha membuka gaunnya.


Wajah natural Soleha memang sangat cantik ketika David melihatnya dari jarak yang sangat dekat.


Tangan David mulai bekerja membuka resleting yang dilapisi oleh beberapa kancing disepanjang resletingnya.


Saat gaun indah itu jatuh ke atas lantai, Soleha masih bisa merasa aman karena dia memakai dalaman berupa pakaian yang tipis tapi tidak menerawang hingga masih bisa menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak kegerahan mengenakkan pakaian berlapis seperti ini?." David memperhatikan bagian belakang tubuh Soleha.


"Tidak, aku sudah terbiasa memakai ini." Jawab Soleha sambil mengambil gaun itu lalu menggantungnya.


"Aku lapar, kamu mau makan enggak?." David duduk di sofa sambil melihat Soleha yang entah mau melakukan apa lagi. Apa dia akan membuka sisa pakaian di depan dirinya atau apa?.


"Kamu lapar?." Soleha menatap David dengan wajah yang begitu tenang walau terlihat sekali dia begitu kelelahan.


"Hem." Jawab David singkat.


"Baik, aku akan menyiapkannya untuk mu." Soleha menuju meja diman letak makanan itu berada, lalu mendorongnya kehadapan suaminya.


"Aku belum tahu apa saja yang bisa kamu makan, jadi kamu tunjuk saja aku akan menyalinnya dalam piring ini." Ucap Soleha sembari melihat banyak menu makanan.


David menunjuk beberapa makanan yang biasa dimakannya, kemudian Soleha dangan telaten mengambil makanan itu dan menyalinnya ke dalam piring yang sudah disiapkan.


Ketika piring berisi makanan itu sudah ditangan David, Soleha mengambil botol air mineral lalu diletakkan di depan David. Begitu juga dengan Soleha yang berdiri di sebelah David.


"Kamu tidak makan?."


"Tidak, aku masih kenyang."


"Kenapa kamu masih berdiri di situ?."


"Aku sedang menunggu mu, mungkin setelah ini kamu membutuhkan sesuatu dari ku, atau bisa aku ambilkan sesuatu untuk mu."


David meletakkan piringnya dengan tatapan yang begitu intens pada Soleha. Apa benar dia seistimewa itu?, hingga Soleha mau menunggunya sampai semua kebutuhan dirinya terpenuhi.


"Apa kamu akan melayani ku di atas ranjang pada saat ini juga jika aku memintanya dari mu?." Ucap David dengan begitu lantang dan tegas.


"Iya, aku bersedia. Karena itu sudah menjadi tugas ku untuk melayani mu. Selama dengan cara-cara yang baik pula kamu melakukannya." Tanpa gentar Soleha memberikan jawabannya.


"Kamu tidak sedang menantang ku 'kan?."


Soleha menggeleng dengan tatapan yang tertuju pada raut wajah pria yang sudah menjadi suaminya.

__ADS_1


"Untuk apa aku menantang mu?." Tanya balik Soleha namun tidak mendapatkan respon dari David.


"Aku melayani mu karena kamu memang suami yang harus aku layani baik di dapur, di sumur dan di tempat tidur." Lanjut Soleha.


"Baik lah, persiapkan diri mu dengan sangat baik. Karena aku akan meminta hak ku pada mu malam ini juga." Ucap David yang kembali mengambil piring dan menghabiskan sisa makanannya.


Soleha pergi ke dalam kamar mandi dan menyiapkan segalanya untuk malam mereka.


Tidak berselang lama, Soleha sudah keluar dengan penampilan yang begitu cantik, menarik, wangi dari ujung rambut hingga ujung kaki.


David yang melihat penyajian yang begitu luar biasa istimewa, sangat sempurna bagi mata pria normal sepertinya, tidak bisa menolak kecantikan ragawi dari sang istri.


Hingga hanya dalam hitungan detik saja, David sudah dengan penampilan yang begitu tampan, gagah dan tidak kalah wangi untuk mengimbangi suguhan dari diri Soleha.


Malam ini pun mereka melakukan penyatuan atas dasar hak dan kewajiban, karena mereka sadar belum hadirnya cinta diantara keduanya.


Hanya cukup dua kali saja David menggauli istrinya, karena dia juga begitu berusaha payah untuk bisa menjebol batas kesucian sang istri.


"Kamu mau kemana?." Tanya David ketika melihat Soleha hendak turun dari tempat tidur.


"Aku mau langsung mandi, karena di dalam ada air hangat." Jawab Soleha sudah mengenakan lengkap pakaiannya.


"Kenapa tidak besok pagi saja?." David sudah turun mendekati Soleha sebab hendak membantunya.


"Kan aku sudah bilang, karena di dalam kamar mandi ada fasilitas air hangat. Jadi insya Allah aku tidak akan kedinginan atau pun sakit besok pagi."


"Ya sudah, aku juga akan ikut mandi bersama mu."


"Kita mandi bergantian saja!."


"Memangnya kenapa kalau kita mandi bersama?. Bukannya kita baru saja menyatu."


"Tapi kan itu beda!."


"Apanya yang berbeda?, sama-sama kita telanjang, tapi tempatnya saja yang berbeda."

__ADS_1


Soleha menghela nafas panjang ketika perdebatan itu tidak menemukan ujungnya. Dan kakinya sudah melangkah karena di dorong David dari belakang.


Mereka pun mandi bersama di malam itu.


__ADS_2