David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)

David & Soleha (Ketua Geng Motor Itu Suami Ku)
Bab 22 David dan Soleha


__ADS_3

Perjalanan menuju kampung Soleha pun di mulai. David mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan. Soleha sudah pasrah sambil duduk di kursi penumpang dengan mulut yang tidak pernah berhenti berdoa dan berdzikir, memohon keselamatan untuk mereka bertiga.


Terlihat ada kilatan petir, sepertinya hujan akan turun malam ini.


Benar saja, hanya berselang lima menit. Hujan turun dengan begitu deras, sehingga pandangan Soleha dan David sedikit terganggu. Bermodalkan keahliannya berkendara, David masih bisa melajukan mobilnya di bawah guyuran air hujan yang sesekali di barengi dengan kilatan petir.


Semuanya masih ada dalam kendali David, ketua geng motor yang dijuluki penakluk jalanan. Namun dalam jarak beberapa kilo meter di depan, tiba-tiba saja David kehilangan keseimbangan.


"Astaghfirullah, David. Hati-hati." Ucap Soleha memperingati David, tapi rupanya David sudah tidak bisa mengendalikan mobilnya sendiri.


Sampai mobil oleng dan menabrak pembatas jalan, untung saja tidak sampai berpindah jalur.


Brak


David dan Soleha sama-sama hilang kesadaran.


.


.


.


David sudah sadar terlebih dahulu. Dia melihat sekeliling dan dia menyadari bahwa saat ini dia sudah berada di ruangan rumah sakit. Mungkin warga sekitar yang sudah membawanya ke sani.


Dia mencari keberadaan Soleha yang tidak dilihatnya.

__ADS_1


"Wanita yang mengalami kecelakaan bersama ku, dimana dia?." Tanya David pada perawat yang akan memberinya obat.


"Istri bapak sedang di ruangan bersalin." Jawab Perawat seadanya.


"Tapi kenapa?. Apa lukanya sangat serius?." Tanya David khawatir.


Perawat tersenyum lalu merapikan selang infus. "Nanti biar dokter saja yang menjelaskannya, saya permisi."


Setelah menyelesaikan tugasnya, perawat itu lalu pergi dari sana.


Perasaan David bercampur aduk, ada perasaan takut, khawatir, menyesal, cinta, rindu pada sosok sang istri.


"Aku akan minta maaf pada mu, dan memperbaiki pernikahan kita." Gumamnya lirih.


Hampir satu jam lamanya, batu lah Soleha di bawah ke ruangan bersaman dengan David.


Soleha masih tidur karena pengaruh obat bius.


"Dokter...." Panggil David ingin menanyakan kondisi Soleha.


"Anda suami dari Nyonya Soleha?." Tanya Dokter untuk lebih memastikan.


"Iya dokter sama suaminya."


"Kami mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkan janinnya."

__ADS_1


"Maksud dokter?."


"Calon bayi kalian sudah tidak ada, karena benturan yang sangat keras. Sementara kandungan istri anda juga begitu lemah."


David menyerahkan hasil USG yang diambilnya sebelum keluar dari rumah kontrakan. Dia meminta dokter untuk membacakan apa isi dari USG tersebut.


Dengan terperinci dokter pun menjelaskan, David cukup terperangah dengan hasilnya.


Deg


Kerja jantungnya lebih cepat dari biasanya,


"Jadi benar itu anak ku, anak kami." Gumamnya lirih.


Dokter segera pergi setelah menjelaskan dan menjawab apa yang ingin diketahui oleh David.


"Apa kamu akan memaafkan aku, Leha?. Karena kecemburuan ku, kita harus kehilangan calon bayi yang baru saja tiga Minggu ada di rahim mu?." David menatap wajah cantik sang istri. Dimana ada luka memar di bagian dahi, luka gores pada beberapa bagian tangan.


"Maaf kan aku, Leha." Ucap David penuh sesal.


Cukup lama Soleha terlelap dalam tidurnya. Hingga saat dia bangun, David sudah memejamkan matanya karena mengantuk setelah meminum obat.


Soleha membuka mata, menatap David yang berbaring bersebelahan dengan dirinya.


"Ini akhir perjalanan rumah tangga kita yang baru kita mulai." Soleha mengelus perut sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2